Di antara lima film DCEU yang selama ini dirilis di pasaran hanya satu yang benar-benar secara universal diterima oleh penonton sebagai film yang bagus: Wonder Woman. Alasannya jelas. Film tersebut tidak ambil pusing konektivitas dengan dunia DC secara luas dan fokus membangun karakter, mitologi, dan dunia Wonder Woman. Hasilnya adalah sebuah film yang tampil percaya diri dan sukses di pasaran dan di mata kritikus.

Sayangnya keberhasilan dari Wonder Woman di tahun 2017 itu langsung disambung dengan kegagalan dari Justice League. Usai dari kegagalan tersebut dunia DC seakan dipenuhi tanda tanya, bagaimana dengan semua proyek yang tengah dikerjakan? Apakah masih jadi dibuat? Di balik ketidakpastian itu ada sebuah proyek film yang terus dijalankan… dialah Aquaman yang digawangi oleh James Wan. Walaupun Wan adalah sutradara yang lebih terkenal menggarap film horor macam Insidious dan The Conjuring, itu tidak berarti dia tak paham membuat film blockbuster. Siapa lupa keberhasilan Wan mengambil alih tongkat estafet penggarapan Furious 7 dan sukses memberikan perpisahan emosional bagi Paul Walker?

4
The Poster

Di dunia komik Aquaman adalah sosok lawakan. Tidak ada yang menganggap serius seorang tokoh yang kekuatannya dianggap sekedar bisa berbicara dengan ikan. Padahal sudah beberapa kali dunia DC berusaha mengubah anggapan ini… baik dengan menjadikan Aquaman kehilangan tangannya maupun dengan mengubah kisah originnya di awal The New 52 di tangan penulis bertangan emas Geoff Johns. Cerita dalam film ini kebanyakan mengambil ide dari penulisan Geoff Johns dan itu adalah keputusan yang tepat. Kalau Marvel punya Brian Michael Bendis dan Mark Millar di era keemasannya dulu maka penulis paling jenius yang dimiliki DC pastilah Geoff Johns.

Arthur Curry adalah anak dari dua dunia. Sang ayah adalah seorang penjaga Lighthouse di tepi pantai yang kebetulan menemukan ibunya, seorang Ratu Atlantis yang lari dari pernikahan paksa. Buah cinta dari keduanya adalah Arthur. Kehidupan damai mereka harus terpisah setelah pasukan Atlantis meneror mereka. Tak ingin Arthur dan suaminya diincar lagi oleh pasukan Atlantis, sang ibu pun kembali ke Atlantis dan melahirkan seorang anak bernama Orm, yang bercita-cita untuk menguasai tujuh kerajaan Atlantis dan mendeklarasikan perang pada dunia atas. Satu-satunya orang yang bisa menghentikan Orm adalah Arthur karena ia adalah satu-satunya yang memiliki darah ningrat. Pertanyaanya adalah: maukah Arthur melakukannya?

3
Ini peliharaanku, mana peliharaanmu?

Cerita yang diangkat dalam Aquaman tidak benar-benar baru. Marvel selaku saingan DC pernah melakukannya dua kali: sekali melalui Thor dengan kerajaan Asgard dan sekali lagi Black Panther dengan kerajaan Wakanda. Itu tidak berarti apa yang dilakukan James Wan dengan Aquaman di sini terasa repetitif. Wan membedakan kisah ini dengan kedua film di atas karena Aquaman hadir dengan campuran berbagai genre di dalamnya. Ya, ini adalah sebuah film yang sangat berani!

Secara keseluruhan Wan menghadirkan sebuah kisah hero’s journey dari Arthur yang tadinya tidak mau mengambil tanggung jawab menjadi penerus tahta Atlantis sampai kemudian siap menjadi sang Raja pemersatu Atlantis tetapi dia menggabungkannya dengan berbagai elemen lain. Di satu adegan ia memperlihatkan betapa megahnya kerajaan Atlantis dan kayanya kehidupan bawah laut, lantas di adegan lain film Aquaman mendadak saja berubah bak Indiana Jones yang harus memecahkan teka-teki guna mencari item legendaris, kemudian di adegan lain Wan memasukkan elemen horor, jump scare serta monster yang merupakan genre yang paling dikuasai olehnya. Ada kalanya kisah ini tak selalu mengalir dengan sempurna, terutama paling kentara dalam bagian petualangan Arthur dan Mera mencari item wasiat, tetapi secara keseluruhan saya salut sekali dengan DC yang berani tampil all out mengeksplorasi segala keanehan dan kegilaan dunia bawah laut Aquaman. Dibandingkan film Man of Steel yang berusaha menghadirkan sosok Superman di dunia manusia serealistis mungkin saya jelas memilih penggambaran dunia DC yang seperti ini.

2
Saya capek lawan hantu, saya mau lawan manusia ikan saja!

Satu hal yang ingin saya acungi jempol dalam film ini adalah bagaimana pergerakan tiap-tiap karakternya di dalam air. Ini tentunya berbeda dengan kebanyakan film superhero lain yang menggambarkan karakternya ‘terbang’. Di film ini mayoritas adegan terjadi di bawah lautan dan pertarungan yang terjadi di bawah lautan terasa sangat berbeda koreografinya dengan pertarungan yang terjadi di daratan. Ini adalah hal yang sempat tak saya rasakan dalam klimaks film Wonder Woman di mana semua seakan berubah menjadi pertarungan ala CGI saja. Saya merasa senang bahwa dalam film ini setiap pertarungan masih memiliki ‘bobot’ dalam setiap pukulan, tendangan, dan bantingan yang dilakukan baik oleh sang jagoan maupun musuhnya.

Bicara mengenai musuh dalam film ini Aquaman sekali lagi tampil ambisius dengan menghadirkan dua musuh sekaligus: Orm sang Ocean Master sekaligus lawan ikonik Aquaman Black Manta. Dalam beberapa kritik yang saya baca, orang menyayangkan bahwa Black Manta sudah keburu dipakai di film ini kendati sebenarnya ia lebih cocok dipakai di sekuel. Saya pribadi senang ia dipakai di sini. Bukan apa-apa, Black Manta mungkin dikenal di kalangan pembaca komik tapi di kalangan penonton awam ia tak seterkenal Lex Luthor maupun The Joker, Aquaman pertama bisa menjadi film yang mempersiapkan dia menjadi antagonis sejati bagi sang manusia ikan di sekuel. Memang musuh utama di film ini adalah Orm, adik tiri dari Arthur sendiri, dan ia diperankan secara meyakinkan oleh Patrick Wilson.

Jason Momoa dan Amber Heard kembali sebagai Aquaman dan Mera setelah tampil berdua di film Justice League. Di sini keduanya banyak sharing adegan bersama dan untung saja chemistry antara Momoa dan Heard terasa pas. Momoa masih tampil dengan gaya slengean sebagai Aquaman sehingga pas dipadukan dengan Heard yang tampil sebagai seorang Putri anggun tetapi badass di dunia Atlantis. Tambahkan lagi badan Momoa yang kekar serta Heard yang seksi maka dari awalpun saya yakin banyak orang langsung kesengsem keduanya klop dipasangkan.

Pada akhirnya Aquaman adalah film DC yang bercita rasa Marvel. Dan tidak ada salahnya untuk sedikit meniru dari buku sukses Marvel. Film ini lucu, seru, dan penuh petualangan… terbaik dari DCEU? Bisa jadi!

Score: B+

Leave a Reply