Saya akui bahwa alasan saya pada awalnya tidak mau menonton A Wrinkle in Time sama sekali tak berkaitan dengan filmnya sendiri, tetapi karena gegap gempita berlebihan dari gerakan #metoo. Tanpa perlu menjelaskan lebih lanjut saya menganggap bahwa gerakan yang awalnya bertujuan mulia itu menjadi semakin gila setelah berbagai artis asal bunyi saja menuntut keadilan yang tak sepatutnya mereka dapatkan. Kalian boleh setuju dan boleh tidak dengan pendapat saya, yang jelas saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan uang guna menonton A Wrinkle in Time.

Waktu berlalu dan saya mendapatkan kesempatan menonton film ini di dalam pesawat terbang. Ketimbang tak ada tontonan, ya sudahlah, kenapa tidak? Jadi apa pendapat saya mengenai film yang diadaptasi dari novel karya Madeleine L’Engle itu?

2
The Three Holy Woman?

Banyak yang mengatakan bahwa film A Wrinkle in Time ini kurang lebih mirip dengan Earthsea, sebuah seri novel fantasi yang tak mudah diubah menjadi film. Dan saya bisa melihat kesulitan itu. Ava DuVernay saya percaya adalah seorang sutradara yang kompeten tetapi ia kesulitan menghidupkan dunia fantasi visi L’Engle. Yang ada di layar rasanya hanyalah dunia fantasi generik, sesuatu yang sudah pernah kita lihat sebelumnya dalam film seperti Alice in Wonderland. Penuh warna memang tetapi hambar isinya.

Film ini dibintangi oleh banyak artis terkenal mulai dari Chris Pine hingga Reese Witherspoon hingga Zach Galifianakis. Toh nama terbesar yang ada di sini jelas Oprah Winfrey. Sayangnya akting dari Winfrey sebagai Mrs Which terasa ala kadarnya saja di sini. Saya kok malah lebih fokus dengan baju dan kosmetiknya yang terus berubah di hampir setiap pergantian adegan. Untuk artis-artis lainnya pun mereka melakukan tugas yang cukup tetapi tidak meninggalkan impresi apapun. Walhasil tugas film ini untuk memikat kita jatuh kepada tangan sang aktor utama: Storm Reid yang berperan sebagai Meg Murry.

3
Not a successful MC

 

Dan ia tak berhasil. Storm memerankan sosok Meg sebagai seorang gadis yang terputus dari lingkungan luarnya, hal tersebut bisa mengerti mengingat apa yang terjadi pada dirinya sepanjang cerita. Pun begitu keputusan Storm memerankan Meg sebagai seorang gadis yang terlalu anti-sosial rasanya menjadi bumerang. Sebagai penonton saya lama-lama sulit bersimpati dengan sosok Meg yang kutu buku… dan seorang karakter utama yang tidak simpatik dalam sebuah film adalah nilai minus besar bagiku. Terlepas dari satu adegan reuni yang cukup menyentuh, film ini benar-benar terasa hambar secara emosi dan kaya visual efek semata.

Saya tidak tahu apa yang salah dengan A Wrinkle in Time. Mungkin ada beberapa buku yang lebih baik berada dalam format tertulis dan bukan ditayangkan di layar lebar, atau mungkin Disney perlu mencari sosok lain yang lebih imajinatif menghidupkan film bertema fantasi berat macam ini. Entahlah.

4
Maybe better read the novel?

Score: C

Leave a Reply