Apakah Visual Novel bisa disebut sebagai sebuah game? Hal ini terkadang masih diperdebatkan oleh para gamer. Sebabnya, game-game Visual Novel tidak banyak memberi kebebasan bagi para gamer melakukan apapun selain… membaca cerita yang sudah ditetapkan. Apabila ada beberapa pilihan yang diberikan kepada gamer, itu biasanya lebih pada pilihan untuk memilih salah satu dari banyak skenario dating yang telah disiapkan oleh para developer game. Tentu saja belakangan format Visual Novel ini beberapa kali dicoba didobrak oleh para developer. Salah satu contoh yang terkenal adalah Mystic Messenger yang sempat menjadi aplikasi virtual dating yang populer satu dua tahun lampau.

Salah satu game yang mendobrak tradisi Visual Novel lainnya adalah Doki-Doki Literature Club. Apa yang membuat Doki-Doki Literature Club menjadi sebuah indie game yang banyak dibicarakan tahun lalu adalah bagaimana ia merevolusi genre Visual Novel – baik dari segi cerita maupun segi gameplaynya. Mengingat daya tarik dari Doki-Doki Literature Club adalah twistnya itu sendiri, review non-spoiler dari game ini hanya akan saya tuntaskan dalam beberapa kata saja:

Mainkan game ini. Ia tidak panjang (hanya sekitar 4 – 5 jam) dan kalian takkan menyesal memainkannya. Setelah kalian memainkannya, silahkan kembali lagi pada review ini untuk membaca review post-game yang berisi spoiler di dalamnya.
Sudah?

Dua hal yang paling membuat saya salut dengan Doki-Doki Literature Club adalah keberaniannya mengangkat tema cerita yang tidak lazim dan sistem gameplaynya yang jauh lebih kompleks daripada game Visual Novel biasanya.

Untuk tema ceritanya, Doki-Doki Literature Club mengawali game ini ala Visual Novel kebanyakan, ia memperkenalkan kalian kepada empat gadis dari klub literatur yang masuk dalam trope genre kebanyakan gadis anime. Ada teman masa kecilmu yang ceria, junior yang suka marah-marah tapi imut, seorang gadis yang pendiam dan pemalu, dan yang terakhir kepala klub senior yang lebih matang secara emosi. Kalau kalian kerap mengikuti anime / manga, tipe-tipe gadis seperti ini sudah sering sekali kalian temui. Dan selama dua jam pertama kalian akan mengenali gadis-gadis ini lebih lanjut.

Awal satu jam pertama mungkin terasa membosankan karena kalian hanya mencoba membuat puisi demi menjadi lebih dekat dengan gadis-gadis itu, tetapi pembaca yang jeli akan mulai menangkap keanehan-keanehan dari setiap gadis yang ada. Gadis-gadis ini akan menunjukkan ‘muka’ mereka yang sesungguhnya semakin kamu mengenal mereka. Si gadis yang tampaknya selalu ceria itu mungkin hanya pura-pura ceria di depan walau sebenarnya dalam hati ia depresi. Si gadis yang tampaknya matang secara emosional itu mungkin diam-diam memiliki sikap posesif terhadapmu. Dan semakin lama ada rasa creepy yang merayap pelan-pelan… dan simfoni ketegangan itu memuncak pada akhir playthrough pertama.

Keberanian dari Doki-Doki Literature Club mengangkat tema dewasa ini adalah satu hal yang saya acungi jempol. Saya tahu ada cukup banyak Visual Novel yang berani mengangkat tema-tema dewasa dalam cerita mereka, tetapi Doki-Doki Literature Club mendapat nilai plus di mataku karena menggabungkan tema serius ini dalam genre horor, sesuatu yang berbeda dari… katakanlah Narcissu, salah satu Visual Novel bagus lain yang juga mengangkat tema dewasa.

doki 3
Dia imut ya?

Memulai playthrough kedua dari game ini, selain jalan cerita yang semakin twisted, Doki-Doki Literature Club juga memperkenalkan sistem gameplay yang walau sederhana, cukup berbeda dari kebanyakan Visual Novel lainnya. Tidak hanya kamu memilih jawaban-jawaban seperti biasanya kamu juga mengalami glitch dalam program, pesan-pesan error, sampai pada akhirnya kamu dipaksa mengutak-atik file di dalam komputermu untuk benar-benar menamatkan game ini. Sebelum memainkan game ini, saya pernah berpikir kenapa Doki-Doki Literature Club tidak dirilis dalam format iOS maupun Android, setelah memainkannya saya menjadi lebih paham. Bukan tidak mungkin memport game ini dalam format mobile tetapi saya merasa appeal dari game ini (dan pesan yang ingin disampaikan) sedikit banyak akan berkurang atau hilang dalam proses port tersebut.

Pada akhirnya, Doki-Doki Literature Club adalah sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Ia memberi bukti bahwa game Visual Novel sekalipun bisa tampil cerdas dan berbeda dari norma-norma normal biasanya. Ijinkan saya menutup review ini dengan dua kata:

doki 1
Monika saja ya?

Just. Monika.

Oh yes, you know I’ve gotta do that.

Score: 8.5
Dennis telah mencoba memainkan Doki-Doki Literature Club sampai beberapa kali untuk mendapatkan berbagai ending yang ada. Dan ia hanya ingin bilang kepada kalian semua JUST MONIKA. JUST MONIKA. JUST MONIKA. JUST MONI…

Leave a Reply