Terkadang menyarankan seorang baru untuk membaca komik adalah perkara yang sulit. Bukan seperti manga Jepang yang memiliki buku pertama yang jelas, komik Amerika memiliki sejarah puluhan tahun, rotasi artis yang berbeda, sampai reboot (pengulangan cerita) dan retcon (perubahan sejarah karakter) berulang kali. Dari mana meminta pembaca baru mulai membaca Batman kalau ada belasan titel Batman di pasaran dan setiap beberapa tahun keluar No. 01 nya?

Dengan alasan itulah lini graphic novel Earth One dirilis oleh DC. Tujuan dari Earth One adalah merilis kisah origin para superhero terkenal DC seperti Superman, Batman, Wonder Woman, dan banyak lagi. Semuanya ditulis dengan kisah baru tanpa dibebani oleh sejarah panjang lebar. Dengan kata lain: semacam kisah Elseworld tetapi berfokus pada Origin superhero. Setelah kesuksesan dari buku Earth One Superman dan Batman, DC merancang proyek berikutnya dan merilis buku Earth One dengan basis superhero lain, salah satunya adalah tim remaja populer mereka: Teen Titans.

Bagi kalian yang tidak familiar dengan siapa itu Teen Titans, mereka adalah grup yang terbentuk dari para sidekick di Justice League. Batman punya Robin. Superman punya Superboy. Wonder Woman punya Wonder Girl. Dan seterusnya. Para superhero remaja ini kemudian bergabung membentuk satu grup. Dan grup tersebutlah yang menjadi fokus graphic novel karangan Jeff Lemire ini.

Keputusan Jeff Lemire menulis graphic novel ini adalah pada konsep roster timnya. Superboy, Robin, sampai Wonder Girl? Semuanya tidak ada di dalam lini tim Lemire. Sebaliknya Lemire memasukkan Cyborg, Terra, Beast Boy, Jericho, dan Raven untuk highlight tim ini. Sadarkah kalian persamaan antara kesemua karakter ini? Mereka semua adalah karakter yang tak memiliki ‘senior’ maupun ‘mentor’. Mereka adalah karakter-karakter yang bisa berdiri sendiri… dan ada alasan bagi Lemire untuk memilih mereka. Rupanya dalam dunia yang dibentuk Jeff Lemire dalam graphic novel Earth One-nya ini grup Justice League bahkan tidak eksis!

images (5)
A world without Justice League

Jadi tanpa para mentor superhero yang mempersatukan mereka, bagaimana Vic (Cyborg), Garfield (Beast Boy), dan lain-lainnya bisa bertemu? Jawabannya adalah… ah, spoiler. Baca saja sendiri.

Ide dari Jeff Lemire dalam merombak kisah origin dari Teen Titans ini layak diacungi jempol. Hilang sudah kisah para sidekick yang ngumpul di sini dan berubah menjadi sekelompok remaja yang tak saling kenal satu sama lain dan terpaksa harus bekerja sama. Saya mengerti kalau Jeff Lemire ingin mengangkat tema dysfunctional family di sini walaupun sayangnya ceritanya tak sepenuhnya berhasil. Berbeda dengan kisah Earth One lain yang hanya berfokus pada seorang superhero, graphic novel ini harus menyorot beberapa superhero sekaligus. Dengan kata lain sudah pasti ada karakter-karakter tertentu yang tak cukup mendapat spotlight. Di dalam graphic novel ini adalah Raven yang kurang mendapatkan spotlight. Sosoknya tak pernah lebih dari sekedar narator cerita dan penyedia deus ex machina dalam plot di momen-momen klimaks buku.

RCO117_1475720767
Sladeeee?

Saya juga tidak suka dengan karakterisasi tiap-tiap Teen Titans di sini. Hampir setiap dari mereka tidak memiliki kepribadian yang menyenangkan dan kerap bertengkar dengan semua orang. Terutama untuk karakter Vic dan Tara yang kata-katanya kasar terhadap semua orang termasuk yang sebenarnya ingin menolong mereka. Kejutan: sosok yang paling simpatik di volume pertama ini malahan adalah Deathstroke. Sosoknya seperti seorang ayah angkat bagi grup remaja berandalan ini dan ia melakukan tugasnya untuk menjaga mereka sekaligus terpaksa menghentikan mereka ketika mereka lepas kontrol. Membaca graphic novel ini sebagai pembaca dewasa, Deathstroke seperti refleksi dari para orang tua yang kerap kesulitan memahami para remaja yang tengah mengalami pubertas.

Dialog Jeff Lemire yang isinya penuh dengan pertengkaran dan pertikaian antara karakter Teen Titans diperparah dengan artwork dari Terry Dodson. Artwork Terry Dodson yang bergaya anime membuat ekspresi setiap karakternya terasa makin over dan ekstrem. Sementara ini bisa berhasil dalam penggambaran manga Jepang, dalam konteks graphic novel ini skrip Jeff Lemire dan artwork Dodson membuat emosi dalam graphic novel ini tersampaikan secara terlalu berlebihan dan ekstrem. If you’re looking for subtlety, you will not find it in this graphic novel. Di sisi lain saya jadi bertanya-tanya apa jangan-jangan memang efek seperti itu yang ingin disampaikan Lemire? Bukankah remaja memang selalu blak-blakan dan emosinya naik turun bak rollercoaster karena hormon dan pubertas yang mereka alami?

images (6)
A new Titan? A Cliffhanger Ending?

Volume pertama Teen Titans: Earth One ini adalah bukti bahwa konsep yang baik dengan eksekusi yang jelek artinya tetap saja nihil. Sungguh disayangkan bahwa walaupun volume pertama ini diakhiri dengan cliffhanger dan kehadiran dari salah satu anggota utama Teen Titans, saya kok tidak tertarik membaca kelanjutannya.

Score: 6.5

Leave a Reply