Setelah membangun konflik dalam dua buku pertamanya The Infernal Devices mencapai klimaksnya di Clockwork Princess. Bisakah tim Shadowhunters London menghentikan rencana jahat Mortmain yang menggunakan Automaton ciptaannya untuk menghancurkan para anak-anak Raziel?

Setelah kehilangan beberapa karakter penting di buku sebelumnya, Clockwork Princess mendapatkan satu tambahan karakter baru dalam diri Cecily Herondale. Dari nama Herondale bisa ditebak kalau Cecily memiliki hubungan darah dengan Will. Kedatangannya di akademi Shadowhunters London tentunya membuat diri Will tambah uring-uringan. Tidak saja ia harus berhadapan dengan fakta bahwa sahabatnya, Jem, akan menikahi Tessa gadis yang disukainya; sekarang ia juga harus memikirkan keselamatan adiknya yang masih seorang Shadowhunter amatiran. Subplot Cecily dan Will ini memberi tambahan dimensi berbeda dalam cerita: sebuah hubungan kakak-adik yang sebelumnya tak banyak mendapat fokus di dalam seri The Infernal Devices. Seerat-eratnya hubungan persaudaraan parabatai Will dan Jem, keduanya tidak terikat hubungan darah.

clockwork-princess
Cover

Ada tiga kisah romantis yang berjalan di dalam novel ini tetapi anehnya saya tidak merasa terganggu sebagaimana membaca City of Lost Souls – mungkin dikarenakan karakter-karakter yang ada di dalam novel ini semuanya likable. Ya, bahkan dua bersaudara Gideon dan Gabriel yang digambarkan sebagai semi-antagonis di dua buku pertama kali ini resmi masuk dalam keluarga akademi London setelah kematian ayah mereka. Seperti yang saya katakan dalam review buku sebelumnya: apa yang membuat seri The Infernal Devices berhasil adalah bagaimana Cassandra Clare membuat kita peduli terhadap keluarga kecil ini, yang akan melakukan apapun guna menyelamatkan anggota keluarga mereka. Juga dari trilogi prekuel inilah kita menjadi sadar kenapa Magnus Bane, seorang warlock yang sangat kuat, berkenan untuk terus membantu Clary dan teman-temannya di trilogi The Mortal Instruments. Saya sangat yakin bahwa ikatan persahabatannya dengan para leluhur Clary, Jace, Alec, dan Isabelle membantu membuatnya mengambil keputusan itu.

images
Cover Lawas

Saya tahu bahwa pembaca The Infernal Devices tentunya juga ingin tahu akhir dari #TeamJem maupun #TeamWill , siapa pada akhirnya yang dipilih oleh Tessa menjadi kekasih hatinya? Tanpa ingin memberikan spoiler apapun kepada pembaca, saya merasa bahwa jalan keluar yang dipilih oleh Cassandra Clare akan membahagiakan semua pihak. Agak bermain aman memang dengan hasil yang cukup memuaskan kedua tim, tetapi tidak apa-apa. Memangnya siapa yang bilang semua novel harus menyayat hati pembacanya ala Game of Thrones? Bicara soal konklusi dari hubungan ketiganya; penulisan Clare – terutama di bagian-bagian ending dari persahabatan ketiganya – terasa sangat emosional. Bagi kalian yang telah mengikuti hubungan ketiga orang ini dari awal kemungkinan besar akan bernostalgia mengingat suka duka yang telah dihadapi ketiganya bersama dan sulit untuk menahan air mata tidak keluar.

the-infernal-devices-clockwork-princess-chapter-18-1
Wah ada manhua-nya

Untuk urusan pacing pun Clockwork Princess melakukannya dengan benar. Novel ini memiliki fokus yang jelas dari awal hingga akhir. Setelah sibuk membangun hubungan dan relasi antar karakter di dua buku sebelumnya Clare langsung berfokus untuk klimaks pertarungan melawan Mortmain. Setelah sang Magister tak keluar sama sekali di buku kedua, kali ini ia muncul dengan membawa kaki tangan robotiknya. Mortmain sang Magister membuktikan dirinya adalah seorang villain yang cerdik, walaupun tak sekarismatik dan memiliki tujuan sejelas Valentine. Toh apabila saya diminta membandingkannya dengan Sebastian saya masih jauh memilih Mortmain. Ada beberapa setpiece aksi seru juga yang ditulis oleh Clare secara detail dalam buku ini. Favorit saya adalah pertarungan di tengah buku di mana para Shadowhunters London harus mempertahankan rumah mereka dari serangan dadakan musuh. Satu subplot yang tidak terlalu berguna dalam buku ini adalah perubahan sikap Consul Wayland yang terlalu tiba-tiba. Subplot ini hanya dimajukan dari cuplikan-cuplikan surat di setiap akhir chapter dan terasa seperti tambahan yang tidak penting. Sosok Konsul yang saya anggap bijak di buku kedua mendadak saja menjadi licik dan berpikiran sempit – saya tak habis mengerti kenapa tabiatnya mendadak saja diubah 180 derajat menjadi orang yang berbeda. Kalau ini cara Clare mengedepankan agenda feminisme dan subyek ‘wanita itu hebat’, maka ini adalah tambahan yang mengecewakan dan tidak organik. Satu lagi keluhanku akan buku ini adalah klimaks pertarungan dengan Mortmain yang… mengecewakan. Cara Clare mengatasi musuh harus saya akui kreatif dan tak terpikirkan, namun di sisi lain berbau solusi deus ex machina. Kalau kalian tidak suka dengan bagaimana Clare menutup klimaks pertarungan dengan Valentine, caranya menutup pertarungan dengan Mortmain dijamin juga akan bikin uring-uringan.

images (2)
Versi orang?

Selesai membaca trilogi The Infernal Devices saya jadi curiga kalau sang penulis jauh lebih mementingkan trilogi prekuel ini ketimbang trilogi kedua The Mortal Instruments. Apabila dibandingkan dari kualitas penulisan, kualitas cerita, sampai detail dunia dan hubungan tiap tokoh di dalamnya, sangat terlihat bahwa Clare memberikan atensi yang jauh lebih mendalam pada The Infernal Devices. Setiap karakter memiliki cara berbicara dan sifat yang berbeda, ada beberapa kali juga Tessa dan Will saling mereferensikan beberapa karya literatur dari era Victoria. Cakupan The Infernal Devices mungkin lebih kecil ketimbang trilogi pertama The Mortal Instruments tapi ia memberikan keintiman yang kadang tak bisa didapat dari trilogi The Mortal Instruments yang kewalahan menyeimbangkan kisah belasan karakter di dalamnya. Pada akhirnya saya sangat puas dengan trilogi The Infernal Devices ini, semoga saja City of Heavenly Fire yang menjadi penutup dari trilogi kedua The Mortal Instruments bisa melanjutkan tren positif ini.

Score: 8.5

Leave a Reply