Pecinta anime berkualitas di seluruh dunia pasti sudah kenal dengan nama Studio Ghibli. Studio animasi Jepang yang didirikan oleh duet Hayao Miyazaki dan Isao Takahata ini memang sangat terkenal dengan animasi-animasi klasik seperti Tonari no Totoro, Spirited Away, Hotaru no Haka, dan banyak lagi. Bisa dibilang Studio Ghibli merupakan satu dari dua studio animasi yang paling dihormati di dunia karena kualitas produksinya yang konsisten (satunya lagi adalah Studio Pixar dari Disney). Berbeda dengan kebanyakan studio animasi di Amerika yang sekarang sudah bergerak ke medium CG (animasi komputer), Studio Ghibli dengan idealisme masih bersikeras menggunakan teknik gambar 2D, sesuatu yang memang diprakarsai oleh kedua pendirinya. Film dokumenter yang dsyuting oleh Mami Sunada ini menunjukkan sesuatu yang tak pernah kita lihat dari Studio Ghibli sebelumnya: sebuah pengamatan seksama dan intim akan kinerja di balik studio tersebut.

images (4)
The Legend

Film dokumenter ini mengambil setting di tahun 2012 sampai 2013 di mana Mami Sunada merekam kehidupan di Studio Ghibli saat mereka harus memecah tenaga kerja mereka untuk mengerjakan dua film sekaligus. Satu kelompok Studio Ghibli mengerjakan The Tales of Princess Kaguya yang disutradarai oleh Isao Takahata sementara kelompok lain yang dibawahi oleh Hayao Miyazaki berfokus menggarap The Wind Rises. Kedua film ini menjadi satu kesatuan yang signifikan sebab Studio Ghibli merencanakan untuk merilis keduanya pada waktu yang bersamaan – sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan selama lebih dari 20 tahun lamanya. Apa yang membuat hype makin tinggi adalah karena pertama sekaligus terakhir kali mereka melakukan perilisan seperti kedua film tersebut menjadi dua film ikonik yang hingga saat ini masih merepresentasikan Studio Ghibli: Tonari no Totoro (My Neighbor Totoro) dan Hotaru no Haka (Grave of the Fireflies).

images
Poster

Sayangnya fokus dari Mami Sunada dalam film ini hanya diambil dari satu bagian saja: sisi Hayao Miyazaki dan penggarapan film The Wind Rises. Saya suka sekali dengan teknik Sunada mengambil gambar di sini. Sinematografinya dilakukan secara meyakinkan tetapi tidak intrusif, membuat penonton seakan benar-benar tengah hadir dalam keputusan-keputusan kreatif pembuatan film ini… mulai dari pengenalan tim Ghibli yang membantu Hayao Miyazaki, pemilihan pengisi suara yang jatuh ke tangan Hideaki Anno (dikenal sebagai pencipta serial Neon Genesis Evangelion – tetapi pada masa mudanya pernah bekerja di dalam Studio Ghibli), bahkan sampai rapat bisnis mengenai penjualan merchandise dan pemilihan poster film. Tidak berhenti sampai di sana, Mami Sunada pun turut mengikuti Hayao Miyazaki sampai ke rumahnya, menunjukkan sisi lain dari sang animator kreatif ini setelah ia pulang kerja. Melalui dokumenter ini saya dibuat kagum dengan etos kerja seorang Miyazaki. Ia selalu bekerja mulai dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam, setiap hari dari Senin hingga Sabtu tak peduli tanggal merah dan hanya mengambil libur di hari Minggu. Tidak mengherankan karya-karya yang ia hasilkan selalu sangat berkualitas. Sang maestro rupanya memang tak pernah setengah-setengah dalam menggarap karyanya.

Film ini juga mengupas hubungan Miyazaki dengan dua partner terpentingnya di Studio Ghibli: Isao Takahata dan Toshio Suzuki. Kendati di jaman sekarang nama Miyazaki lebih populer daripada Takahata, sesungguhnya adalah Isao Takahata, yang dipanggil Pako-kun oleh Miyazaki, yang menjadi sang mentor Miyazaki muda. Pako-kun juga lah yang memperkenalkan Miyazaki kepada Joe Hisaishi yang adalah komposer utama Studio Ghibli dan membawa Toshio Suzuki ke dalam Studio tersebut. Singkat kata, tanpa kontribusi Pako-kun, tidak akan ada Studio Ghibli yang kita kenal selama ini. Pernyataan ini terasa makin mengharukan mengingat Takahata telah meninggal dunia di awal tahun ini – kalah setelah bergumul bertahun-tahun melawan kanker paru-paru yang dideritanya. Kalau Miyazaki dan Takahata adalah dua orang kreatif yang berjasa menciptakan karya-karya legendaris Ghibli, maka adalah Toshio Suzuki jadi sosok yang berjasa membawa karya tersebut ke layar lebar dengan melakukan perjanjian bisnis dan meeting-meeting dengan berbagai pihak. Ketiga orang ini adalah komponen utama alasan kenapa Studio Ghibli menjadi salah satu studio paling terkenal dan mendunia.

images (2)
Creating

Sementara The Kingdom of Dreams and Madness terasa sebagai film yang lebih jelas menggambarkan sosok Miyazaki (lengkap dengan segala pendapatnya yang candid dan bahkan kontroversial), saya cukup menyayangkan bahwa film ini hanya menyorot Takahata sebagai obyek persahabatannya dengan Miyazaki. Sedikit sekali porsi Takahata di film ini dan kita sebagai penonton pun tak bisa menonton bagaimana proses pembuatan Tales of Princes Kaguya secara detail. Saya sedih sebab di dunia animasi sekalipun nama Miyazaki sudah jauh lebih terkenal dibandingkan Takahata, saya tadinya berharap melalui film ini saya bisa lebih dalam mengenal separuh sosok Studio Ghibli lainnya. Alas, that is not to happen. Mengingat ini menjadi film yang dirilis Studio Ghibli di saat bersamaan, saya merasa menonton film ini seperti hanya menonton satu bagian dari cerita saja. Ironis karena walaupun kedua film ini digadang-gadang sebagai karya terakhir kedua maestro, hari ini kita tahu bahwa The Wind Rises takkan menjadi karya terakhir sang sutradara sebab Miyazaki yang keluar dari masa pensiunnya siap menggarap proyek baru. Di sisi lain, The Tales of Princess Kaguya benar-benar menjadi karya terakhir Takahata sebab hingga mangkat, ia tak pernah membuat film apapun lagi setelah rilisnya. Saya juga sedikit kecewa bahwa film ini tidak menyertakan salah satu ikon Studio Ghibli lainnya: Joe Hisaishi dalam bentuk apapun. Padahal lagu dan musik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap film Studio Ghibli dan mayoritas musik studio ini ditangani oleh Hisaishi.

images (1)
Bersantai?

Terlepas dari beberapa keluhan minor tersebut, saya merasa bahwa The Kingdom of Dreams and Madness adalah sebuah keharusan untuk ditonton kalian yang adalah penggemar Studio Ghibli. Ada begitu banyak kehidupan di balik layar yang bisa kalian lihat di film ini dan menonton proses kreatif di balik penciptaan film-film animasi favorit kalian tentunya adalah suatu insight yang tak terlupakan!

Score: B+

2 Comments

Leave a Reply