Setelah berita Disney merekrut Fox merebak terjadilah sebuah efek domino yang tidak disangka-sangka: serial-serial Marvel di Netflix mulai dicancel satu demi satu. Pertama adalah Iron Fist yang kemudian disusul Luke Cage dan yang paling menggegerkan adalah dicancelnya Daredevil setelah season ketiganya. Ada apa gerangan?

Para kritikus dan analis mengatakan bahwa alasan serial-serial ini dicancel adalah karena Disney akan merilis situs streaming mereka sendiri yang berarti mereka akan menjadi kompetitor langsung dari Netflix (belum lagi ditambah dengan Hulu kini menjadi milik Disney). Pihak lain mengatakan bahwa serial-serial Netflix semakin kehilangan taji dan penontonnya sehingga sebagaimana kebanyakan serial yang penontonnya tak banyak ia layak diberhentikan. Saya sendiri mengakui bahwa season pertama Iron Fist dan Luke Cage tak seberapa menarik sehingga saya malas mengikuti season keduanya. Ini berbeda dengan Daredevil yang season pertama dan keduanya sangat saya sukai sehingga walaupun The Defenders mengecewakan – saya masih tertarik mengikuti season ketiga Daredevil… dan bagaimanakah hasilnya? Apakah harapan saya terlalu berlebihan?

images (1)
Born Again

Di antara empat anggota The Defenders: adalah Matt Murdock yang mengalami perubahan hidup paling besar di akhir serial tersebut. Ia kehilangan Elektra (lagi) dan penduduk di kota New York (termasuk para sahabat dan koleganya) menilai bahwa ia sudah mati karena tertimpa bangunan. Beruntung bagi Matt, nyawanya masih terselamatkan. Akan tetapi Matt kehilangan imannya, ia kehilangan arti dan tujuan kenapa ia bertarung selama ini melawan ketidakadilan. Di sisi lain Kingpin yang telah ditangkap dan dipenjarakan di akhir season pertama mulai merancang kebebasannya di season ketiga ini. Benih itu sudah mulai ditanam di season kedua dan kali ini benih yang ditabur hasilnya dituai. Vincent D’onofrio kerap disebut sebagai sosok villain terbaik dalam MCU dan di sini ia sekali lagi menunjukkan kalibernya. Setelah kehadiran Kingpin dalam Daredevil dunia MCU sempat kedapatan beberapa musuh yang cukup meyakinkan mulai dari Killmonger sampai Thanos. Tetapi Kingpin mengambil tampuk sebagai penjahat paling sangar MCU lewat performa maksimalnya di season ketiga ini.

Sebenarnya tak hanya Vincent D’onofrio saja yang membawa A-gamenya di dalam season ketiga Daredevil ini. Trio protagonis: Charlie Cox, Deborah Ann Woll, dan Elden Henson semua tampil apik sebagai Matt, Karen, dan Foggy. Persahabatan antara ketiganya ditambah dengan moral kompas mereka terhadap keadilan menjadikan ketiganya duri dalam daging untuk kebangkitan Kingpin dari tiga sisi yang berbeda: Karen dari dunia jurnalis, Foggy dari dunia hukum (dan politik), sementara Matt dari dunia vigilante dengan karirnya sebagai Daredevil. Melihat perseteruan antara Matt dan Kingpin, terutama, sangat memuaskan karena keduanya bak kucing dan tikus yang bermusuhan tetapi sekaligus beradu cerdik. Kita tidak pernah tahu sampai penghujung serial ini siapa yang akan menang antara keduanya.

images (2)
Ninja?

Kisah dalam season ketiga ini mengambil salah satu jalan cerita Daredevil yang paling terkenal: Born Again. Born Again yang ditulis oleh Frank Miller (penulis komik yang juga menulis Batman: Year One dan The Dark Knight Returns) dianggap salah satu story arc Daredevil yang terbaik dikarenakan kisah ini menghadapkan The Man with No Fear dengan sang Kingpin yang mengetahui identitas rahasianya dan siap menggunakan segala cara untuk menghancurkan kehidupan Matt Murdock. Beberapa aspek cerita komik tersebut ditransisikan di dalam layar kaca tetapi secara jeli kreator serial ini mengambil beberapa perubahan yang membuat Daredevil season ketiga semakin kuat – terutama bagaimana mereka menggunakan karakter Karen yang tidak semata-mata hanya menjadi love interest dari Matt Murdock saja.

Season ketiga ini juga memperkenalkan beberapa karakter baru bagi penonton. Tiga sosok yang paling banyak mendapatkan screen time di sini adalah Wilson Bethel sebagai Bullseye, Jay Ali sebagai Agent Nadeem, dan Joanne Whalley sebagai Sister Maggie. Ketiganya semuanya mendapatkan story arc yang signifikan di sini dan saya rasa akan menjadi favorit sendiri-sendiri bagi penonton; mulai dari Wilson Bethel yang tampil total menunjukkan kegilaan seorang Bullseye, Jay Ali yang berdiri sebagai sosok Agent Nadeem yang hidup di garis abu-abu, sampai Joanne Whalley sebagai Sister Maggie yang menyimpan rahasia gelap di masa lalunya.

Koreografi dari Daredevil selalu luar biasa dan season ini bukan pengecualian. Saya mencatat ada sekurang-kurang empat (ya, EMPAT!) pertarungan brutal di dalam serial ini yang sangat mengesankan. Menonton adegan koreografi pertarungan di episode ini membuatku sadar betapa jauhnya serial ini sudah berkembang semenjak Hallway Fight yang menjadi trademarknya di season pertama dulu. Aspek inilah yang sampai sekarang masih begitu sulit ditiru oleh serial-serial Marvel Netflix lainnya. Mulai dari Iron Fist, Luke Cage, sampai Jessica Jones… tak satupun mampu menyamai Daredevil dalam kebrutalan dan keberingasan pertarungan koreografinya.

images (3)
Arch-Nemesis

Walaupun banyak orang yang merasa kecewa dengan Daredevil season kedua, saya sendiri menganggap bahwa season kedua tak kalah apik dengan season pertamanya. Bagaimana dengan season ketiganya? Menurut saya season ketiga adalah merupakan season yang tak kalah apik dengan dua season sebelumnya. Sungguh luar biasa menonton sebuah serial yang tak pernah mengalami penurunan kualitas selama tiga season penayangannya. Berita dicancelnya Daredevil oleh Netflix setelah season ketiganya memang sedikit menyedihkan tetapi jangan khawatir. Cerita sang jagoan sudah ditutup dengan manis di penghujung season ini. Apabila suatu hari hendak direboot ulang, rasanya serial Daredevil ini akan dilihat sebagai standar emas yang kudu dilampaui oleh versi rebootnya nanti. A must watch series for all the superhero lover out there.

Score: A

Leave a Reply