Ketika How to Train Your Dragon pertama dirilis tahun 2010 dulu, ia menjadi sebuah sleeper hit yang tak disangka-sangka bagi Dreamworks. Studio film Dreamworks semenjak dulu selalu dianggap sebagai kelas dua di belakang Pixar – apalagi di era keemasan Pixar yang melahirkan animasi klasik tiap tahun. Di sisi lain karya-karya Dreamworks kendati sukses di pasaran tapi tidak pernah dianggap sebagai animasi klasik. Semua orang masih ingat akan Wall-E maupun Up, tetapi berapa dari kalian yang masih ingat Shark Tale atau Over the Hedge?

How to Train Your Dragon yang diangkat dari novel karangan Cressida Cowell tadinya hanya dipandang sebelah mata – bahkan oleh studio Dreamworks sendiri. Terbukti bahwa ia dirilis di bulan Maret (kala itu masih merupakan bulan ‘biasa’ non-summer) dan bukannya tanggal rilis premium seperti saat ini. Ini beda dengan Kungfu Panda maupun franchise Shrek yang jelas dipasang di summer masa mereka dirilis. Di luar dugaan How to Train Your Dragon yang menghadirkan kisah tulus persahabatan antara Hiccup dan Toothless menjadi sebuah film animasi yang sukses besar di masanya. Beberapa pecinta animasi bahkan mengatakan bahwa film ini lebih layak memenangkan piala Oscar ketimbang Toy Story 3.

Sayangnya ketika sekuel How to Train Your Dragon dirilis di tahun 2014 lalu hasilnya di box office jauh di luar prediksi banyak orang. Alih-alih mengalami peningkatan pendapatan di box office, How to Train Your Dragon 2 malah mengalami penurunan padahal dirilis di masa summer yang premium. Pada saat itu saya menganggap bahwa Dreamworks tidak akan membuat film ketiganya. Toh How to Train Your Dragon 2 pun sudah memiliki konklusi yang cukup memuaskan dan secara kualitas tidak berbeda jauh dari film pertamanya. Selama beberapa tahun proyek How to Train Your Dragon 3 sempat ada timbul dan tenggelam… dan akhirnya muncul berita bahwa ia benar-benar digarap dan akan dirilis di awal 2019 dengan sub-judul: The Hidden World. Ini menjadi sesuatu yang tak saya duga. Rupanya Dreamworks mau meniru strategi mereka untuk franchise Kungfu Panda di sini (perilisan bulan Januari). Bagaimana dengan kualitasnya?

Setahun sudah berlalu semenjak Hiccup harus belajar memimpin Berg seorang diri selepas meninggalnya sang ayah. Proyek pertama dari Hiccup adalah membuat Berg sebuah utopia di mana para naga dan manusia bisa hidup berdampingan dengan damai. Sayangnya membawa semakin banyak naga ke Berg justru membuat Berg menjadi incaran bagi penjahat dan bajak laut yang ingin menangkap para naga. Hiccup menyadari bahwa ia tak bisa lagi tinggal di desanya dan memimpin teman-temannya untuk melakukan eksodus – sebuah perpindahan besar-besaran – untuk mencari sebuah tempat rahasia di mana naga dan para penduduk Berg bisa hidup dalam damai tanpa gangguan pihak luar.

2
A hidden dragon world?

Masalah muncul dari eksternal maupun internal. Di satu sisi seorang pemburu Night Fury yang terkenal: Grimmel the Grisly mengincar Berg karena Toothless ada di sana sebagai sang naga terakhir. Di sisi lain, Toothless sendiri sedang kasmaran, ia jatuh cinta dengan seekor naga berjenis Fury tetapi berwarna putih. Kalau Toothless adalah seorang Night Fury maka yang ini adalah Light Fury. Hubungan cinta antara Toothless dengan sang Light Fury ini membuat hubungan persahabatannya dengan Hiccup terancam. Bagaimana konklusi dari How to Train Your Dragon? Apakah hubungan persahabatan antara Hiccup dan Toothless bisa bertahan? Bisakah Hiccup menciptakan surga manusia dan naga yang dia impi-impikan?

3
Black and White

Apa yang membuat dwilogi How to Train Your Dragon menjadi sebuah animasi yang begitu dicintai banyak orang adalah tema dewasa yang diangkat dalam animasi ini. Film pertama adalah tentang persahabatan antara dua spesies berbeda yang saling bermusuhan pada awalnya sementara film kedua adalah tentang seorang bocah yang tumbuh menjadi seorang pria. Both are great movies with great heart in it. Kunci dari keduanya adalah hubungan Hiccup dan Toothless dan sekali lagi film ini berusaha menyorot hal tersebut. Hal yang diangkat di dalam film ini adalah sebuah pertanyaan mengenai ‘kebebasan’. Apakah para naga sebenar-benarnya bebas ketika mereka hidup bersama penduduk Berg – walaupun penduduk Berg bisa menerima mereka? Ataukah kebebasan memiliki arti lain? Hal tersebut yang berusaha dijawab oleh film ini dan hasil akhirnya – terutama bagi mereka yang telah mengikuti kisah ini dari awal munculnya – terasa tulus dan menyentuh hati.

Sayangnya di luar momen di klimaksnya, film How to Train Your Dragon: The Hidden World terasa bak film yang membosankan dan datar. Kualitas animasi film ini tidak bisa dipungkiri jauh lebih baik dibandingkan kedua prekuelnya. Lihat saja kualitas animasi Toothless dan Hiccup di tahun 2010 lalu dan bandingkan lagi dengan kualitasnya sekarang. Lompatannya luar biasa! Saya hanya menyayangkan bahwa lompatan kualitas animasi ini tidak dibarengi dengan kualitas cerita dan lagu yang apik juga. Agak mengecewakan karena Grimmel tak pernah terasa sebagai antagonis yang cukup mengancam dan lagu-lagu di film ini terasa flat dan tak memorable.

Pada akhirnya How to Train Your Dragon: The Hidden World adalah entri yang terlemah dari trilogi How to Train Your Dragon. Pun begitu bagi mereka yang sudah keburu mengikuti petualangan duet Hiccup dan Toothless semenjak awal tak boleh kelewatan film ini. This is really it. The real ending of the trilogy.

Score: B

Leave a Reply