Di tahun 2009 sampai 2012 lalu seri novel Young Adult menjadi salah satu sumber utama adaptasi ke film Hollywood. Ini dikarenakan seri Harry Potter terus sukses walau pada saat itu sudah memasuki film kelima dan keenamnya. Tak hanya itu seri Twilight dan kemudian The Hunger Games juga mendapatkan popularitas luar biasa. Di luar genre superhero, studio Hollywood sepertinya menemukan lahan emas yang baru untuk membuat adaptasi film. Sayangnya itu tidak terjadi, film-film diadaptasi dari seri Young Adult setelah era emas mulai dari Beautiful Creatures, The Mortal Instruments, bahkan seri Divergent semuanya tak bisa menyamai kesuksesan dari duo saga Twilight maupun The Hunger Games. Kegagalan demi kegagalan membuat Hollywood pun malas mengangkat cerita dari seri Young Adult dan untuk beberapa tahun lamanya tidak ada adaptasi dari seri Young Adult selain trilogi The Maze Runner; layar kaca maupun servis Netflix sepertinya telah menjadi tempat tujuan baru bagi adaptasi-adaptasi tersebut…

… sampai tahun 2018 ini ketika studio 20th Century Fox merilis sebuah film dari seri Young Adult populer: seri The Darkest Minds yang ditulis oleh Alexandra Bracken. Seri ini mulai ditulis di tahun 2012 dan hingga kini sudah memiliki empat novel utama dan dua novela. Dengan kata lain ia punya cukup banyak materi untuk diangkat ke layar lebar. Bisakah film yang diadaptasi dari novel pertamanya meraih kesuksesan untuk menjustifikasi pembuatan sekuel-sekuelnya?

images (4)
Professor X Wanita

Dunia mendadak gempar setelah hampir semua anak-anak di dunia terkena sebuah penyakit misterius. Penyakit misterius ini membunuh hampir seluruh populasi anak-anak di dunia. Mungkin hampir 98% populasi anak di dunia mati begitu saja dan menyisakan populasi anak-anak yang sangat – sangat sedikit. Dan populasi anak-anak yang tersisa itu ternyata mendapatkan bermacam-macam kekuatan baru seperti menjadi sangat jenius, menggunakan kekuatan telekinesis, mampu menghipnotis dan mengubah jalan pikiran seseorang, dan banyak lagi. Setiap anak dikategorikan dari kekuatan mereka masing-masing dari Hijau (level kekuatan terendah dan dianggap paling aman) sampai Orange (level kekuatan yang tertinggi dan harus langsung dibunuh / dihabisi). Ruby adalah seorang gadis dengan kekuatan Orange dan ia sangat beruntung bahwa sebelum ia dibunuh ia mampu memanipulasi hasil tes-nya, membuat ia dianggap sebagai seorang Hijau dan ‘sekedar’ dimasukkan dalam kamp / penjara.

Setelah enam tahun berlalu sebuah inspeksi dadakan di kamp membuat Ruby tak bisa lagi menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang anak berlevel Orange. Lagi-lagi Ruby beruntung. Sebelum ia dihabisi, Ruby berhasil diselamatkan oleh sebuah grup pemberontak yang menamakan diri mereka: The League. Ruby yang merasa bahwa The League juga penuh orang-orang mencurigakan dengan cepat melarikan diri dari mereka – berkumpul dengan sebuah grup independen tiga anak: Zu, Chubs, dan Liam. Tujuan ketiga anak ini adalah mencari suaka perlindungan anak-anak dan tanpa tahu ke mana ia harus pergi Ruby pun mengikuti mereka. Dimulailah road trip empat anak ini melintasi Amerika demi mencari kebebasan dan keselamatan mereka.

images (3)
Pasti kena snap-nya Thanos jadi hilang

Konsep cerita The Darkest Minds jauh dari baru: lebih tepatnya ia seperti gabungan dari dua konsep cerita yang pernah saya baca sebelumnya komik X-Men dan Y: The Last Man. Kekuatan anak-anak yang ada di dalam cerita ini mirip sekali dengan kekuatan mutant di X-Men, begitu pula bagaimana mereka ditakuti oleh para orang tua yang memenjarakan mereka. Di sisi lain setting cerita sekelompok survivor dari wabah mirip dengan konsep cerita Y: The Last Man yang komiknya mengisahkan tentang situasi dunia dystopian bagaimana semua pria disapu wabah misterius di dunia dengan menyisakan satu pria bernama Yorrick Brown.

