Saya senang ketika mendengar bahwa Hollywood memutuskan untuk mengadaptasi novel Crazy Rich Asians ke layar lebar. Salah satu sebabnya adalah jarangnya ada film Hollywood yang mengangkat permasalahan dari orang Asia. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada bintang Asia di Hollywood. Toh aktor seperti Jackie Chan, Jet Li, Donnie Yen, sampai Kumail Nanjiani sudah pernah bermain dalam film-film Hollywood baik blockbuster maupun indie. Toh ada sesuatu yang berbeda dan membuat saya menunggu-nunggu Crazy Rich Asians… ini adalah sebuah representasi dari kaum Chinese di bagian Asia Tenggara: terutama Malaysia dan Singapura. Dari settingnya saja ini membuat Crazy Rich Asians menjadi sesuatu yang lebih personal bagiku.

Rachel adalah gadis yang sangat beruntung. Karirnya sebagai seorang Profesor pendidikan cemerlang dan kehidupan cintanya dengan sang pacar: Nicholas Young baik-baik saja. Nick juga seorang yang sangat berpendidikan tinggi, ganteng, dengan badan yang super keren. Setelah mereka berpacaran selama beberapa tahun lamanya, Nick bahkan meminta Rachel untuk datang ke hometown-nya di Singapura untuk diperkenalkan secara resmi kepada keluarga besarnya. Tentu saja Rachel senang sekali. Ini bisa menjadi merupakan langkah berikutnya bagi mereka – sangat mungkin Nick akan memintanya bertunangan dan melamarnya menikah! Akan tetapi ada satu hal yang Rachel tidak tahu. Nick bukan sekedar seorang ‘pekerja’ biasa-biasa. Di belahan dunia lainnya, Nick adalah seorang high quality jomblo karena keluarga Young adalah salah satu keluarga terkaya di Asia Tenggara sana. Dan kedatangan Rachel ke Singapura akan langsung membuat hubungan cinta keduanya diuji. Bisakah hubungan dari Rachel dan Nick bertahan dari keluarga besar Nick yang akan langsung mempertanyakan latar belakang Rachel sebagai rakyat jelata? Atau bagaimana bila mantan-mantan Nick dan orang yang ingin mendekati dirinya kembali bermunculan?

images (2)
Mencari wanita idaman

Crazy Rich Asians versi film tidak seratus persen mengikuti novelnya dan itu merupakan keputusan tepat yang diambil oleh Jon M. Chu selaku sutradara. Mustahil untuk bisa memasukkan semua momen-momen dari novel di dalam film ini dan Chu melakukan beberapa perubahan seperlunya serta tetap mempertahankan karakter-karakter penting dalam cerita. Hasilnya adalah sebuah film drama yang penuh dengan hati tanpa pernah terasa kepanjangan (walau durasi film ini mencapai dua jam – cukup lama dibandingkan rom-com kebanyakan). Beban terbesar dalam film ini dipegang oleh kedua artis utamanya: Constance Wu dan Henry Golding. Keduanya melakukan tugas yang baik sebagai pasangan kekasih Rachel dan Nick. Saya suka sekali dengan chemistry keduanya yang mengena. Akan tetapi yang paling mencuri perhatian dalam film ini justru adalah tiga artis yang berperan sebagai supporting character dalam cerita: Gemma Chan sebagai Astrid, Awkwafina sebagai Peik Lin, dan Michelle Yeoh sebagai Eleanor Young. Awkwafina tampil sebagai tukang lawak yang menghadirkan banyak tawa di film sementara Gemma Chan memiliki sub-plot cerita yang tak kalah mengena dari jalan cerita utama di film ini. Michelle Yeoh? Sebagai salah satu artis paling senior di film ini Yeoh menunjukkan kelasnya dengan peranan sebagai Eleanor Young yang dingin sekaligus elegan.

images (3)
Be rich

Mayoritas dari film ini mengambil lokasi syuting di Singapura dan pemandangannya sungguh memanjakan mata. Bagi rata-rata orang Indonesia tentu saja sudah familiar dengan negara tetangga kita itu. Siapa sih di antara kita yang tak pernah menjejakkan kaki ke negara seberang tersebut? Walaupun demikian Chu masih saja mampu menangkap keindahan bangunan-bangunan ikonik di Singapura ala Garden by the Bay, Singapore Flyer, Merlion, sampai Marina Bay Sands. Saya salut dengan kekreatifan Chu mengambil setting waktu yang berbeda-beda pada lokasi yang sebenarnya saling berdekatan satu sama lain. Untuk pesta hingar bingar Chu mengambil waktu di malam hari sementara untuk beberapa momen lainnya ia mengambil waktu pagi hari saat sunrise maupun sore hari saat sunset. Satu lagi yang saya suka dari sinematografi Chu adalah kemampuannya mengambil sudut kamera yang pas untuk mengoptimalkan momen-momen emosional cerita. Untuk sebuah film yang punya tajuk ‘crazy rich’, sebenarnya sangat mudah bagi Chu untuk menggambarkan segala perayaan dalam film ini secara hingar bingar dari awal sampai akhir. Tapi rupanya tidak: Chu tak pernah lupa bahwa fokus dari film ini bukan sekedar kekayaan saja tetapi juga orang-orangnya… bukan tanpa alasan momen pernikahan di dalam film ini adalah salah satu momen paling emosional dan romantis di layar lebar tahun ini. Apakah karena kemewahan di dalamnya? Tidak, karena Chu menangkap ekspresi emosi dari tiap aktor melalui banyak shot close-up, mengingatkan penonton that despite all the money it’s truly the heart that matters.

Satu hal lagi yang mengangkat Crazy Rich Asians menjadi lebih dari sekedar film rom-com biasa adalah deretan lagunya yang keren. Soundtrack dari Crazy Rich Asians adalah gabungan yang pas dari lagu-lagu Mandarin klasik, beberapa cover lagu barat yang dibawakan dalam lagu Mandarin, sampai lagu-lagu barat sendiri. Sangat merepresentasikan betapa kultur dari para Chinese di Asia Tenggara sudah merupakan campuran dan terpengaruh dari berbagai adat istiadat mulai dari adat istiadat peranakan, adat istiadat melayu, adat istiadat negeri Cina sampai adat istiadat barat. Tidak heran kalau Jon M. Chu mampu memilih deretan lagu yang tepat mengingat basisnya sebagai penggarap film dance Step Up.

images (4)
Crazy Rich Asians Poster

Kalian yang mengharapkan translasi adaptasi 100 persen dari Crazy Rich Asians versi novel ke layar lebar mungkin akan kecewa. Tapi kalangan purist tak perlu bersedih sebab saya merasa bahwa versi layar lebar yang kita dapat ini jauh lebih superior ketimbang versi novelnya. This is a great rom-com with heart. Can’t wait for the sequel!

images
Gossip all the way!

Score: A

Leave a Reply