Alcatraz Versus adalah seri buku fantasi karangan Brandon Sanderson. Sampai saat ini sudah ada lima buku fantasi yang ditulis Sanderson. Mulai dari Alcatraz Versus the Evil Librarians, Versus the Scrivener’s Bones, Versus the Knights of Crystallia, Versus the Shattered Lens, dan Versus the Dark Talent. Buku keenam sekaligus dijanjikan menjadi penutup dari saga Alcatraz belum diterbitkan.

Mungkin kalian sudah bisa menebak dari judulnya, seri buku fantasi ini memiliki protagonis utama Alcatraz Smedry. Alcatraz ini memiliki bakat yang unik: bakat merusak barang. Entah bagaimana barang apapun yang ia sentuh selalu rusak. Menyentuh TV membuat TV tersebut tak dapat menyala lagi. Menyentuh pintu membuat kenopnya copot. Menyentuh komputer bakalan langsung error. Ini adalah talenta yang mencelakakan Alcatraz sehingga hidupnya sebagai seorang yatim piatu benar-benar menderita. Ketika ada keluarga asuh yang mengadopsinya tak lama kemudian bakat Alcatraz timbul dan merusak hubungan keluarganya yang baru. Begitu terus hingga…

… hingga suatu saat seorang kakek misterius datang dan mengatakan kepada Alcatraz bahwa ia adalah kakek kandung Alcatraz… dan bahwa Alcatraz terpilih masuk ke sekolah sihir Hogwarts. Maaf salah novel. Yang benar ternyata marga Alcatraz adalah Smedry, salah satu keluarga yang paling kuat dan ditakuti oleh para Librarian. Rupanya tanpa disadari oleh manusia-manusia biasa, telah terjadi perang besar antara dua kubu: satu adalah Librarians yang ingin menguasai dunia dan mereka yang mepertahankan kebebasan dalam Free Kingdoms.

images (8)
Book 1 Cover (Old version)

Seri novel ini memiliki beberapa tokoh penting di dalamnya selain Alcatraz. Dua yang paling penting adalah Grandpa Smedry, kakek Alcatraz dan Bastille, seorang Crystin Knight yang juga adalah bodyguard bagi keluarga Smedry (utamanya Alcatraz dan Grandpa Leavenworth). Dalam setiap novel Alcatraz ia akan berhadapan dengan faksi-faksi yang berbeda dari kubu Librarian. Betul, Librarian bukan sekedar sebuah organisasi yang tak teratur, mereka memiliki kubu-kubu di dalamnya yang saling bertentangan dan memiliki cara kerja sendiri-sendiri. Melihat bagaimana Alcatraz dan rekan-rekannya beradu cerdik menghadapi mereka merupakan daya tarik utama seri ini.

Dua hal yang membedakan kisah fantasi ini dibandingkan beberapa novel fantasi lain adalah cara penulisan Brandon Sanderson dan tokoh-tokoh di dalamnya. Cerita dalam lima novel ini semua menggunakan cara penulisan sudut pandang tokoh pertama: sosok Alcatraz sebagai penulis cerita. Tak hanya itu, Alcatraz juga mengisahkan kelima petualangannya dalam flashback, di mana kulminasi kisah di buku kelima akan berujung pada prolog buku pertama. Kita tahu bagaimana perjalanan Alcatraz akan berakhir tetapi kita tidak tahu bagaimana perjalanannya akan sampai pada titik itu. Sanderson juga kerap menggunakan kisah-kisah perumpamaan dalam menyampaikan ceritanya secara lebih mudah kepada pembaca. Kadang tekniknya berhasil dan saya jadi lebih mudah menarik paralel untuk memahami kenapa seorang karakter bertindak begini, kadang lagi tidak berhasil dan saya hanya garuk-garuk kepala berpikir apa maksudnya ini perumpamaan. Saya juga cukup takjub melihat keberanian Sanderson menciptakan berbagai macam karakter dengan kemampuan-kemampuan aneh di kisahnya ini. Seperti yang saya katakan tadi: setiap Smedry lahir dengan talenta berbeda, tidak hanya Alcatraz. Uniknya walaupun semua kemampuan itu pada awalnya terlihat menganggu (seperti Grandpa Smedry memiliki talenta selalu terlambat), ternyata Sanderson mampu memelintir kisah sehingga talenta tersebut terlihat berguna (Grandpa Smedry misalnya bisa membuat rasa sakit terlambat ia rasakan).

images (7)
Crystal Knights?

Penulisan Sanderson sendiri pada awal terasa menganggu, terutama kalau kalian belum terbiasa dengan gayanya yang slengean (kerap melalui sudut pandang Alcatraz). Saya benar-benar tidak enjoy membaca buku pertama dari seri ini karena karakternya yang hanya bisa saya bagi ke dalam dua kelompok: menjengkelkan (Alcatraz dan Bastille) serta tolol (Grandpa Smedry , Sing-Sing, dan Quentin). Tambahan lagi Alcatraz yang berulang kali menulis bahwa ia bukan pahlawan, ia bukan pecundang, ia seorang kalahan, membuatku geram. Saya mengerti Sanderson. Menulisnya satu dua kali sudah cukup… menulis dan mengulangi referensi itu lebih dari sepuluh kali dalam satu buku itu menghina otak pembacamu. Untung saja penulisan Sanderson banyak diperbaiki di buku-buku selanjutnya. Walaupun saya menilai masih terkadang tak merata kualitasnya, secara keseluruhan entri-entri Alcatraz Versus semakin solid. Oh ya, seri novel ini juga memiliki beberapa ilustrasi di bab-bab tertentu yang membantu kita memvisualisasikan dunia Alcatraz.

images (10)
Disembelih?

Saya tidak tahu apakah dikarenakan penulisannya yang tak lazim inilah yang membuat novel ini tak laris. Setelah kontrak empat tahun dengan Brandon Sanderson berakhir, Scholastic memilih untuk TIDAK melanjutkan kerjasama dan menerbitkan dua buku terakhir serial ini. Itulah sebabnya jeda waktu terbit antara buku keempat Alcatraz Versus Shattered Lens ke Alcatraz Versus the Dark Talent terbilang cukup lama: enam tahun dibandingkan satu tahun jeda entri-entri sebelumnya.

Bila kalian ingin membaca sebuah novel fantasi remaja yang berbeda dari lazimnya dan lebih dark, saya merekomendasikan seri Alcatraz Versus ini, tapi awas, sesuaikan dulu diri kalian dengan cara berkisahnya.

Score: 8.0 (Overall)

Leave a Reply