Mungkin ini sulit dipercaya bagi para generasi muda tetapi ada sebuah saat bahwa film superhero tidak sebanyak sekarang. Di pergantian millenium dulu komik Marvel dan DC bahkan tidak populer karena kisah kontinuitasnya selama berdekade-dekade dianggap membingungkan. Di saat itu Marvel memiliki gagasan baru: mari membuat sebuah dunia paralel baru di mana kisah para superhero yang ada bisa dimulai kembali tanpa ‘beban’ kontinuitas puluhan tahun. Maka pada saat itu terciptalah Ultimate Universe yang diprakarsai dengan kehadiran Ultimate Spider-man. Peter Parker di sini tidak seperti Peter Parker di universe utama Marvel yang sudah menikah dengan Mary Jane melainkan kembali menjadi sosok pemuda yang masih di SMU. Selama bertahun-tahun Ultimate Universe laris manis karena ceritanya yang dianggap baru dan revolusioner. Salah satu komik paling populer di lini ini adalah The Ultimates ciptaan Mark Millar – yang kemudian diadaptasi menjadi cikal bakal MCU nantinya.

2
Banyak Spidey ini itu, jadi bingung?

Omong-omong soal Ultimate Universe, di tahun 2011 saat itu Bendis melakukan keputusan yang berani dengan ‘membunuh’ karakter Peter Parker di dunia Ultimate. Kematian dari Peter Parker dan Spider-man membuka jalan bagi seorang superhero baru mengambil mantel Spider-man. Sosok itu adalah Miles Morales. Semenjak kehadiran Miles Morales, banyak orang yang mengharapkan bahwa ia bisa dihadirkan di layar lebar. Setelah Tom Holland terpilih menjadi Peter Parker di MCU, banyak orang yang kecewa merasa bahwa Miles bisa menjadi opsi yang membedakan Peter Parker yang sudah dua kali diperankan di layar lebar sebelumnya – versi Andrew Garfield dan Tobey Maguire. Toh fans Miles tidak perlu sedih karena Sony (yang masih memegang hak cipta Spider-man) sudah menyiapkan rencana bagi Miles Morales dalam bentuk film animasi… Spider-man: Into the Spider-verse.

Film animasi ini memiliki tokoh utama Miles Morales yang setelah digigit oleh seekor laba-laba mendapatkan kekuatan misterius. Itu jelas pertanda buruk bagi Miles sebab ia sendiri tengah menghadapi perubahan besar di hidupnya: Ayahnya menyekolahkan dia di sebuah sekolah elit dan Miles sangat kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di sekolah tersebut. Tak lama setelah digigit oleh sang laba-laba, Miles kemudian terlibat dalam sebuah tragedi yang memantapkan keyakinannya untuk menjadi Spider-man. Tragedi yang dialami Miles itu rupanya juga membuka pintu portal dunia ke pelbagai dunia berbeda – dan dari sana banyak karakter laba-laba dari dunia-dunia lain masuk seperti Peter Parker dewasa dan Gwen Stacy yang berubah menjadi Spider-Gwen. Bisakah Miles menjadi seorang Spider-man sejati dan menutup pintu portal dimensi?

3
Trio Bodoh?

Kendati ada banyak karakter Spiders yang lain di dalam film ini, penonton tidak perlu khawatir bahwa film ini akan kehilangan fokus. Tidak sama sekali. Film ini masih berfokus sepenuhnya pada karakter Miles Morales dan perjuangannya untuk menjadi Spider-man. Tidak hanya itu, masalah Miles dengan keluarganya terutama dengan sang ayah dan sang paman pun banyak mendapatkan sorotan di sini. Kedua orang itu sama-sama dekat dengan Miles tetapi memiliki cara yang berbeda memandang hidup – membuat penonton pun melihat bagaimana Miles bisa melihat dunia tak hanya sekedar hitam / putih saja.

Dengan banyaknya fokus kepada Miles, itu tak menjadikan karakter-karakter Spider lain sekedar tempelan juga. Dari antara banyaknya karakter Spider yang keluar di sini ada dua yang mendapatkan sorotan utama yaitu Peter Parker dewasa yang di dunianya sempat kehilangan motivasi menjadi Spider-man dan Gwen Stacy yang sangat memahami perasaan Miles karena ia pun baru saja kehilangan orang yang penting di dalam hidupnya. Dinamika dan banter antara ketiganya adalah salah satu highlight di dalam film ini. Bicara soal mentor dari Miles, secara tidak langsung Peter Parker dewasa pun menjadi mentor ketiga bagi Miles selain sang Ayah dan Paman, membangun rasa percaya diri Miles menjadi superhero. Jangan khawatir, para sosok Spider yang lain masih diberi porsi dalam bercerita dan banyak kali mereka mencuri tawa dariku dengan tingkah polah mereka yang absurd (Spider-Ham alias Peter Porker, I’m looking at you!) .

Film yang naskahnya ditulis oleh Phil Lord dan Rodney Rothman ini juga memiliki visual yang sangat keren. Bagi penonton yang sudah terbiasa dengan animasi dari Pixar dan Dreamworks pada awalnya akan merasa bahwa frame rate dari film ini lebih rendah dibandingkan kedua studio animasi besar tersebut. Akan tetapi setelah beberapa saat mata kalian akan terbiasa dengannya dan dengan keabsurdan style dari Peter Parker berbagai dunia yang muncul dan nabrak sekenanya di dalam film ini. Sama seperti graffiti yang menjadi passion Miles Morales, film ini pun meledak dan kaya akan warna… terkadang TERLALU kaya akan warna jadi kalau anak-anak tidak terbiasa mungkin akan pusing menontonnya. Coba juga simak lagu soundtrack dari film ini yang menghentak dengan jiwa muda.

Film ini (dan Venom) membuktikan bahwa dunia komik sudah siap menerima inkarnasi dari banyak jenis superhero di layar lebar. Siapa yang peduli kalau ada Tom Holland si Peter Parker muda di MCU, Eddie Brock di Venom yang buas, sampai Miles Morales dalam bentuk animasi? Dan bisakah kalian bayangkan potensi ke depannya? Mungkinkah ketiga protagonis dari berbagai dunia ini bisa saling bertemu ke depannya dalam film crossover epik Sony? Oh, sangat bisa. The Spider-verse is truly limitless!

4
Rupa-rupa Spider-people

Sedikit spoiler, coba simak penampilan cameo dari Stan Lee dalam film ini. Bagi saya sungguh sebuah penampilan yang berkesan – terutama bila kita menyadari bahwa Stan baru saja meninggal dunia beberapa minggu yang lampau.

Score: B+

Leave a Reply