Anak-anak maupun remaja yang tumbuh di dekade lalu pasti tahu (kalau tidak malah menjadi fans) dari serial Avatar: The Last Airbender. Dengan tokoh utama Aang, Sokka, Katara, dan Toph, petualangan para jagoan yang bisa menguasai empat elemen dunia menjadi sebuah epik animasi tersendiri. Hingga hari ini kesukesan serial animasi itu tak dapat diulangi bahkan oleh sekuelnya: The Legend of Korra, yang berkualitas dan apik, tetapi dianggap lebih tak berimbang dan kalah memorable dibanding The Last Airbender. Oleh karena itu banyak pihak menggantungkan harapan pada The Dragon Prince sebagai spiritual successor dari Avatar: The Last Airbender.

Harapan itu tak mengherankan karena serial ini hadir dari duet Aaron Ehasz dan Justin Richmond. Ehasz adalah penulis utama dari Avatar: The Last Airbender (tapi tidak dengan The Legend of Korra) sementara Richmond adalah sutradara dari Uncharted 3: Drake’s Deception, serial game populer Naughty Dog. Kolaborasi keduanya membuat penggemar bertanya-tanya apa kiranya yang dihadirkan gabungan otak kreatif mereka?

images (8)
Magic

The Dragon Prince mengambil setting di sebuah dunia fantasi bernama Xadia di mana energi magis adalah sumber dari segala kehidupan. Mirip dengan The Last Airbender, dalam dunia ini energi magis mengambil sumber dari enam titik: matahari, bulan, bintang, bumi, langit, dan samudra. Akan tetapi manusia menemukan sumber baru dari kegelapan dan peperangan antara dunia manusia dan dunia elf (yang dibantu naga) pun pecah. Manusia secara paksa dibuang ke sisi lain dari benua Xadia di mana garis antara manusia dan makhluk-makhluk lain diciptakan dan dijaga oleh Raja Naga. Beberapa waktu berlalu dan garis perbatasan tersebut hancur karena sang Raja Naga dihabisi oleh kaum manusia. Secara lebih keji, telur naga yang masih belum menetas pun dibunuh, menyebabkan kaum elf murka dan mengirim Assassin terbaik mereka untuk balas dendam.

Kisah ini kemudian bermula saat seorang Assassin bernama Reyla diutus membunuh Raja Harrow, raja dari kerajaan Katolis, satu dari lima kerajaan utama manusia. Sementara grup Assassin yang berangkat bersama dengan Reyla tak ragu mencabut nyawa Raja Harrow, Reyla yang diutus menghabisi sang Putra Mahkota Pangeran Ezran tak sanggup melakukan tugasnya itu. Oleh karena keraguan ini keduanya bersama dengan Callum, kakak tiri Ezran, memutuskan untuk kabur… apalagi karena mereka menemukan bahwa telur sang Raja Naga belum dihancurkan dan masih tersembunyi dengan aman. Dimulailah petualangan Callum, Ezran, dan Reyla untuk pergi ke Xadia mencoba menghentikan perang yang akan pecah antara manusia dan suku lain dengan cara mengembalikan telur.

images (7)
Dark Magic

Ditilik dari ceritanya The Dragon Prince banyak terinspirasi dari dua serial fantasi populer: Game of Thrones (dengan naga dan intrik politik di dalamnya) ditambah dengan The Lord of the Rings (melakukan misi escort dengan tujuan membawa sebuah barang ke daerah lain); tentunya dengan penggarapan yang jauh lebih kid-friendly.

Sembilan episode dari The Dragon Prince ini walaupun kompeten, terasa singkat dan lebih seperti setengah ketimbang satu season. Sebagai contoh episode kesembilan dalam season ini terasa lebih seperti penutup mid-season finale ketimbang season finale. Saya menyebutkan ini karena ada penonton yang terganggu dan berharap mereka mendapatkan konklusi yang tuntas dalam season pertama. Apabila kalian tipe penonton seperti itu maka tidak, kalian tidak akan mendapatkannya. Berita baiknya tentu saja adalah serial ini sudah mendapatkan lampu hijau untuk produksi season keduanya. Saya banyak berharap bahwa season keduanya akan mendapatkan order jumlah episode yang lebih banyak.

