Di antara banyak karya Mark Millar yang paling menarik hatiku adalah Jupiter’s Legacy. Konsep yang diangkat oleh Millar dalam komik itu tidak sepenuhnya orisinil dan mengingatkanku tentang Watchmen. Akan tetapi cara Millar menuturkan kisahnya sangat seru, berbeda, dan membuatku ingin tahu akan kelanjutannya. Menyadari potensi di balik dunia Jupiter’s Legacy, Mark Millar mundur pada jaman generasi puluhan tahun yang lampau – ke masa golden age superhero di mana para superhero yang sudah sepuh di Jupiter’s Legacy itu masih muda belia dan berada pada puncak karir mereka. Ini adalah kisah yang dirangkum dalam Jupiter’s Circle.

Bersifat sebagai prekuel, Jupiter’s Circle menggali lebih dalam kehidupan enam superhero orisinil di bumi pada masa itu: The Utopian, Brainwave, Lady Liberty, Blue-Bolt, The Flare, dan Skyfox. Keenam sahabat ini pada masa muda mereka mendapatkan kekuatan sebagai superhero di sebuah pulau terpencil ketika mereka bertemu dengan alien di sana. Mendapatkan kekuatan itu membuat mereka membela dunia dengan membentuk sebuah grup superhero. Yah, semacam Justice League dan The Avengers. Tentu saja keberadaan superhero pada setting dunia realistis membuat dunia resah dan bertanya-tanya mengenai siapa para superhero ini – termasuk dari pemerintahan Amerika sendiri. Masing-masing superhero ini menjaga identitas mereka dengan ketat, sampai kepala FBI J. Edgar Hoover berhasil mencari tahu identitas salah satu superhero: Blue-Bolt.

DIG062526_2._SX1280_QL80_TTD_
The Original Six

Masalahnya bagi Blue-Bolt, ia bukan sekedar superhero biasa melainkan superhero gay. Tak peduli betapapun ia berjasa menyelamatkan dunia, Blue-Bolt sangat takut apabila ia ketahuan sebagai gay dan memiliki perilaku seks yang menyimpang, dunia dan bahkan keluarga akan membencinya. Ini digunakan oleh J. Edgar untuk mengancam Blue-Bolt membuka identitas para superhero lainnya. Apa yang bisa dilakukan oleh Blue-Bolt yang terjepit antara identitasnya yang dibongkar atau identitas teman-temannya yang terbongkar?

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sekelumit dari masalah personal yang dihadapi oleh para superhero tersebut. Saya senang bahwa Mark Millar berhasil menghumanisasi para superhero ini sehingga mereka bukan sekedar berhadapan dengan para monster atau supervillain. Sebaliknya permasalahan-permasalahan yang mereka alami dan mereka hadapi justru sangat riil dan sesuatu yang dialami oleh manusia-manusia biasa. Saya juga senang dengan bagaimana Millar memercikkan isu politik dan sosial pada jaman 1950 dan 1960an. Seperti yang saya sebutkan tadi, walau Blue-Bolt menyelamatkan dunia berulang kali, ironis bahwa ia tahu kalau identitasnya sebagai gay dibuka ke khayalak umum maka masyarakat akan langsung membencinya – fakta yang dipertegas saat satu temannya terkejut bahwa teman-teman superhero lain masih mau menerima Blue-Bolt walaupun dia seorang homoseksual.

Mengingat Jupiter’s Circle juga adalah prekuel dari Jupiter’s Legacy, sedikit banyak Millar juga menyisipkan benih-benih perpecahan di dalam grup ini. Tak terjadi pertengkaran secara frontal memang tetapi dari beberapa konflik kecil yang terus tereskalasi di sini pembaca menjadi lebih bisa mengerti kenapa persahabatan keenamnya berakhir secara tragis di kemudian hari.

DIG055924_2._SX1280_QL80_TTD_
Young Legends

Menyebut karya Mark Millar tak bisa tak menyebutkan artisnya. Dalam proyek Jupiter’s Legacy Mark Millar sukses berkolaborasi dengan Frank Quitely yang saya percaya adalah salah satu artis terbaik yang bekerja dalam industri graphic novel Amerika modern. Kendati Millar tak bisa bekerjasama dengan Quitely dalam proyek ini (ia sibuk menggarap volume kedua dari Jupiter’s Legacy), ia mendapatkan partner yang tak kalah berbakat menggambar prekuelnya: Wilfredo Torres. Goresan Wilfredo Torres yang menekankan permainan mimik muka karakter di sini membantu bacaan ini terasa lebih membumi – sesuatu yang tak mudah mengingat karakter-karakter yang ditulis oleh Millar di sini memiliki kekuatan bak dewa yang turun ke bumi. Gaya artwork Torres memang berbeda dengan Quitely tapi bilamana dilihat bersama keduanya saling melengkapi dengan gaya dari era penceritaan Millar yang berbeda.

images (1)
Family matters

Pada akhirnya Jupiter’s Circle mungkin bukan bacaan wajib bagi kalian yang membaca Jupiter’s Legacy. Akan tetapi bila kalian memang enjoy dengan seri utamanya maka tak ada salahnya untuk juga mengikuti prekuelnya ini. Hanya saja jangan harapkan ini merupakah kisah superhero mainstream seperti pada umumnya. It really isn’t.

Score: 8.5

Leave a Reply