Ketika trailer dari Batman Ninja dirilis saya kegirangan. Menyatukan salah satu superhero favorit saya sepanjang masa dan medium animasi yang saya cintai: kolaborasi ini pasti epik. Saya makin ngiler ketika melihat design dari Batman, Joker, Robin, Catwoman, dan karakter-karakter lain dalam jaman feudal Jepang. Reimajinasi dari karakter-karakter Batman yang didesign oleh Takashi Okazaki (designer Afro Samurai) benar-benar sangat keren.

Lantas saya menonton filmnya dan… menjadi sangat kecewa olehnya. Loh kenapa? Mari saya tuturkan alasannya.

3
Begini bisa kacrut? Masa si?

Film ini dibuka dengan eksperimen yang salah oleh Gorilla Grodd. Eksperimen ini mengirim para musuh utama Batman seperti Poison Ivy, Joker, Two-Face, dan lain-lain juga para sekutu Batman seperti Alfred, Robin, Red Robin, Red Hood pada era feudal Jepang dahulu kala. Ketika sampai ke sana setiap penjahat langsung mengambil wilayah mereka sendiri-sendiri dan membangun kekuatan untuk berperang. Ketika Batman tiba dua tahun kemudian (karena kesalahan teknis mesin waktu) kubu Joker dan Harley Quinn nyaris memenangkan pertarungan menguasai seluruh Jepang.

Bisakah Batman dan sekutu-sekutunya menghentikan ambisi jahat Joker menguasai Jepang dan mengubah sejarah dunia?

Plot yang tidak masuk akal di atas masih bisa saya terima, toh namanya juga komik. Tapi film animasi ini seperti kesulitan menentukan identitas mereka. Apakah mau jaman sejarah yang benar-benar sejarah (ala The Last Samurai) atau fantasi sejarah (ala 47 Ronin). Ambil contoh awal tibanya Batman dalam dunia ini di sebuah desa Jepang dan banyak referensi sejarah yang ada membuat film ini terasa realistik. Lantas kemudian mendadak Batman bisa memakai Batmobile untuk melawan Joker yang mendadak membuat bentengnya bisa BERJALAN.

Masih di tengah kepusingan saya dengan tone yang begitu berbeda, mendadak film ini juga memutuskan untuk mengambil detour dengan menunjukkan sosok Joker dan Harley Quinn yang amnesia dan menjadi baik – hanya untuk membuat mereka menjadi jahat kembali dua menit kemudian setelah berhasil menipu Batman yang menyangka mereka benar-benar menjadi baik. Hah? Apa-apaan ini? Dan lebih buruknya lagi klimaks dalam film ini mendadak berubah menjadi Power Rangers di mana para musuh Batman menjadi robot Joker raksasa dilawan oleh Batman dan sekutu-sekutunya yang memakai gabungan para monyet dan kelelawar menjadi Batman raksasa.

2
Joker the Daimyo

Sungguh saya tidak bohong. Saya sendiri merasa penulis naskah film ini pasti lagi mabuk ketika menulis naskahnya. Dan mereka yang ada di DC dan memberi proyek ini lampu hijau pasti juga sedang sama mabuknya.

Di luar semua jalan cerita yang absurd dan tidak masuk akal itu paling tidak saya masih mengacungkan jempol dengan gaya animasi Batman Ninja yang cantik. Tak hanya redesign karakter dalam film ini saja yang cantik tetapi juga bagaimana ilustrasi dan gaya animasi di keseluruhan film yang sangat berbeda dengan animasi-animasi DC biasanya. Sungguh sayang bahwa kualitas teknis dalam film ini tak didukung dengan jalan cerita yang sama apiknya.

Dengan karakter-karakter yang bertingkah out of character dan jalan cerita yang absurd, sungguh satu-satunya nilai penyelamat dari film ini hanya pada kualitas teknisnya semata. Daripada buang-buang waktu menonton film ini, lebih baik beli saja Action Figure karakter-karakter di dalamnya.

4
Looks cool, but that’s it.

Score: C-

3 Comments

Leave a Reply