Setelah Sword Art Online menjadi anime yang meledak di pasaran mendadak saja ada begitu banyak cerita dengan konsep yang kurang lebih serupa.

No Game No Life.
Accel World.
Log Horizon.
Re: Zero.

Begitu banyaknya anime / light novel / manga dengan cerita serupa bahwa ini kemudian menjadi genre baru bernama Isekai. Sebenarnya sih konsep protagonis yang pindah ke dunia lain (entah dunia fantasi, masa lalu, dunia game) bukan hal yang baru. Ingat dengan manga terkenal Legenda Naga? Atau bahkan dengan konsep serupa seperti SAO tapi hadir beberapa tahun lebih dahulu: .Hack? Jadi ketika teman-temanku menyarankan untuk menonton Overlord, hal pertama yang terlintas di benakku adalah “Ah, apa lagi sih yang membedakan ini dengan cerita-cerita serupa?“. Mari kita bedah lebih lanjut adaptasi light novel karangan Kugane Maruyama ini.

images (1)
Overlord yang… jahat?

Semua game online terkenal pada akhirnya akan turun popularitasnya. Ketika sudah terlalu sedikit orang bermain maka server game akan ditutup karena mempertahankannya takkan lagi menguntungkan bagi perusahaan gamenya. Itulah yang terjadi kepada Yggdrasil. Perusahaan yang menciptakan game ini memutuskan untuk melakukan server shutdown. Sebagaimana biasanya ketika sebuah game online akan ditutup banyak pemain veteran dan lawas memutuskan tetap berada di sana guna melakukan farewell terakhir. Termasuk di antaranya adalah Momonga, guildmaster dari salah satu guild terkuat di Yggdrasil: Ainz Ooal Gown. Waktu berlalu, server ditutup… dan… Momonga masih di sana. Tak seperti para gamer lain yang telah logout saat server dimatikan, Momonga menyadari bahwa ia tidak bisa logout dan terus hidup dalam game ini dalam bentuk karakter gamenya. Ingin mencari tahu apabila dia tinggal satu-satunya Playable Character yang tersisa atau masih adakah Playable Character lain yang terjebak seperti dirinya, Momonga memutuskan bahwa ia akan terus mengibarkan nama Ainz Ooal Gown hingga semua orang mendengar kisahnya (supaya bila ada Playable Character lain akan mau bergabung dengannya).

Kelemahan terbesar dari serial animasi ini terletak pada tidak adanya motivasi jelas dari karakter utamanya. Saya tidak kenal siapa ini Momonga. Apakah ia sebegitu anti sosialnya sampai ia tidak ingin kembali ke dunia nyata? Kenapa ia tidak khawatir bagaimana reaksi keluarganya ketika ia tidak sadarkan diri? Kenapa ia merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan para NPC (yang menjadi hidup di dalam game ini) ketimbang dengan orang lain? Tanpa semua itu tujuan dari Momonga mengibarkan Ainz Ooal Gown menjadi guild terkuat di Yggdrasil terasa… hampa. Tanpa tujuan. Lebih celaka lagi setiap kali Momonga ingin memberikan reaksi ekstrem apapun, game ini ‘memaksa’nya untuk menenangkan diri untuk menjaga pembawaannya sebagai seorang pemimpin. Jadilah saya stuck menonton serial animasi dengan sosok protagonis utama yang pembawaannya datar (membosankan?) dan tak punya motivasi hidup apapun.

 

images
Welcome to the Antihero Club

It’s boring. It’s boring as fuck.

Setelah beberapa episode berusaha menjelaskan struktur organisasi dari Ainz Ooal Gown sekaligus memberi cerita karakter-karakter NPC game Yggdrasil yang sadar diri, sisa dari Overlord season pertama lebih banyak berfokus pada bagaimana Momonga berkeliling di dunia ini menyebarkan pengaruh guild-nya. Sekali lagi sosoknya yang mati perasaan tidak membuat penonton bisa simpatik dengannya. Momonga adalah karakter yang… datar. Ia tidak baik dan tidak jahat juga. Saya bahkan tidak mengerti apa motifnya memajukan Ainz Ooal Gown. Menemukan karakter lain seperti dia? Lantas kalau sudah bertemu bagaimana? Apakah sama-sama ingin bekerjasama meloloskan diri dari dunia Yggdrasil atau berkuasa bersama? Walhasil jalan cerita Overlord jadi menarik hanya ketika saya melihat interaksi Momonga dengan para bawahan-bawahannya.

Mengingat serial ini digarap oleh Madhouse, salah satu studio animasi top di Jepang, tak heran kalau kualitas animasi dalamnya sangat baik. Tak hanya itu saya juga jatuh cinta dengan design tiap-tiap karakternya yang keren dan tak lazim; sedikit banyak mengingatkan saya dengan game Disgaea-nya Atlus. Saya juga suka sekali dengan lagu openingnya yang dinyanyikan OxT. Hanya satu kata yang pas menggambarkannya: epik. Kualitas teknis dari serial ini bisa dibilang adalah satu-satunya penyelamatnya, ditambah dengan world building yang cukup baik. Ada misteri mengenai dunia Yggdrasil yang masih membuat saya betah menonton serial ini kendati sebal dengan karakter-karakter utama di dalamnya. Sedikit peringatan: bagi kalian yang berharap season pertama akan menjawab misteri Yggdrasil harus bersiap-siap kecewa. Terlepas dari beberapa hint yang diberikan, season pertama tak menjawab satupun pertanyaan yang diangkat oleh serial ini. Pun begitu harus saya akui bahwa world building yang dilakukan dengan perlahan mengekspansi dunia yang ditinggali Momonga ini membuat saya ingin tahu siapa-siapa saja yang akan ditemui olehnya dalam petualangannya berikutnya.

images (2)
Jagoan Bertopeng

Satu-satunya hal yang membedakan Overlord dari serial animasi Isekai lain adalah karakter protagonisnya yang tampil sebagai sosok pragmatis (kalau tidak mau dibilang karakter antihero). Akan tetapi tanpa motivasi dan tujuan yang jelas serta sifat yang tidak simpatik (egois?): Overlord membuktikan bahwa sebuah cerita yang digarap sekedar demi berbeda dari mainstream klise lainnya tidak berarti baik juga. Untuk kisah-kisah Isekai / Game klise yang lebih baik dibandingkannya saya jauh lebih merekomendasikan Sword Art Online season pertama dan buat kalian yang ingin menonton animasi genre Isekai yang berbeda dari pakem biasanya saya rekomendasikan serial Re:Zero. Overlord? Lewatkan saja.

Score: C-

Leave a Reply