Menggabungkan genre Superhero dan genre Young Adult sekilas tampak sebagai sebuah ide yang tidak masuk akal sebab kedua genre ini jelas ditujukan untuk pangsa pasar yang bertolak belakang. Genre Superhero diperuntukkan untuk laki-laki sementara Young Adult mayoritas penggemarnya adalah wanita. Akan tetapi dua buku pertama yang diterbitkan dalam seri DC Icons (judul lini DC untuk novel genre Young Adult) cukup laris manis di pasaran, baik itu Batman: Nightwalker dan Wonder Woman: Warbringer. Buku ketiga dalam seri DC Icon kali ini berfokus bukan kepada superhero DC Batman dan Wonder Woman melainkan pada Catwoman, seorang anti-hero yang belakangan ini semakin diarahkan oleh DC menjadi salah satu protagonis utama mereka. Seperti yang sudah-sudah novel ini penulisannya juga diserahkan kkepada seorang penulis novel genre Young Adult: Sarah J. Maas, yang terkenal dengan seri Throne of Glass-nya.

Selina Kyle sudah meninggalkan masa lalunya di kota Gotham ketika The League of Assassins merekrut dirinya menjadi bagian dalam organisasi kriminal rahasia ini. Setelah dilatih selama beberapa tahun lamanya kini Selina kembali ke kota Gotham di saat yang tepat. Batman, sang pelindung kota Gotham, sedang berada di luar kota mengurus hal lain dan hanya partnernya: Batwing yang masih amatir berusaha menjaga kedamaian dan kestabilan kota Gotham. Selina – dengan kode namanya Catwoman – bekerja sama dengan dua wanita lain yang juga merupakan penjahat di kota Gotham: Poison Ivy dan Harley Quinn untuk merampok dari kalangan sosialita Gotham. Rampokan demi rampokan yang dilakukan oleh Catwoman langsung membuatnya diincar tak hanya oleh kepolisian Gotham dan Batwing saja tetapi juga dari kroni-kroni lain yang telah lama berkuasa di Gotham; gembong mafia yang dipimpin Falcone misalnya. Apa sebenarnya tujuan dari Selina kembali ke kota Gotham dan bisakah ia memenuhi tujuan tersebut sebelum tertangkap polisi, Batwing, atau dihabisi oleh rekannya sendiri?

images (3)
No Bat. Yes Cat.

Kalau kalian membaca Throne of Glass, kalian akan mengerti kenapa DC menunjuk Sarah J. Maas sebagai penulis novel ini. Premis dalam Throne of Glass adalah bagaimana andaikata Cinderella dalam kisah dongeng klasik bukan seorang gadis pesuruh biasa melainkan seorang assassin? Dan bagaimana bila sang pangeran yang ia jumpai dalam dansa bukanlah seorang yang ditakdirkan menikahi dia melainkan seorang target yang harus dia habisi? Dengan premis seperti demikian jelas Maas adalah seorang yang sudah berpengalaman menulis tokoh yang berada di daerah abu-abu. Itulah sosok Selina di dalam novel ini. Jauh di dalam lubuk hatinya kita tahu kalau Selina adalah orang yang baik karena prolog kisah ini menunjukkan sosok seorang kakak yang melakukan apapun untuk melindungi adiknya yang sakit-sakitan. Akan tetapi metode-metode yang ia lakukan untuk menganggu kedamaian di kota Gotham membuat pembaca bertanya-tanya apakah sosok yang baik hati ini sudah terkorupsi setelah berada di bawah pengaruh The League of Assassins selama bertahun-tahun lamanya? Maas cukup piawai membuat pembaca terus bertanya-tanya mengenai motivasi sesungguhnya dari Selina sebelum menyibakkannya di saat-saat terakhir.

Saya juga suka dengan keputusan dari Maas untuk tidak mengikutkan Batman di dalam buku ini. Walau alasan Bruce Wayne untuk pergi dari kota Gotham tidak pernah dijelaskan secara mendalam, Maas cukup memberi alasan kenapa Batman absen dan tak pernah bertemu dengan Catwoman. Agak jengah di awalnya tetapi ada baiknya sebab sosok Batman yang lebih terkenal bisa jadi membuat fokus pembaca melenceng dari Catwoman. Omong-omong walaupun sama-sama bersetting di kota Gotham dan ada dalam lini DC Icon, tidak ada hal yang menunjukkan kalau buku ini tersambung dengan kisah Batman: Nightwalker karangan Marie Lu. Sayangnya Maas masih saja mengikutkan seorang karakter kelelawar untuk dijadikan love interest bagi Selina: Luke Fox alias Batwing. Bagi penggemar komik nama belakang Fox mungkin tidak asing dan memang Luke Fox adalah anak dari Lucius Fox, orang yang berjasa menciptakan gadget bagi Batman dalam kegiatan operasinya. Sosok Luke di sini kurang lebih mirip dengan Bruce: sama-sama kaya raya, sama-sama baik hati, dan ironisnya sama-sama jatuh cinta dengan Selina Kyle dan Catwoman. Ya, sungguh kisah romans yang sangat picisan bukan? Seorang abdi keadilan yang jatuh cinta pada seorang pencuri, sudah banyak sekali kisah yang sudah pernah memakai pakem ini.

Terlepas dari hubungan Selina dan Luke yang bagi saya bergantian antara hit dan miss, saya malahan lebih suka dengan kerjasama dan persahabatan dari Catwoman, Harley Quinn, dan Poison Ivy. Saya rasa pemilihan line-up ini bukan kebetulan sebab studio Warner Bros sendiri memang tengah menyiapkan film berjudul Gotham City Sirens yang mengedepankan formasi ini. Di antara Harley Quinn dan Poison Ivy saya sebenarnya sangat terkejut membaca Maas sebenarnya lebih banyak mengedepankan sosok Ivy dibandingkan Harley yang jauh lebih terkenal setelah film Suicide Squad. Penulisan ketiganya yang memiliki masa lalu gelap yang berbeda membuat ikatan ketiganya menjadi lebih spesial dan mereka menjadi simpatik.

images
Bacaan halal

Sempat intens di bagian prolog dan chapter-chapter pembuka, Catwoman: Soulstealer sempat menjadi bacaan yang datar dan membosankan di bagian pertengahan. Beruntung bahwa memasuki sepertiga terakhir buku, Maas lantas tancap gas dan menaikkan tensi. Setelah semua trik dari Catwoman terbaca dan twist terbuka Maas membuat pembaca terharu dengan perjuangan dari Selina. Saya suka dengan dua buku DC Icon sebelumnya tetapi baru buku inilah yang membuat saya menitikkan air mata karena terharu. Ramuan antara keluarga, persahabatan, dan cinta mampu dilebur menjadi satu oleh Maas dalam klimaks buku ini, menyentuh hati saat membacanya. Tak peduli suka tidak kalian dengan karakter Catwoman, saya merekomendasikan buku ini untuk kisah asal usul Catwoman yang ditulis dengan sangat apik, berbeda dari kisah biasanya tetapi tak melupakan esensi dari Catwoman itu sendiri. Ada beberapa plot misteri yang sengaja dibiarkan Maas terbuka sehingga apabila penjualan buku ini baik kisahnya masih bisa dilanjutkan kembali. Kalau kualitas penulisannya bisa tetap dipertahankan seperti ini sih saya takkan ragu untuk membaca sekuelnya. Bring it on, DC!

images (2)
Sarah J. Maas steals our soul

Score: 9.0

Leave a Reply