Setelah 20 film lebih berprotagonis laki-laki dan setengah perempuan (Ant-man and the Wasp), Captain Marvel adalah film pertama dalam MCU yang memiliki tokoh utama wanita.

Film superhero dengan tokoh utama wanita sudah tidak lagi menjadi box office poison seperti dekade-dekade lalu di mana film seperti Supergirl, Catwoman, maupun Elektra hancur total. Semenjak Wonder Woman menjadi film origin superhero terlaris sepanjang masa (dan baru dilewati oleh Black Panther di tahun 2018 lalu) perhatian pengamat tertuju kepada Captain Marvel. Pengamat box office sadar bahwa film superhero dengan tokoh utama wanita punya potensi untuk meledak dan sukses besar di box office.

Higher!

Bagi mereka yang bukan pengamat komik tentu tidak kenal siapa itu Captain Marvel. Jujur saja saya yang pembaca komik juga tidak seberapa familiar dengan sejarah dari Captain Marvel. Maklum deh, sejarahnya super kompleks! Captain Marvel pertama sebenarnya adalah seorang pria ras Kree yang bernama Mar-vell. Sosok ini kemudian mengorbankan dirinya, mati, dan untuk beberapa tahun lamanya mantel Captain Marvel kosong di dunia komik Marvel. Dalam dunia komik seorang wanita bernama Carol Danvers mewarisi kekuatan dari Mar-vell dan mendapat julukan Ms. Marvel. Beberapa tahun memakai nama itu, Carol kemudian mengubah namanya dan menjadi Captain Marvel (di tahun 2012). Sosok Carol Danvers inilah yang diumumkan oleh MCU menjadi Captain Marvel pada tahun 2014 untuk perilisan di 2018. Perilisan ini kemudian sedikit tertunda ke 2019 dikarenakan pergeseran jadwal film karena Spider-man: Homecoming.

Skrulls

Film ini kemudian menjadi kontroversial saat Brie Larson selaku artis utama menyatakan beberapa komentar yang dianggap feminis. Ini kemudian menyulut amarah para troll internet (dan beberapa orang yang memang sudah lelah dengan serangan-serangan para SJW) yang ramai-ramai menghujani film ini dengan review jelek – walaupun mereka belum menontonnya. Jadi sebenarnya film ini seperti apa?

Film ini dibuka dalam perang antar ras alien. Yang satu adalah bangsa Kree yang tangguh dan hebat, penjaga kedamaian di galaksi sementara yang satunya adalah bangsa Skrull yang jahat… yang bisa mengubah bentuk badan mereka menjadi makhluk apa saja sehingga menjadi musuh yang sangat sulit dilacak. Vers adalah seorang pejuang Kree yang berusaha sebisa mungkin membasmi kaum Skrull di seantero galaksi. Sayangnya dalam penyerangan mereka yang terakhir Vers gagal mengalahkan Talos, seorang pemimpin grup Skrull, dan tertangkap. Vers mampu meloloskan diri dan terjatuh di bumi – ditemukan oleh dua anggota SHIELD Nick Fury dan Phil Coulson muda.

Mohawk?

Ya, Captain Marvel adalah film yang bersetting di tahun 1995 dulu. Tahun di mana The Avengers masih belum ada dan Nick Fury masih hijau. Ini adalah masa di mana SHIELD bahkan belum pernah menghadapi ancaman luar antariksa dari musuh-musuhnya. Bisa ditebak kedatangan Vers yang mengatakan ia tengah berperang dengan kaum Skrull membuatnya ditertawakan. Nick Fury berhenti tertawa ketika menyadari betapa berbahayanya Skrull yang benar-benar menyusup ke bumi…

Menuliskan resensi ini lebih lanjut rasanya bakalan bersifat spoiler. Yang ingin saya catat di sini adalah bagaimana saya bersyukur bahwa kekhawatiranku di mana film ini akan terlalu mengangkat gaung feminisme tidak terjadi. Captain Marvel yang ditulis oleh penulis wanita Nicole Perlman dan Meg LeFauve menyisipkan beberapa momen feminisme di dalamnya tetapi tidak secara berlebihan sampai membuat penonton jengah. Yang menjadi masalah justru adalah sosok Vers sendiri yang diperankan oleh Brie Larson. Di antara semua protagonis MCU yang saya tonton selama ini hanya dialah yang karakternya paling… datar. Rata-rata protagonis utama Marvel lain memiliki ciri khas mulai dari Tony yang suka ceplas-ceplos, Peter yang polos, sampai Thor yang sok-sokan. Satu kesamaan semuanya: they’re all lovable. Tidak dengan Vers. Vers / Carol di sini punya alasan bersifat dingin tetapi itu juga membuatnya tampil sebagai sosok yang disconnected dengan penonton. Kalau kalian ingin pembanding yang paling pas dengan sosok Carol di sini bisa melihat sosok Clark Kent dalam Man of Steel dan Batman v Superman. Jujur saja… that’s not a good comparison to make.

Beruntung film ini masih memiliki aktor-aktor pendukung yang mampu menyokong performa Brie Larson mulai dari Samuel L. Jackson dan Ben Mendehlson yang lucu, Annete Bening yang bijak, sampai si kucing Goose yang adalah scene stealer dalam film ini. Tak lupa ada sosok Jude Law sebagai senior dari Vers yang perannya selama film terasa ambigu.

Dengan gelontoran dana 150 Juta USD lebih Captain Marvel jelas terasa wah secara efeknya, toh saya merasa bahwa film ini tak termasuk dalam deretan film terbaik MCU. Ia tidak jelek tetapi tidak marvelous juga… dan sesuatu yang biasa-biasa saja adalah hal yang tidak biasa dalam dunia MCU. Harus diakui saya agak khawatir dan kecewa… setelah Avengers: Infinity War ini, untuk kedua kalinya secara berturut-turut film dalam MCU gagal membuat saya excited (Ant-man and the Wasp is boring). Semoga saja Avengers: Endgame bisa mengubah hal ini dan membuat saya kembali jatuh cinta dengan MCU.

Score: B-

Leave a Reply