Hubungan Mari Hirakawa dengan ayahnya yang adalah seorang guru Karate tidak pernah akur semenjak dulu.

Diam-diam Mari menyalahkan ayahnya atas kepergian ibu mereka. Tak hanya itu, Mari merasa bahwa ayahnya selalu berusaha memaksakan kehendaknya kepada Mari; seperti memaksa Mari untuk berlatih karate atau diam-diam tidak menyetujui hubungan percintaan Mari. Di sisi lain sang ayah juga memendam kekecewaan bahwa Mari tidak pernah mau mencoba mengerti maupun mendalami karate yang adalah bagian besar dari kehidupan sang ayah.

1
Karateka Wanita

Hubungan antara keduanya ini terputus ketika sang ayah kolaps di dojo dan meninggal dunia.

Rupa-rupanya sang ayah seakan masih tidak terima dan ingin terus mempersulit hidup Mari. Dalam surat wasiat yang ia tinggalkan, Mari hanya diberi hak 49% saja dari apartemen prestisius mereka di Wan Chai. Hancur sudah impian Mari yang berniat membongkar dojo milik sang ayah lantas menggantinya dengan tempat kos-kosan yang bisa ia sewakan untuk hidup enak. Lebih tragis bagi Mari, 51% dari hak apartemen itu ditinggalkan kepada murid Karate-nya yang taat tetapi sempat salah jalan: Chan Keung. Bagaimana Chan dan Mari bisa menemukan persamaan di balik filosofi hidup mereka yang begitu jauh berbeda? Itu yang berusaha digali oleh film The Empty Hands yang disutradarai oleh Chapman To.

Bagi penggemar film Hong Kong film yang disutradarai Chapman To (juga berperan sebagai Chan Keung di sini) dan Stephy Tang mungkin terasa tidak lazim. Maklum saja, Chapman dan Stephy lebih dikenal dengan peran komedik mereka di dunia perfilman Hong Kong. Film ini di lain tangan (no pun intended) sama sekali tidak ada lucu-lucunya dan adalah drama kehidupan di dunia martial arts, khususnya karate.

Pesan yang dibawa film ini terbilang biasa saja mengenai bagaimana seseorang yang tadinya salah jalan seperti Mari dan Chan berusaha memperbaiki kehidupan mereka masing-masing dengan cara interopeksi diri melalui hak kepemilikan mereka di dojo karate. Di beberapa sisi film ini bahkan terasa sedikit menggurui dan berusaha terlalu artsy melalui sekuen-sekuen perenungan maupun mimpi dari tokoh utamanya. Untungnya saja dalam durasi yang cukup padat (di bawah 90 menit) dan digawangi oleh penampilan luar biasa dari Stephy Tang – begitu realistis dan down-to-earth – film ini jadi tetap menarik untuk disimak dari awal hingga akhir.

3
Belajar Karate

Apabila kalian menonton film ini dengan harapan mendapatkan tontonan aksi karakte yang seru maka akan kecewa. Hanya ada dua setengah sekuens aksi di dalam film ini dan walaupun disutradarai dengan baik tidak ada yang groundbreaking secara sinematografi maupun koreografi. Di sisi lain kalau kalian ingin mencari sebuah drama kehidupan yang humanis: memperlihatkan bagaimana berbagai orang memakai cara berbeda menghadapi kehidupan dengan sedikit balutan karate, The Empty Hands adalah sebuah film yang pas untuk kalian. Layak untuk ditonton dan direnungkan.

2
Poster

Score: B

Leave a Reply