Dua poin terkuat yang saya dapatkan dalam serial ini adalah karakter dan dunia di dalamnya. Ketiga karakter utama di dalam serial ini: Callum, Ezran, serta Reyla semua memiliki karakter yang berbeda-beda dan untunglah kepribadian mereka tak datar membosankan. Petualangan ketiganya dalam sembilan episode juga membawa mereka menemui ragam karakter yang masing-masing juga memiliki kepribadian masing-masing. Interaksi antara karakter-karakter ini, lengkap dengan debat pola pikir serta pandangan masing-masing membuat isu politik sosial yang diangkat dalam serial ini terasa mengena. Poin positif kedua dalam serial ini adalah dunia fantasi yang begitu luas dan menyimpan banyak sekali potensi untuk digali. Sepanjang season pertama saya merasa bahwa petualangan ketiganya baru menyentuh permukaan saja. Ada begitu banyak pertanyaan yang hadir di benak saya. Bagaimana tatanan masyarakat di Xandia sana? Sebesar apa pengaruh kerajaan Katolis dibandingkan kerajaan-kerajaan manusia lainnya? Ada suku elf apa saja di luar sana selain suku Reyla? Rasa penasaran itu baik adanya dan merupakan bukti bahwa serial ini telah mampu menjerat atensiku.

TDP-Poster-Final-sans-logo-720x1280
The Poster

Di sisi lain salah satu hal yang paling mengecewakanku adalah transisi sosok Viren yang di dua episode awal digambarkan sebagai tokoh yang abu-abu mendadak saja di episode ketiga dan seterusnya berubah total menjadi seorang penjahat. Ketimbang seorang tokoh penjahat yang sepenuhnya jahat hanya karena jahat, saya jauh lebih simpatik dengan sosok Viren di dua episode awal, di mana motivasi dan persahabatannya dengan Raja Harrow terlihat jelas. Tentu saja ada kemungkinan bahwa perubahan sifat Viren yang mendadak ini ada latar belakangnya (saya memiliki teori tersendiri) dan sangat berharap ada twist yang masuk akal menjelaskan perubahan sifat drastis ini di season-season berikutnya.

Satu poin yang sempat menjadi kontroversi penonton saat melihat serial ini adalah gaya animasinya. Gaya animasi The Dragon Prince memang tidak seperti kebanyakan animasi pada umumnya. Bukannya menggunakan teknologi hand-drawan animation seperti kebanyakan serial animasi, ia malahan menggunakan animasi 3D yang digambarkan ala 2D. Hasilnya terasa agak aneh dan gerakan-gerakan karakter ketika tak melakukan aksi terasa seperti terlambat dan terputus-putus. Saya pribadi tak terlalu mempermasalahkan gaya ini sebab tertarik dengan ceritanya, akan tetapi mereka yang menginginkan kualitas animasi yang cantik seperti Avatar: The Last Airbender apalagi The Legend of Korra harus bersiap-siap untuk kecewa. You won’t get that kind of animation here. Sekali lagi saya hanya bisa berharap Netflix mencurahkan budget lebih besar di season kedua untuk memperbaiki kualitas animasi serial ini.

images (6)
World of Elf?

Singkatnya, The Dragon Prince adalah sebuah animasi yang menyimpan dan menunjukkan potensinya di season pertama. Terlalu dini untuk mengatakan apakah animasi ini akan bisa berdiri sejajar dengan Avatar: The Last Airbender sebagai seri animasi Amerika terbaik sepanjang masa. Kita tunggu season kedua untuk melihat bagaimana potensi serial ini digali lebih lanjut!

Score: 8.0

Leave a Reply