Ketika proyek Venom pertama kali diumumkan dua tahun silam, banyak pihak mengernyitkan dahi. Buat apa lagi membuat sebuah film Venom apabila Spider-man sudah diintegrasikan secara menyeluruh ke dalam Marvel Cinematic Universe? Bukankah Venom adalah sosok villain Spider-man? Ia bukan seperti Deadpool yang memang tak memiliki keterkaitan kuat dengan karakter lain di dalam dunia X-Men, sementara sejarah dari Venom sangat terkait dengan Spider-man sehingga banyak pihak ragu bahwa film ini bisa sukses berdiri sendiri terlepas dari MCU. Toh, Sony pede dengan film ini. Sejarah membuktikan bahwa film ini mampu meledak di pasaran, memastikan sekuelnya akan digarap. Jadi bagaimana Venom membuktikan kesuksesannya tanpa harus tergabung dalam dunia MCU?

Protagonis utama dalam kisah ini adalah Eddie Brock. Eddie Brock di sini bukanlah versi Topher Grace yang tengil tapi cupu di Spider-man 3. Ini adalah Eddie Brock yang diperankan oleh Tom Hardy, seorang lovable loser, yang kehilangan karir dan tunangannya karena ia berusaha mengungkap kebobrokan konglomerat Carlton Drake. Sebuah insiden terjadi dan Tom Hardy… eh Eddie Brock… kemudian menjadi host dari alien symbiote yang bernama Venom. Rupa-rupanya, symbiote ini tidak bisa bertahan hidup tanpa ada manusia yang menjadi hostnya. Pada akhirnya simbiosis antara Eddie dan Venom berakhir menjadi simbiosis mutualisme di mana keduanya bekerja sama menghentikan Carlton Drake.

vepos
We. Are. Venom.

Film Venom ini adalah penebus dosa Sony yang di tahun 2007 gagal membawa Venom ke layar lebar dengan benar. Alih-alih menjadikannya musuh tunggal, Venom di dalam film tersebut harus berbagi waktu dengan Green Goblin dan Sandman sehingga fokus Spider-man 3 benar-benar kacau, membuat film tersebut menjadi noda hitam dalam trilogi Spider-man dari Sam Raimi. Sebagai pembayar hutang: Venom, dan hubungannya dengan Eddie Brock, menjadi fokus utama di sepanjang film ini. Walaupun awalnya berpacing agak lambat, film garapan Ruben Fleischer ini mampu meningkatkan tempo di tengah film, terutama setelah Eddie dan sang symbiote menjadi satu. Banter antara keduanya kerap menjadi sumber tawa saat saya menonton.

Dengan budget hanya sekitar 100 Juta USD, kentara bahwa Venom bukan film superhero yang jor-joran (kebanyakan superhero Marvel dan DC menghabiskan biaya 150 – 200 Juta USD dalam pembuatannya) dan ini terlihat beberapa kali dalam klimaks film di mana pertarungan antar symbiote terasa kasar dalam efek CG nya. Akan tetapi secara keseluruhan saya angkat jempol dengan usaha tim spesial efek film yang membuat Venom tampil meyakinkan di sepanjang film. Saya juga bersyukur divisi sound editing memperjelas suara Venom yang di trailer terdengar bak raungan yang tak bisa saya mengerti.

ve2
Symbiote Duel

Film ini sepenuhnya bergantung pada akting Tom Hardy dan saya salut kepada aktor ini karena ia sukses memerankannya. Ini bukan pertama kali Tom Hardy bermain dalam film semi-komedi tapi perannya yang kerap dalam film drama dan serius membuat orang lupa bahwa Hardy adalah seorang aktor watak yang bisa tampil di luar peranan dia biasa-biasanya. Seperti yang saya katakan sebelumnya Hardy di sini tampil sebagai seorang lovable loser. Sebagai penonton kita dibuat jengkel dengan ketololan-ketololan yang dia buat tetapi di lain sisi kita juga bisa bersimpati dengan sifatnya yang care dengan orang-orang di sekelilingnya… sifat yang tak mungkin diberikan kepada karakter Eddie Brock andaikata Venom dijadikan villain dalam film Spider-man-nya MCU.

Sayang di luar Tom Hardy tak ada penampilan memorable dari karakter-karakter pendukung di film ini. Dua yang menonjol adalah Michelle Williams yang tampil sebagai tunangan dari Eddie Brock tapi tak memiliki chemistry sama sekali dengan Tom Hardy dan Riz Ahmed sebagai Carlton Drake sekaligus antagonis utama film yang tampil… seperti segudang comic book villain lainnya (baca juga: klise dan forgettable). Jalan cerita dari Venom pun tak banyak berbeda dengan segudang kisah origin film superhero lain – malahan lebih celakanya jalan cerita Venom (dan perubahan motif sang symbiote) menjelang akhir sedikit berantakan.

ve1
Ci Luk Ba!

Saya tahu ada beberapa orang yang menonton film ini dengan pandangan skeptis (sebagaimana halnya banyak orang membenci The Amazing Spider-man 2 yang dianggap memperlama integrasi Spider-man ke dunia MCU) tetapi Venom membuktikan bahwa ia adalah sebuah film superhero (antihero?) yang bisa berdiri sendiri dan tetap enjoyable. Saya sedikit banyak teringat film Ghost Rider pertama saat menonton film ini. Sama-sama dicaci-maki kritik tetapi pada saat menontonnya kok ya enjoy-enjoy saja. Saya tunggu sekuelnya yang pastinya menghadirkan villain ikonik Spider-man lainnya (dan ya, casting untuk villain lainnya itu sudah sempurna).

Score: B

Leave a Reply