Film ini memiliki banyak potensi berbicara dalam bentuk metafora tetapi semua terasa tersia-siakan. Salah satu contoh alegori menarik yang bisa ditarik dalam kisah ini adalah bagaimana orang tua memenjarakan anak-anaknya dan ketakutan mereka akan anak-anak yang memiliki kemampuan yang tak mereka miliki; mirip bukan dengan di dunia saat ini di mana banyak generasi tua yang merasa terancam dengan generasi muda yang memiliki kemampuan-kemampuan baru yang tak mereka kuasai, misalnya bagaimana generasi muda lebih piawai menggunakan teknologi dibandingkan generasi di atas mereka. Sayangnya hal ini tidak digali secara lebih mendalam di film. Satu hal lagi yang mengecewakan adalah bagaimana status dunia saat ini terjadi, saya masih sulit menangkap logika dunia di saat 98% anak-anak mereka sudah tewas, kenapa bukannya sisa 2% dilindungi tetapi malah habis-habisan ditangkap dan dipenjarakan? Seandainya pun itu terjadi tidakkah seharusnya ada pertentangan pro dan kontra yang hebat dalam masyarakat? Kurangnya fokus film ini terhadap world building, saya tidak bisa merasakan menonton sebuah dunia yang baru saja melalui sebuah malapetaka yang total mengubah cara manusia hidup dan melihat masa depan. Saya juga tidak tahu apakah manusia masih bisa reproduksi? Apakah anak-anak yang lahir mulai sekarang akan terkena seleksi alam langsung mati atau mendapatkan kekuatan saat lahir? Apakah pemerintahan melarang manusia reproduksi? Semuanya tidak jelas. Konsep bagus. Eksekusi semrawut.

images (5)
I don’t feel so good Mr Stark, eh salah film

Pada akhirnya fokus dari film ini memang kecil yaitu persahabatan antara empat orang: Liam, Chubs, Zu, serta Ruby. Chemistry antara keempatnya standar. Saya suka dengan hubungan persahabatan Ruby dan Chubs serta sisterhood antara Ruby dan Zu (si kecil Zu sungguh menggemaskan sekali). Sayangnya hubungan Ruby dengan Liam menurutku terasa garing dan kekurangan chemistry. Saya tidak pernah bisa menangkap kenapa Ruby dan Liam digambarkan saling suka di dalam film ini kecuali dengan alasan: “karena film Young Adult harus ada pasangan yang bisa dishipping“. Beberapa karakter yang keempatnya temui sepanjang perjalanan mereka pun tidak pernah terasa sebagai karakter yang hidup melainkan sekedar orang yang ditemui untuk memajukan plot cerita. Satu-satunya pengecualian ada pada satu karakter yang akan memegang porsi cukup penting di paruh kedua film berikut twist-nya. Yang saya sayangkan lagi-lagi twist film ini sudah terbaca dari jauh-jauh sebelumnya, bahkan untuk saya yang tidak membaca novelnya.

Jauh sebelum saya menonton film ini, casting dalam The Darkest Minds sudah sarat kontroversi karena blackwashing karakter Ruby. Walaupun Alexandra Bracken selaku penulis mendukung casting Amandla Stenberg (sebelumnya terkenal sebagai Rue di The Hunger Games) banyak fans yang kecewa akan keputusan ini. Setelah menonton pun saya tak mengerti kenapa casting ini harus dilakukan; saya bisa paham kalau Stenberg menunjukkan akting yang baik di film ini tapi nyatanya… tidak. Walaupun saya tak bilang aktingnya buruk aktingnya pun tidak istimewa. Satu-satunya alasan casting ini pada akhirnya hanyalah sekedar masalah diversity. Saya mendukung diversity tetapi tidak kalau itu dilakukan sekedar karena blackwashing. Di antara akting keempat aktor utama film ini yang paling mencuri perhatian adalah Chubs yang diperankan kocak oleh Skylan Brooks. Maaf ya Zu, sesuka-sukanya diriku dengan dirimu yang menggemaskan kamu tak banyak berakting di film ini.

The Darkest Minds pada akhirnya sekali lagi jatuh sebagai sebuah adaptasi novel Young Adult yang forgettable. Tidak sangat jelek sampai membuat saya bersumpah-serapah geram tetapi tidak membuat saya peduli dan ingin menonton sekuelnya juga. Yang paling membuat saya tertawa? Tentu saja product placement karakter Gudetama yang sangat kentara, Sanrio bayar berapa ya untuk iklan promo tersebut?

images (7)
Kita zero chemistry amat ya?

Note: Saya belum membaca novel The Darkest Minds sehingga tidak bisa membandingkan dengan versi tertulisnya.

Score: C

Leave a Reply