First thing first: saya tidak suka buku ini.

Jujur saja kualitas trilogi kedua The Mortal Instruments ini sudah mengalami penurunan dalam buku pembukanya: City of Fallen Angels. Buku tersebut memiliki start yang pelan dan jalan cerita yang sedikit bertele-tele sebelum mulai berfokus menjelang akhirnya. Ini memberi saya harapan bahwa momentum pemfokusan di akhir City of Fallen Angels bisa berlanjut dalam sekuelnya ini, membangun konflik antara kaum Clave (Shadowhunters) guna menghadapi Sebastian, yang telah sukses dibangkitkan di akhir buku tersebut.

images (1)
Cover Cetakan Baru

Dan momentum itu memang terasa di awal buku ini. Semua karakter – terlepas dari masalah-masalah pribadi yang mereka alami – seakan memiliki fokus yang jelas: selamatkan Jace dari tangan Sebastian, bagaimanapun caranya. Fokus ini memberi spotlight pada para Shadowhunters dan Downworlders remaja. Mereka tidak bisa meminta pertolongan kepada Clave karena para panatua di Clave tidak akan segan membunuh Jace demi membunuh Sebastian. Melihat sekelompok amatiran ini bekerjasama demi menyelamatkan sahabat mereka membuat pembaca sadar betapa jauhnya relasi antara tiap mereka telah berkembang semenjak buku pertama. Di sisi lain…ya, Jace yang adalah sang Shadowhunter tertangguh di trilogi pertama di buku ini praktis menjadi sosok yang tak berguna di sini – ia berubah menjadi sosok yang ada di bawah kendali Sebastian. He’s pretty useless here.

Akan tetapi yang lebih menjengkelkan lagi adalah sosok Clary. Dalam empat buku sebelumnya saya tidak pernah memasukkan sosok Clary sebagai salah satu sosok favoritku karena dirinya terlampau egois dan suka bertindak seenak perut tanpa memikirkan orang lain. Hanya saja di buku ini dia benar-benar kelewatan dalam mengambil tindakan bodoh. Apabila Jace saya anggap tidak berguna di buku ini karena ia di bawah kendali Sebastian maka Clary lebih menyebalkan lagi karena ia sengaja melibatkan dirinya dalam ketololan hanya karena cinta butanya kepada Jace.

Degradasi dalam penulisan cerita ini juga direfleksikan dalam tulisan Cassandra Clare. Saya beberapa kali mengernyitkan dahi membaca betapa detailnya Clare menggambarkan sosok pria (terutama Jace dan Sebastian) di dalam novel ini. Sekali lagi saya mengerti bahwa ini adalah genre Young Adult dan penulisan semacam ini tidak terhindarkan. Akan tetapi porsi dari penulisan ini terasa terus bertambah di tiap buku yang ia tulis. Lagi-lagi saya biasanya berusaha tidak terlalu mempedulikannya – biasa karena saya memang tertarik akan pasangan yang ia tulis atau karena jalan cerita utamanya sendiri memang baik. Di sini karena saya geram dengan sosok Jace dan Clary dan jalan cerita utamanya sendiri pun kehilangan momentum begitu memasuki sepertiga buku: setiap desahan, fantasi, dan kegalauan Clary ketika melihat Jace menjadi menganggu – kalau tidak mau dibilang memuakkan. Tambahan lagi Cassandra Clare entah kenapa tidak memilih memperkenalkan tempat-tempat eksotis fantasi di dunia Shadowhunters melainkan malah mengajak pembaca tur keliling Eropa dengan deskripsi detail beberapa kota romantis ala Prague, Paris, sampai Venice. Loh, ini sebenarnya mau menulis cerita konflik antara Shadowhunters dengan iblis atau mau menulis cerita Shadowhunters: The Backpacking Edition?

Beruntung bahwa di luar kedua tokoh utama ini City of Lost Souls masih memiliki protagonis lain: Simon. Saya mulai menyadari bahwa Simon menjadi salah satu tokoh utama dari The Mortal Instruments ketika porsinya semakin diperbesar di buku kedua dan ketiga. Di buku keempat ia praktis menjadi karakter utama sekunder di belakang Clary dan di dalam buku ini dia dan Clary akhirnya memegang porsi yang sama dalam bercerita hanya melalui dua lokasi yang berbeda. Bedanya sementara Clary sibuk berpacaran dengan Jace seakan ingin membuktikan bahwa dirinya tidak berguna, Simon – layaknya seorang protagonis dan hero sejati – melakukan semua hal yang penting di dalam buku ini: tidak pernah menyerah mendapatkan balik Clary, mencari cara untuk bisa memutuskan ikatan dari Jace dari Sebastian, semua itu tanpa lupa mengatasi pergumulan pribadinya dengan eksistensinya sebagai seorang vampir yang terkutuk.

images
Cover Cetakan Lama

Membaca buku kedua ini feeling saya saat membaca buku pertama makin terbukti: Cassandra Clare tidak memiliki bahan yang cukup untuk membuat trilogi kedua. Alih-alih memperbesar konsep dunia Shadowhunters yang ia perkenalkan di buku pertama, ia lebih banyak berfokus menuliskan masalah hubungan romance antara karakter-karakter di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung dalam buku ini saya membaca EMPAT hubungan: Jace – Clary, Simon – Isabelle, Magnus – Simon, dan Jordan – Maia. Sementara itu subplot yang tadinya saya harap akan berpengaruh pada cerita seperti perebutan kekuasaan vampir antara Raphael dan Camille dan intrik dunia Fairy tidak mendapatkan porsi yang signifikan (kalau tidak mau dibilang tidak diberi porsi penceritaan sama sekali). City of Lost Souls menjadi judul yang tepat rasanya bagi novel ini: semua karakter di dalamnya hilang dalam kegalauan masalah percintaan mereka.

Sementara saya biasanya suka dengan buku-buku Cassandra Clare, saya harus mengakui bahwa ini adalah buku pertama yang saya merasa tidak enjoy membacanya dan harus memaksakan diri menyelesaikannya. Apabila bukan karena tanggung (sudah membaca empat novel dan tinggal kurang satu novel lagi untuk menutup trilogi kedua ini), saya bahkan bakalan menyerah melanjutkannya. Hanya bisa berharap bahwa City of Heavenly Fire membakar semua kegalauan remaja hormonal di buku ini… semoga!

Score: 4.0

Leave a Reply