Siapa sangka bahwa di balik negara Korsel yang sekarang tegak berdiri sebagai salah satu negara termaju di dunia pernah ada sebuah sejarah kelam?

Sejarah kelam itu terjadi di tahun 1980 dulu di kota Gwangju. Peristiwa yang kini terkenal dengan nama Gwangju Uprising terjadi saat para mahasiswa dan kemudian penduduk kota Gwangju bangkit memprotes kebijakan dari pemerintahan Korsel. Pemerintahan Korsel tidak terima dan menuding para demonstrator sebagai antek komunis. Tentu saja mengingat hubungan Korsel dan Korut selalu bersitegang, tudingan antek komunis membuat para demonstrator seakan menjadi musuh tentara: layak untuk dihajar dan dibantai.

4
Para Pejuang Demokrasi

Di kala itu Korsel memang sebuah negara Republik tetapi kekuatan pemerintah yang otoriter dan dominan memaksa media blackout dilakukan. Jangankan dunia luar bahkan kota-kota tetangga di sekitar Gwangju pun tak seratus persen yakin mengenai apa yang tengah terjadi di Gwangju. Seorang supir taksi Seoul bernama Kim Man-seob bahkan tak ambil pusing mengenai protes-protes kepada pemerintahan. Yang ia pusingkan hanya bagaimana caranya dia mencari uang untuk membayar sewa rumahnya yang sudah menunggak dan menghidupi putrinya.

Di lain sisi seorang jurnalis Jerman bernama Jurgen Hinzpeter datang ke Korsel dengan satu tujuan. Ia telah mendengar tips bahwa Gwangju ditutup bagi orang dan ia ingin mencoba masuk ke dalam sana, mengambil gambar, dan mengabarkan kepada dunia internasional mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di Gwangju. Masuk ke dalam Gwangju tentunya bukan hal yang mudah sebab Jurgen tak bisa berbahasa Korea dan bahasa Inggris dari Man-seob – taksi yang disewa oleh Jurgen untuk masuk ke Gwangju – sangat pas-pasan. Sempat konflik satu sama lain, kedua orang ini kemudian belajar menghargai perbedaan dan menyadari betapa mengerikannya keadaan di dalam Gwangju.

1
Supir baik hati?

Apa yang kemudian terjadi adalah sebuah kisah uprising Gwangju yang sedikit didramatisir menjadi film humanisme yang menyentuh. Penonton tidak pernah diberi tahu alasan politik yang terlalu mendetail mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Gwangju. Yang penonton tahu adalah terjadi pelanggaran HAM besar-besaran di era tersebut dan pemerintahan Korsel berusaha menutup-nutupinya dari dunia luar dan bahkan dari kalangan rakyat Korsel sendiri. Saya angkat jempol dengan pemerintahan Korsel yang berani melihat sejarah kelam mereka sendiri dan mengakuinya. Ini tentunya sangat berbeda dengan di Indonesia di mana film The Act of Killing dan The Look of Silence yang merupakan film dokumenter kejadian serupa dan dengan motif yang sama ditutup-tutupi bahkan dilarang pemutarannya di Indonesia.

Film ini menjadi makin apik karena akting mumpuni dari dua aktor utamanya: Song Kang-ho sebagai Kim Man-seob yang tadinya egois tetapi lama-lama menyadari bahwa ia tak bisa berdiam diri lagi melihat kejahatan HAM yang terjadi di negaranya. Ini adalah kali keempat saya menonton film yang dibintangi oleh Song Kang-ho dan hebatnya saya selalu menyukai semua film yang ia bintangi (tiga lainnya adalah Memories of Murder, Symphathy for Mr. Vengeance, dan Snowpiercer) Di lain pihak saya juga sangat suka dengan akting dari Thomas Kretchmann yang tadinya datang ke Gwangju hanya dengan tujuan mencari berita tenar sebelum kemudian menyadari bahwa ia adalah satu-satunya harapan menyadarkan dunia mengenai apa yang terjadi di tempat ini. Dari deretan aktor pendukung adalah Yoo Hae-jin dan Ryu Jun-yeol yang mampu mencuri perhatian penonton sebagai rakyat Gwangju yang ingin suara mereka didengar oleh dunia dan menggantungkan harapan pada Man-seob dan Jurgen.

Menyadari bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata tentunya membuat apa yang terjadi di sini begitu menyayat hati. Klimaks film ini adalah salah satu adegan car chase yang bagus sekali bukan sekedar karena sinematografi-nya yang sebenarnya biasa-biasa saja tetapi karena pertaruhan berhasil tidaknya para protagonis meloloskan diri dari kejaran. Apa yang makin menyentuh lagi adalah epilog film yang membawa pesan dari Jurgen di akhir hayatnya (Jurgen yang asli meninggal dunia di tahun 2016 lalu) kepada sang sahabat: Kim Man-seob.

3
Loloskan diri!

Pada akhirnya A Taxi Driver adalah bagian penting dari sejarah Korsel. Mereka bilang bangsa yang hebat adalah bangsa yang berani mengakui kesalahan dan sejarah mereka. A Taxi Driver adalah film di mana Korsel melakukan hal tersebut… dan sebagai penonton film serta bagian umat manusia saya sangat respek dengan dedikasi mereka terhadap kebenaran.

5
Smile

Score: B+

1 Comment

  1. Kebetulan saya baru saja selesai baca Novel Han Kang: Mata Malam. Novel sejarah terkait Uprising Gwanju tapi dari kacamata anak kecil yang tewas karena bentrok, Guru, buruh dan akhirnya orang tua si anak.

Leave a Reply