Alita: Battle Angel

Bagaimana cara kita tahu sebuah proyek bermasalah? Apabila ia mendadak saja diundur dari jadwal rilisnya yang semestinya. Alita: Battle Angel adalah sebuah film summer 2018 yang mendadak saja diundur dari jadwal rilisnya ke bulan Februari 2019. Alasan sang studio mengundur jadwal rilisnya cukup jelas: mereka tidak pede bersaing dengan film-film summer lain di tahun 2018.

Sebenarnya sejarah dari Alita bahkan lebih lama dari itu. Bukan rahasia lagi bahwa James Cameron sangat kesengsem dengan manga orisinil dari Battle Angel Alita dan ingin mengangkatnya dalam bentuk live action. Rumor akan hal ini sudah ada semenjak tahun 2000 dulu sesudah Cameron sukses dengan film Titanic. Akan tetapi proyek tersebut kemudian ditunda oleh Cameron yang lebih mendahulukan Avatar. Bahkan setelah kesuksesan Avatar film ini tak kunjung diberi lampu hijau hingga terjadi perpindahan kursi sutradara dari Cameron kepada Robert Rodriguez – Cameron menjadi produsernya saja. Dengan begitu panjangnya sejarah dari Battle Angel Alita, apakah hasil yang muncul di layar layak dengan masa penantian yang begitu lama?

images (1)
Alita: Battle Angel Poster

Alita: Battle Angel diangkat dari manga Jepang berjudul Gunnm dan memiliki tokoh utama seorang cyborg misterius tanpa masa lalu yang misterius. Cyborg wanita ditemukan di tempat pembuangan sampah metal oleh seorang Dokter Mesin (alias Mekanik) bernama Dyson Ido. Ido yang menyadari bahwa cyborg wanita ini tidak memiliki nama kemudian memberinya nama: Alita. Ketika Alita sadar kembali, ia (bersama pembaca) mulai belajar melihat dunia di sekeliling tempatnya berada. Tatanan dunia dystopian di saat itu terbagi menjadi dua: dunia atas adalah sebuah kota melayang yang bernama Zalem sementara dunia bawah disebut dengan Iron City. Tidak ada orang dari Iron City yang tahu apa isinya kota Zalem selain sebuah fakta bahwa siapapun yang dibuang dari Zalem ke Iron City tidak pernah bisa lagi naik ke sana. Perlahan-lahan memori Alita akan masa lalunya pun pulih… dan ia pun memulai kehidupannya sebagai seorang Hunter-Warrior yang menangkap dan menghabisi para kriminal.

images (2)
Poster

Film Alita: Battle Angel ini mengambil setting gabungan dari dua volume Gunnm pertama. Karakter-karakter penting dari kedua volume tersebut: Dokter Ido yang menemukan Alita, Hugo yang menjadi kekasih Alita, sampai Nova yang adalah figur antagonis misterius film ini, semuanya hadir di dalam film ini. Sayangnya kehadiran dari semua karakter ini bukannya membuat flow film terasa lancar tetapi malahan terasa aneh… seakan-akan James Cameron (yang juga menulis naskah film ini) berusaha melakukan worldbuilding sekaligus pengenalan karakter-karakter dalam dunia Alita secara mendetail… dan gagal melakukan keduanya. Izinkan saya menjelaskan maksud dari statement saya di atas.

Pertama: worldbuilding. Salah satu kunci keberhasilan film bergenre dystopian adalah kesuksesan membangun sebuah dunia masa depan yang kelam dan tanpa harapan. Ini yang sukses dibangun oleh film-film dystopian sukses macam tetralogi The Hunger Games maupun trilogi The Maze Runner. Itu tidak berhasil digambarkan dalam film ini. Karakter Hugo di sini benar-benar ingin berangkat ke Zalem… tapi kenapa? Motivasinya tak pernah tergambarkan dengan kuat. Banyak orang yang ingin pergi ke Zalem… tapi kenapa? Ya memang kehidupan di Iron City tak seenak kehidupan di Zalem, tapi ia tidak buruk-buruk amat (dalam film ini). Orang masih bisa bersenang-senang, orang masih bisa berjualan dengan tenang. Tidak ada yang harus ketakutan anak mereka diundi ikut permainan maut maupun zombie di dunia luar yang ingin menghabisi mereka. Malahan saya lihat dalam film ini orang yang kena ‘sial’ biasanya orang-orang yang memang dari sananya berkecimpung dalam dunia kriminal dan kegelapan.

Alita-Battle-Angel-Mars-Ship
Ship?

Kedua: karakter. Saya harus mengacungkan jempol dengan bagaimana nama seorang James Cameron mampu menarik bakat-bakat besar bergabung dalam proyek ini. Tidak tanggung-tanggung para pemenang Oscar macam Christoph Waltz, Mahershala Ali, sampai Jennifer Connelly semua masuk dalam film ini berperan sebagai karakter-karakter penting. Saya mengacungkan jempol dengan performa mereka dan terutama lebih kagum dengan akting Rosa Salazar yang dinamis menghidupkan Alita mulai dari kepolosan seorang gadis, membandelnya seorang remaja, sampai jatuh cinta monyet segala. Sayangnya editing dan skrip yang buruk membuat hal-hal ini jadi membingungkan. Apa itu masa lalu Alita dan kenapa ia membenci Nova? Kenapa Alita bisa mendadak suka dengan Hugo – begitu juga ia dengan Alita? Atau kenapa Ido yang tadinya tak suka melihat Alita menantang bahaya mendadak pasrah saja ketika Alita nekat mau menantang bahaya yang lama makin besar? Semua perubahan karakter (yang seharusnya ada dasarnya) ini seakan lenyap begitu saja dan penonton diminta mentah-mentah menerima perubahan sifat mereka begitu saja.

Ketika trailer Alita: Battle Angel pertama kali dirilis dulu orang sempat mengkritik gaya artistiknya di mana Alita digambarkan sebagai karakter CG dengan mata besar ala karakter anime – gaya seperti ini sangat nabrak dengan karakter-karakter lain yang diperankan oleh manusia normal yang hanya mengubah estetika design dari tubuh tetapi tidak muka dan matanya. Secara keseluruhan budget 170 Juta USD untuk film ini memang terlihat pendanaannya dialihkan ke mana (ke efeknya sudah tentu) tetapi pada akhirnya yang perlu dipertanyakan adalah bisakah teknologi keren di tahun 2019 belum tentu masih apik di tahun 2029 atau 2039 nanti.

Alita: Battle Angel akhirnya menjadi sebuah film yang suam-suam kuku. Rodriguez selaku sutradara mampu menghidupkan visi dari Cameron dan sang mangaka Yukito Kishiro ke layar lebar dengan setpiece-setpiece aksi serta dunia dystopian yang kompleks. Akan tetapi karena durasi tayang yang terlalu singkat ditambah begitu banyaknya materi yang ingin disampaikan dalam satu film membuatnya jadi membingungkan – terutama bagi penonton yang tidak familiar dengan materi orisinilnya. Untuk sebuah proyek impian yang baru bisa muncul di layar lebar setelah melalui masa pengembangan hampir 20 tahun lamanya… pantaskah?

Score: C

Leave a Reply