Saya sudah membaca dua buku Robert T. Kiyosaki dan dua-duanya tidak banyak memberikan sesuatu yang baru bagiku.

Buku pertama Kiyosaki mungkin adalah bukunya yang paling populer: Rich Dad, Poor Dad dan bagi saya buku ini hanya mengajarkan konsep tentang aset dan liabilitas yang sedikit berbeda dari norma-norma pada umumnya. Apakah konsep aset dan liabilitas yang ditunjukkan oleh Kiyosaki dalam buku ini salah? Tidak. Apakah konsep aset dan liabilitas dalam dunia konvensional salah? Tidak juga.

Buku kedua Kiyosaki yang saya baca: Cashflow Quadrant di sisi lain adalah salah satu buku paling membosankan dan tidak berguna yang saya baca. Buku tersebut membosankan, hanya berisi informasi-informasi dasar yang saya rasa orang dengan pendidikan finansial paling cetek pun seharusnya tahu.

1
Buku sakti pembuat orang kaya?

Setelah membaca kedua buku ini saya makin merasa kalau nama besar Robert T. Kiyosaki hanya karena ia jago mempromosikan dirinya sendiri dan bukannya karena konsep-konsep finansial yang dia jelaskan. Banyak sekali ajaran-ajaran dia yang membuatku tidak cocok untuk diterapkan dalam iklim ekonomi Indonesia. Salah satu contohnya adalah bagaimana Kiyosaki sangat mendorong pembacanya mengikuti bisnis Networking (di Indonesia lebih dikenal dengan nama Multi-Level Marketing). Di Indonesia menjadi agen MLM hampir menjadi jaminan pasti kamu kehilangan teman-temanmu. Jelas ini bukan saran yang cocok untuk diterapkan di dunia ekonomi Indonesia. Sialnya saya sudah keburu membeli buku ini jadi mau tidak mau saya memaksakan diri untuk membacanya.

Jadi apa pendapatku setelah membaca buku ini?

Dibandingkan dua buku Kiyosaki sebelumnya buku ini memang lebih berguna dan berisi informasi yang lebih penting, mungkin karena buku ini memiliki page count jauh lebih banyak dibandingkan dua buku lainnya. Itu tidak berarti buku ini bagus untuk kalian-kalian yang sudah memiliki basis pengetahuan finansial karena pada intinya Kiyosaki hanya mengulang-ulang pelajaran yang sudah ia sampaikan di dua buku sebelumnya. Ketimbang kalian menghabiskan waktu membaca ceritanya, saya bisa merangkum apa yang hendak ia sampaikan dalam review ini.

Pertama: apabila kamu hanya bekerja ikut orang, kemudian sekedar menabung, maka sampai akhir hidupmu pun kamu tidak akan bisa menjadi orang yang kaya.

Kedua: satu-satunya jalan untuk menjadi orang kaya adalah dengan berusaha membangun bisnismu sendiri, disambung dengan pengelolaan dana yang benar: seperti mengalokasikan dana ke dalam bisnis dan instrumen investasi aman yang bisa melipatgandakan uangmu.

Ketiga: untuk benar-benar menjadi seorang ULTIMATE INVESTOR, kamu harus bisa membuat perusahaanmu benar-benar besar dan jaya lantas membuatnya melantai di bursa saham. Apabila demikian, kamu sudah bisa menjadi orang yang benar-benar kaya.

4
Mario Teguh-nya Amerika?

Membaca teori yang disebutkan oleh Kiyosaki ini memang menarik, tetapi apakah semudah itu? Apakah semua orang bisa menjadi seperti Bill Gates atau Steve Jobs atau Jeff Bezos yang bisa membangun bisnis bernilai milyaran USD? Jelas tidak semudah itu. Kalian mau tahu berapa jumlah perusahaan yang melantai di Bursa Saham Amerika? Walau jumlahnya variatif saya bisa memastikan jumlahnya ada di bawah 20,000 perusahaan. Sekarang kalian tahu ada berapa orang di Amerika? Lebih dari 300 juta orang. Semudah itukah membuat sebuah perusahaan yang bisa melantai di Bursa Saham Amerika?

Lebih ironis membaca ‘teori’ dari Kiyosaki mengingat dirinya sendiri tidak memiliki perusahaan yang melantai di Bursa Saham. Ini sih namanya seperti orang buta memberi saran kepada orang buta lainnya.

Ada banyak ide yang diangkat oleh Kiyosaki di sini tetapi semuanya terasa mentah. Ambil satu contoh: penjelasannya mengenai pasar saham. Kiyosaki menjelaskan bahwa membeli saham di pasar saham adalah keputusan yang lebih bijak dibandingkan sekedar menabung semata. Lantas ia mengatakan bahwa untuk membeli saham tidak boleh sembarangan saja tetapi harus melihat PER dan fundamental saham itu sendiri. Oke, saya tertarik. Ini adalah sebuah nasehat yang tepat untuk diberikan. Akan tetapi setelahnya Kiyosaki melompat lagi ke investasi lainnya tanpa memberi penjelasan lebih mendalam mengenai saham. Sekedar mengecek fundamental tanpa selalu mengandalkan sisi technical dan melihat PER sebuah saham? Kalau hanya dua itu saja pertimbangan seseorang dalam memutuskan membeli atau tidak saham maka itu jelas penjelasan yang sangat konyol.

2
Audiobook?

Pada akhirnya, walaupun Rich Dad’s Guide to Investing adalah sebuah peningkatan dibandingkan dua buku Kiyosaki sebelumnya saya masih tidak menyarankan kalian buang-buang waktu membaca buku ini. Setelah membaca ketiga karyanya saya kini paham kenapa Kiyosaki tak pernah dianggap sebagai salah satu management guru yang terpandang di Amerika sana selayaknya Benjamin Graham, Warren Buffet, atau Dave Ramsey. This man is a joke.

Score: 5.0

Leave a Reply