Suka atau tidak dengan Mark Millar, saya harus mengakui kalau penulis komik yang satu ini benar-benar tahu caranya membranding dan memarketing dirinya sendiri. Penulis lain seperti Brian Michael Bendis, Scott Snyder, Ed Brubaker, dan banyak lagi adalah penulis-penulis yang juga banyak menulis story arcstory arc berkelas untuk Marvel dan DC sehingga waktu mereka tidak banyak fokus untuk menggarap cerita mereka sendiri. Ini berbeda dengan Millar yang setelah beberapa kali menggarap kisah di DC dan Marvel memutuskan untuk keluar dari the big two dan fokus menggarap kisah dari karakter yang dia ciptakan sendiri. Kebebasan Millar dari kekangan kreatifitas big two membuatnya bebas menciptakan karya-karyanya sendiri (dan tentunya insentif yang lebih besar bagi dirinya). Dengan imbalan yang lebih besar inilah Millar kemudian sukses menggaet partner kerjasama artist-artist superstar terbaik di industri bekerja sama dengannya.

Dalam Empress, premis yang dilempar oleh Mark Millar adalah bagaimana kalau kamu adalah istri dari seorang diktator yang menguasai alam semesta ini dan kamu ingin lari dari cengkeramannya? Itulah yang dilakukan oleh Emporia dari Kaisar Morax. Morax adalah seorang penguasa berbagai galaksi yang tak segan menghabisi siapapun yang menentangnya. Satu-satunya hal yang mungkin ia cintai dalam hidupnya adalah Emporia sang istri dan ketiga orang anaknya. Kehidupan ini membuat Emporia muak dan tertekan sehingga ia memutuskan untuk kabur dengan ketiga anaknya. Dalam usaha kaburnya Emporia serta ketiga anaknya (Aine, Adam, dan Puck) dibantu oleh ajudan pribadinya: Captain Dane Havelok yang cakap. Meloloskan diri dari Morax tentu tidak mudah sebab sang diktator kejam ini langsung mengerahkan seluruh kekuatan kekaisaran dan bawahannya untuk mengejar Emporia. Bisakah rombongan kecil ini meloloskan diri dan memulai kehidupan baru yang bahagia dan damai?

images (2)
Star Wars by Millar?

Salah satu keluhan yang kerap ditujukan untuk karya Mark Millar adalah bagaimana kisah yang dia tulis rata-rata lebih cocok diadaptasi ke serial TV atau film dibandingkan dibaca begitu saja dalam medium graphic novel. Saya tidak menyangkal hal ini. Bandingkan kisah-kisah satuan yang ditulis Millar dengan Saga tulisan Brian K. Vaughan dan perbedaan keduanya dalam mengoptimalisasi medium graphic novel terlihat jelas. Skrip Millar jauh lebih mengedepankan sekuens-sekuens aksi dan sinematik ala film-film budget besar Hollywood. Suka atau tidak memang begitulah style dari Millar. Itu pun terasa di kisah Empress di mana edisi pertamanya saja digunakan untuk sekuens kejar-kejaran dan meloloskan diri dari planet tempat tinggal Morax dan Emporia… lengkap dengan semua ledakan, tembak-tembakan, serta pengejaran pesawat spaceship.

Untungnya saja Millar tak lantas hanya berfokus pada itu, setelah dalam edisi-edisi berikutnya menurunkan tensi, kisah Empress kemudian menggali lebih dalam persona dari masing-masing karakter dalam grup ini. Tak hanya Emporia dan Dane saja yang diberi fokus melainkan juga kedua anak Emporia: Aine dan Adam. Puck? Ia masih bayi jadi tak banyak berperan dalam volume pertama ini. Di bab kedua grup ini juga bertemu dengan Tor Blinder, sahabat Dane dari era dulu, yang langsung menjadi favoritku. Dengan sense of humor bercampur hati emas-nya Tor Blinder bisa dibilang menjadi Han Solo atau Tyrion Lannister dalam kisah ini, mencuri atensi pembaca tiap ia berperan. Sayangnya selain keenam orang dalam grup utama ini saya merasa Millar terlalu sedikit menggali motivasi dari Morax. Betul ada sedikit penjelasan kenapa Morax merasa berhak dan layak menjadi seorang diktator, tetapi di rata-rata kemunculannya yang sporadis di kisah ini pembaca tak pernah bisa benar-benar mengerti kenapa Morax menjadi pribadi yang sesadis dan segila ini. Kisah yang terlalu hitam putih dalam Empress bagiku adalah kelemahan utama komik ini.

images (4)
The Gang is Here

Saya tak habis pikir bagaimana Millar selalu saja berhasil menarik artis superstar bergabung dalam proyeknya. Dalam komik ini ia berkolaborasi dengan Stuart Immonen, lagi-lagi seorang artis superstar yang ia manfaatkan dengan maksimal. Immonen adalah satu dari tiga artis yang bagi saya mendefinisikan Ultimate Spider-man di mataku (dua lainnya adalah Sara Pichelli dan Mark Bagley). Gaya gambar Immonen secara luar biasa mampu menghidupkan tak hanya setiap sekuen aksi gila yang ditulis skrip Millar tetapi juga membawa para pembaca berkelana dalam banyak dunia / planet / galaksi yang disinggahi oleh grup Emporia dalam usaha mereka meloloskan diri. Inker Wade von Grawbadger dan pewarnaan dari Dave McCaig makin menghidupkan tiap goresan artwork Immonen, membuat Empress menjadi kisah yang spesial dan tone-nya konsisten dari awal hingga akhir.

Dengan penutup yang konklusif (tetapi memberi ruang untuk digali lebih lanjut di volume keduanya), cerita space opera yang seru, dan world building yang apik, sesungguhnya potensi dalam Empress tak terbatas. Tergantung imajinasi gila apa lagi yang bisa dimasak dalam benak Millar untuk membawa grup kecil ini ke ujung galaksi dalam petualangan-petualangan baru. Apapun itu, saya siap ikut serta dengannya.

images (3)
The Escape Plan in Space?

Score: 8.5

Leave a Reply