Wes Anderson dikenal dengan gaya penyutradaraannya yang unortodoks dan quirky. Coba simak deh portfolio film yang ia sutradarai maka hampir-hampir pasti bubuhan gaya tandatangan penceritaannya itu sangat jelas: sangat Wes Anderson sekali. Nah selama ini hanya ada satu film Wes Anderson yang ia garap dalam format animasi stop-motion: Fantastic Mr. Fox. Saya ingat menonton film ini hampir satu dekade yang lalu dan terpana dengan gaya penceritaannya yang tidak lazim tetapi di lain sisi juga sangat bagus dan mengena. Ketika Anderson mengumumkan proyek berikutnya setelah The Grand Budapest Hotel adalah film animasi yang berjudul Isle of Dogs, saya tentu menantinya – dan saya tahu saya tidak sendiri.

Isle of Dogs memiliki gaya animasi yang sama dengan Fantastic Mr Fox: animasi stop-motion. Di era di mana 3D semakin mulus saja, format stop-motion ini bisa dibilang memang makin terpinggirkan, untungnya kebanyakan film animasi yang dibuat dalam format ini mendapatkan puji-pujian kritikus, begitu juga dengan Isle of Dogs ini.

4
Asu!

Kisah dalam Isle of Dogs dibuka ketika semua anjing di Jepang dibuang ke sebuah pulau khusus. Alasannya adalah sebuah wabah penyakit melanda Jepang dan ditengarai penyebabnya adalah binatang kesayangan manusia itu. Berbulan-bulan kemudian para anjing yang dibuang di pulau itu membentuk komunitas baru tersendiri – menjadi anjing liar. Status quo ini mendadak berubah ketika seorang bocah bernama Atari Kobayashi – keponakan dari walikota yang mengeluarkan peraturan pembuangan anjing – memutuskan untuk berangkat ke pulau anjing tersebut untuk menyelamatkan anjingnya.

Atari tidak tahu di mana Spots, anjing miliknya berada, sehingga di sana ia malahan bertemu dengan anjing-anjing lain termasuk Chief, seekor anjing liar yang tadinya tak sudi tunduk kepada Atari. Sementara Atari dan Chief (beserta beberapa anjing lainnya) menjalani perjalanan penuh marabahaya di pulau anjing, sang walikota memutuskan untuk menciptakan sebuah peraturan baru: kali ini untuk menumpas anjing seutuhnya dari bumi Jepang…

2
Poster

Hal pertama yang langsung mengesankan ketika menonton film ini adalah format penyajiannya. Seperti biasa Wes Anderson dengan cerdik membungkus jalan cerita dalam film ini dengan bentuk yang tak lazim: kali ini ia menggunakan berbagai prosa literatur Jepang ala haiku sampai opera Jepang dalam menyajikan ceritanya. Hasilnya kita bak disuguhi sebuah kisah dongeng yang ia bikin. Ya, berbeda dengan Fantastic Mr. Fox yang dikarang oleh Roald Dahl dan hanya diadaptasi saja oleh Wes Anderson, Isle of Dogs seutuhnya merupakan cerita orisinil dari sang sutradara (dengan masukan dari beberapa pihak lain tentunya).

1
Do you love dogs?

Sungguh sayang kisah dalam film ini mendadak kehilangan fokus di paruh keduanya. Karena twist demi twist disajikan oleh Anderson mendadak film ini kehilangan fokus karena kebanyakan sub-plot yang hendak diangkat. Karakter-karakter yang awalnya memegang peranan penting di awal film hilang begitu saja di pertengahan dan tak pernah lagi memegang peran signifikan hingga akhir. Begitu juga hubungan antara Atari dan Chief mendadak saja tak menjadi sorotan setelah dibangun secara perlahan setengah film. Kocar-kacirnya fokus di pertengahan film membuat flow cerita pada akhirnya terganggu dan payoff di akhir film terasa kurang memuaskan secara emosional.

So my verdict is… Isle of Dogs berusaha keras untuk bisa menyamai kebrilianan dari Fantastic Mr. Fox dekade lalu. Tapi untuk segala charm dalam kisah ini, terlalu banyak plothole menganggu yang membuatnya bisa disejajarkan dengan karya animasi pertama dari Wes Anderson tersebut.

Score: B+

Leave a Reply