Terkadang saya suka bingung dengan kenapa seri Predator masih terus dibuat oleh studio film Amerika.

Jangan salah. Saya adalah penggemar dari salah satu alien bengis paling populer di dunia perfilman ini. Akan tetapi terlepas dari film pertamanya yang dibintangi Arnold Schwarzenegger, franchise Predator tidak pernah mendapatkan sukses di box office. Predator II dibintangi oleh Danny Glover mendapatkan cult following di kalangan pecinta film klasik era 1980 dan 1990an tetapi film tersebut tidak bisa dibilang sukses di box office. Franchise ini memang sempat naik daun karena kesuksesan film crossover Alien vs Predator tetapi sekuelnya AvP: Requiem kandas juga di box office. Terakhir sutradara gaek Robert Rodriguez menggarap film Predators sebagai soft reboot dari franchise ini dan hasilnya pun suam-suam kuku.

5
Poster

Jadi apa yang membuat film The Predator ini dipercaya bisa berbeda? Saya rasa jawabannya ada pada sosok Shane Black.

Black sekarang dikenal sebagai seorang sutradara yang cukup populer di Hollywood dengan gaya penyutradaraannya yang tidak selalu mengikuti pakem konvensional. Akan tetapi ia juga membuktikan bahwa ia cukup fasih menggarap film blockbuster – terbukti dengan Iron Man 3 yang mencapai kesuksesan luar biasa di box office. Black juga dianggap sebagai orang yang tepat mengingat dia pernah bermain bersama Schwarzenegger dalam film Predator pertama. Kalau ada orang yang bisa membangkitkan esensi terpenting untuk membuat film ini sukses, Black-lah orangnya… betul?

Shane Black mengumpulkan sekumpulan aktor watak untuk bergabung di film ini. Boyd Holbrook, Keegan-Michael Key, Thomas Jane, Alfie Allen, sampai aktor bocah Jacob Tremblay semua terlibat di dalam proyek ini. Ceritanya pada awalnya cukup menarik dan berbeda. Quinn McKenna adalah seorang tentara yang tanpa sengaja berhadapan dengan sosok Predator yang mendarat di bumi… sebuah kesalahan terjadi dan Predator tersebut kini mengincar anak McKenna yang menderita penyakit autisme. Bersama dengan rombongan tentara yang dianggap sakit mental dan jiwa karena depresi, McKenna kini harus menghabisi sang Predator sebelum Predator itu mengancam keselamatan keluarganya.

4
The Loonies

Shane Black membangun tone film ini dengan cukup baik pada 2/3 awalnya. Persaudaraan dan banter antara McKenna dan teman-temannya dibangun dengan baik. Saya terutama suka dengan banter antara McKenna dengan Nebraska dan dua tukang lawak Coyle dan Baxley. Secara keseluruhan grup yang menamakan diri mereka Loonies ini memiliki sosok kepribadian yang berbeda dan menarik, membuat penonton suka kepada mereka dengan segala tingkah laku gila mereka. They are soldiers with PTSD but also with heart. Membuat penonton peduli pada karakter fiksi yang tampil di layar bagi saya adalah salah satu kunci keberhasilan film… so this is a great start for the reboot!

Sungguh sayang apa yang sudah dibangun susah payah oleh Black di 2/3 awal film lantas ia rusak sendiri dengan sepertiga akhir yang berantakan. Klimaks film The Predator ini terasa tidak fokus dan tak memiliki nilai ketegangan / suspense seperti dua film pertamanya. Ingat betapa menegangkannya menonton film Predator di saat tim militer yang dipimpin Dutch dan tadinya begitu macho dihabisi satu demi satu oleh sang Predator tanpa berdaya melawan balik? Ketegangan itu tidak saya rasakan di sini ketika para Loonies akhirnya berhadapan secara frontal dengan Predator. Terlalu banyak faksi yang bertikai, terlalu banyak gore yang ditampilkan, terlalu banyak ledakan di sini-sana… dan saya melihat bahwa ini adalah kasus di mana too much gore dan ledakan justru melemahkan – dan bukannya membuat film ini jadi lebih kuat.

3
Too much gore?

Digarap dengan budget melebihi 80 juta USD, The Predator adalah entri franchise yang mendapat gelontoran dana paling besar dari studio Fox, asal tahu saja film Predators di tahun 2011 lalu hanya dijatah budget sekitar 30 juta USD saja. Hasilnya tak seberapa terlihat di film. Walaupun kostum Predator terlihat meyakinkan dan efek CG tampak lumayan (terutama di adegan para Predator Dogs), secara keseluruhan budget sepertinya dihabiskan untuk adegan klimaks yang ironisnya justru merupakan bagian paling tak berkesan di film. Konon bahkan Shane Black sendiri merasa tak yakin dengan klimaks di film ini dan melakukan dua kali syuting: sekali di siang hari dan sekali lagi di malam hari (mungkin sekali membuat budget film membengkak). Sayang sekali bahwa usahanya itu tetap saja tak membuahkan hasil maksimal di produk akhir yang tampil di layar lebar.

1
The end of the franchise?

Pada akhirnya The Predator adalah film lumayan saja. Kalau kalian adalah fans Predator dan ingin melihat sosoknya tampil di layar lebar lagi, here’s your chance. Kalau kalian bukan fans franchise ini? Lewatkan saja. You won’t miss anything.

Score: C+

Leave a Reply