Ketika Wreck-It Ralph dirilis di tahun 2012 lalu saya tidak yakin apabila film animasi ini akan mendapatkan sekuel dari Disney. Kenapa? Walau saya sangat menyukai film tersebut, Wreck-It Ralph mengandalkan nostalgia video game klasik dan hal itulah yang memenangkan hati banyak fans video game. Sayangnya juga karena alasan itu film ini tidak mendapatkan sukses besar di box office. Pendapatan 470 Juta USD memang bukan angka yang sedikit tetapi masih jauh dibandingkan kisah-kisah sukses Disney di tahun-tahun sebelum maupun sesudahnya. Asal tahu saja rata-rata film Disney yang sukses mendapatkan pendapatan sekitar 600 – 800 Juta USD. Saya bersyukur bahwa Disney masih mau mencoba membuat sekuel dari Wreck-It Ralph dan kali ini menamainya Ralph Breaks the Internet.

Sayangnya ketika saya melihat trailer pertama dari Ralph Breaks the Internet saya merasa kecewa. Saya sebenarnya sudah agak khawatir ketika mendengar nama ‘Internet’ disebut-sebut. Alih-alih berusaha menggali ikon gaming masa lalu seperti yang saya harapkan, sekuel Ralph sepertinya akan menuju direksi berbeda. Kekhawatiran itu benar-benar menguasai saya melihat trailer pertama dan keduanya, film ini penuh dengan referensi pop culture dunia internet ketimbang dunia gaming dari dekade-dekade 1970-1980an. Hilang sudah harapan saya melihat Mario dan Sonic bisa tampil bersama di film ini. Kekecewaanku rasanya bertambah dengan trailer yang penuh karakter Princess Disney di salah satu segmen membuat saya membayangkan kalau Ralph Breaks the Internet adalah versi The Emoji Movie-nya Disney.

images
Wonder Woman

Ketika menonton Ralph Breaks the Internet, rupanya kekhawatiran saya terbukti: film ini memang sudah tidak lagi berfokus pada dunia nostalgia gaming seperti prekuelnya, melainkan pada internet dan pop culture modern jaman sekarang. Untung saja walaupun tone-nya berbeda, itu tidak membuat film ini jadi jelek. Terlepas dari semua perubahannya itu ada satu hal yang dipertahankan oleh duet sutradara Rich Moore dan Phil Johnston: persahabatan antara Ralph dan Vanellope yang sekali lagi menjadi jiwa bagi film sekuelnya ini.

Enam tahun berlalu semenjak Vanellope akhirnya berhasil menjadi ‘penguasa’ Sugar Rush kembali. Setiap saat ia dan Ralph masih selalu hangout bersama, tetapi ada sebuah ketidakpuasan yang mulai menumpuk di dalam hati Vanellope. Ia ingin merasakan dunia yang lebih dari Sugar Rush. Ralph berusaha membantu menghilangkan kegalauan Vanellope dengan menciptakan sebuah track racing baru bagi sahabatnya itu tetapi niatnya baiknya justru berakhir dengan rusaknya mesin Arcade Vanellope. Tanpa bisa mendapatkan spare part penggantinya, Vanellope terancam kehilangan tempat tinggalnya. Bisa ditebak bahwa satu-satunya tempat di mana itu bisa didapatkan adalah di dalam internet – tepatnya di dalam situs lelang online eBay. Maka Ralph dan Vanellope pun berangkat ke dunia antah berantah bernama internet tersebut.

images (1)
What is she wearing?

Hal yang tidak saya duga diangkat dalam film ini adalah mengenai toxic friendship. Tanpa ingin memspoilerkan isi film ini, hubungan persahabatan dari Ralph dan Vanellope mendapatkan ujian berat dalam film ini, terutama ketika mereka masuk ke dalam dunia internet. Apabila Wreck-It Ralph adalah throwback untuk era masa lalu di mana persahabatan mungkin sederhana dan lurus-lurus saja, Ralph Breaks the Internet adalah analogi untuk persahabatan di masa sekarang yang kompleks. Dan secara pahit film ini seakan menegaskan bahwa walaupun kamu memiliki intensi baik sekalipun, kamu masih bisa menjadi seorang sahabat yang BURUK.

Untuk tipe referensi pop culture yang dimasukkan ke dalam film ini, Ralph Breaks the Internet sepertinya adalah jawaban bagi Ready Player One dari Warner Bros di awal tahun. Ada beberapa referensi yang pintar dimasukkan tanpa terlalu menohok di film ini seperti kinerja di Amazon, Pinterest, Facebook, Twitter, sampai Instagram di dalam film ini. Saya juga tadinya khawatir bahwa film ini akan terlalu berusaha mendorong-dorong unsur Disney cameo di dalamnya. Ternyata tidak, ada beberapa bagian yang terasa dipaksakan (terutama untuk kumpulan para Princess) tetapi secara keseluruhan film ini menggunakan cameo-cameo untuk mendorong momentum cerita dan bukannya hanya sekedar untuk referensi pop culture semata. Satu bonus lagi di film ini adalah tampilnya cameo mendiang Stan Lee yang baru saja mangkat beberapa hari yang lalu. Melihatnya di sini membuatku jadi kembali sedih kehilangan sang legenda Marvel tersebut. Apa yang seharusnya sekedar sebuah cameo sederhana mendadak berubah menjadi sebuah touching tribute.

Saya ingin membuat pengakuan bahwa pada awalnya saya pesimis bahwa Ralph Breaks the Internet tidak akan bisa menjadi sebuah film yang bagus. Di luar dugaan jalan ceritanya sangatlah relatable bagiku. Tema friendship yang diusungnya tidak umum sekaligus mature, penempatan cameo dilakukan dengan cerdas, dan aspek teknis dari film ini pun ditata rapi. Walau saya masih lebih menyukai prekuelnya, saya harus mengakui bahwa ini sebuah film animasi yang layak ditonton seantero keluarga karena pesan moralnya yang apik!

images (2)
Princess Wefie!

Score: B+

Leave a Reply