One Cut of the Dead

Setelah saya menonton film One Cut of the Dead saya kebingungan bagaimana cara saya menulis review ini. Ini adalah sebuah film yang HARUS kalian tonton tanpa spoiler apapun. Bahkan kalau bisa jangan lihat trailer film ini sama sekali dan langsung tonton saja filmnya.

Because One Cut of the Dead is not just a good zombie movie… it’s a great zombie movie with heart!

Genre Zombie sendiri sepertinya memang sudah menjadi sebuah genre yang sangat populer. Di dunia film saya percaya hampir semua orang pasti sudah pernah menonton paling tidak satu entri dari trilogi Night of the Living Dead karya Romero, kalaupun bukan yang orisinil maka salah satu remakenya. Jangan lupa juga Resident Evil yang sudah memiliki sampai empat sekuel. Belum lagi kalau kita bicara dengan film parodi seperti Shaun of the Dead-nya Edgar Wright yang sudah dianggap cult classic itu. Kalau kita pergi ke ranah serial maka The Walking Dead – walaupun sekarang bukan lagi bukan fenomena seperti dulu – tetapi masih memiliki rating yang kuat kendati memasuki tahun kedelapannya. Setali tiga uang dengan video game yang memiliki tie-in The Walking Dead maupun The Last of Us (yes this is a Zombie game) yang dicintai para kritikus.

pos
Film harus tetap diputar!

Singkat kata: apakah One Cut of the Dead masih bisa menawarkan sebuah ide yang unik di tengah begitu banyaknya kisah zombie yang ada di pasaran. Mau digali dari unsur apa lagi? Survival? Komedi? Metafora dari kehidupan dunia jaman sekarang? Apakah setting film yang dari Jepang bakalan membuatnya berbeda dari entri-entri yang biasa bersetting di Amerika? Harus diakui pada awalnya saya tidak tertarik (dan bahkan tidak tahu) film ini. Saya menonton film ini hanya setelah mendengar banyak penggemar film indie menyukainya saat ditayangkan di Indonesia beberapa waktu lampau. Penasaran karena film ini dipuji-puji banyak orang, saya pun mencari tahu mengenainya tanpa mencari tahu lebih banyak mengenainya. Saya tahu saya mungkin bakalan kecewa apabila saya sudah terlebih dahulu tahu mengenai twist dalam film ini.

Dan cerita film ini memang sangat sederhana: ini adalah sebuah film yang berawal dari sebuah syuting film zombie. Sang sutradara marah-marah melihat artis utama di film ini seakan tidak bisa serius dalam memainkan perannya. Sang sutradara ingin kesungguhan! Ia ingin teror yang sebenarnya terlihat dari muka sang artis – bukan sekedar kepura-puraan semata. Tak disangka-sangka oleh sang sutradara… hal itu sepertinya benar-benar bakalan terjadi!

1
Mana teror di mukamu?!?!?!

Mengingat apapun yang saya katakan lebih dari ini akan menjadi spoiler bagi film ini, mari saya langsung membahas aspek teknis yang membuat film ini dicari oleh para penggemar film indie: aspek ‘One Cut‘-nya. Gimmick ini sudah cukup terkenal di Hollywood sana. Ada beberapa film yang saya ingat memakai cara penyutradaraan sekali take ini seperti Birdman yang kemudian memenangkan Piala Oscar (walaupun film tersebut sebenarnya hanya diedit supaya terlihat seperti One Shot / One Take / One Cut saja). Belakangan bahkan video game sekalipun menggunakan teknik ini seperti Metal Gear Solid V dan God of War yang mengimplementasikannya dalam gameplay mereka. One Cut of the Dead memfilmkan satu take yang cukup panjang dan membuat film ini menjadi unik, karena belum pernah kan film zombie memakai format semacam ini?

Selain harus salut kepada Shinichiro Ueda yang menyutradarai dan juga menulis skenario orisinil film ini, saya juga harus mengacungkan jempol untuk akting dari Takayuki Hamatsu yang berperan menjadi salah satu aktor utama di film ini. Ia tampil meyakinkan dalam perannya dan banyak adegan emosional di dalam film ini dikarenakan aktingnya. Secara keseluruhan akting-akting para pemain di film ini semua bermain sangat baik mengingat rata-rata mereka hanya aktor-artis amatir saja. Ya, One Cut of the Dead adalah sebuah film berbudget sangat rendah dari Jepang sana. Jangan kaget karena kebanyakan film zombie memang berbudget super rendah. That’s one of the beauty of the genre!

3
Jangan lihat trailer-nya! Jangan cari spoiler-nya!

Pada akhirnya One Cut of the Dead adalah sebuah selebrasi tak hanya untuk film zombie tetapi juga untuk film indie dan filmmaking secara keseluruhan. Ia seakan ingin mengingatkan kepada penonton bahwa membuat film – bahkan yang super sederhana sekalipun – bukan sebuah proses yang mudah dan memiliki banyak tantangan, hambatan, maupun rintangan di dalamnya.

Score: B+

Note: Apakah penutup review ini terbaca aneh sekali? Coba tonton dulu filmnya dan baca lagi review ini. Saya harap kalian akan tertawa saat membacanya kembali.

Leave a Reply