The Darkest Minds Book 2: Never Fade

Review ini tidak akan berisi spoiler untuk buku Never Fade tetapi akan berisi spoiler dari buku pertama: The Darkest Minds. Consider yourself warned karena saya tidak punya kekuatan Ruby menghapus memori kalian begitu kalian kespoileran.
Walaupun saya suka dengan buku pertama dalam The Darkest Minds series yang ditulis oleh Alexandra Bracken, saya merasa bahwa buku tersebut tidak berhasil menggali seratus persen potensi dari premisnya. Fokus buku pertama yang ada pada petualangan road trip dari Ruby, Liam, Chubbs, dan Zu memang sukses membangun hubungan keluarga keempat orang ini tetapi bahaya dan horor yang harus dihadapi oleh Ruby dan anak-anak lain seumurannya tidak terasa. Akan tetapi buku pertama ini ditutup dengan pecahnya keempat orang ini. Zu memutuskan untuk berpisah dan pergi berpetualang sendiri. Chubbs tertembak dan nyawanya sekarat. Sadar bahwa satu-satunya kesempatan menyelamatkan Chubbs adalah menghubungi Children’s League – sebuah grup radikal yang ingin menggulingkan pemerintah Amerika yang lalim tetapi dengan menghalalkan segala cara termasuk aksi terorisme, Ruby memutuskan bergabung dengan Children’s League tetapi di saat yang bersamaan ia memutuskan untuk menghapus pikiran Liam dan memaksa pria tersebut pergi dari sisinya.

Memasuki buku kedua sosok Ruby yang kubaca adalah sosok Ruby yang sangat berbeda dari buku pertama. Pelatihan dari Clancy Brown (sang anak Presiden berkekuatan Orange seperti Ruby yang ternyata adalah psikopat) dan anggota Children’s League membuat Ruby sekarang sosok yang lebih tangguh dan… sinis. Dengan kekuatannya sebagai seorang Orange, Ruby adalah aset berharga dalam Childrens’s League karena dia bisa mengekstraksi informasi-informasi penting di dalam otak agen-agen pemerintah. Walau kehilangan tiga temannya (Zu, Chubbs, dan Liam), Ruby mendapatkan rekan (karena Ruby tak menganggap mereka sebagai teman) di dalam grupnya. Tiga orang yang memiliki kemampuan berbeda-beda: Vida, seorang biru yang galak; Nico, seorang hijau yang trauma terhadap masa lalunya; dan terakhir adalah Jude, seorang kuning yang selalu optimistis memandang dunia.

images (5)
Never Fade Cover

Sedari awal Ruby sudah menyadari bahwa Children’s League memiliki ‘masalah’ di dalamnya. Grup ini pada awalnya memang didirikan untuk sebuah tujuan mulia: mengekspos pemerintahan yang melakukan riset-riset biadab kepada anak-anak yang memiliki kekuatan. Akan tetapi pada perkembangannya Children’s League menjadi kelompok yang menghalalkan segala cara untuk menunjukkan borok pemerintahan. Di dalam Children’s League sendiri terdapat faksi yang setuju dengan metode seperti ini tetapi ada juga yang membenci metode tersebut. Ruby perlahan tapi pasti menyadari bahwa faksi yang tak setuju dengan metode radikal makin lama makin terdesak dan ada sentimen negatif menghabisi anak-anak yang memiliki kekuatan bahkan dalam Children’s League itu sendiri. Pada akhirnya grup yang sebelumnya bertujuan untuk MENYELAMATKAN anak-anak berubah menjadi grup yang sekedar MENGGUNAKAN anak-anak sebagai alat perangnya.

Sadar bahwa grupnya semakin toxic Ruby yang dikirim keluar dalam misi bersama Jude memutuskan untuk kabur dari Children’s League. Ia memiliki sebuah misi khusus: menemukan sebuah USB berisi data khusus yang bisa mengubah tak hanya nasibnya tetapi nasib anak-anak lain yang selamat dari wabah IAAN.

Dari awal saja saya sudah langsung suka dengan Never Fade dibandingkan The Darkest Minds karena jalan ceritanya yang lebih dark dan menegangkan. Tanpa Liam, Chubbs, dan Zu di sisinya sekeliling Ruby menjadi tempat yang jauh lebih mencekam, gelap, dan berbahaya. Membaca dari sudut pandang Ruby kita bisa paham bahwa gadis ini kini tak bisa lagi mempercayai siapapun di dalam Children’s League. Tak hanya itu teman-teman Ruby yang baru semua digambarkan oleh Bracken sebagai sosok yang mencurigakan. Kita tidak pernah tahu kenapa Vida tampak selalu sinis sepanjang waktu, Nico pun tampak sebagai seorang dengan gangguan jiwa, dan terakhir Jude tampak begitu baik dan polos tetapi pengalaman membuktikan bahwa sosok yang begitu baik ala Clancy Brown rupanya adalah seorang psikopat. Ketidaktahuan siapa yang bisa dipercaya ini membuat Never Fade menjadi lebih intens karena tak hanya Ruby harus berjaga-jaga akan serangan dari para tracer dan PSI tetapi ia juga harus berjaga-jaga dari supaya tak ditikam dari belakang oleh teman-temannya sendiri.

Penulisan Bracken pun terasa lebih ekspansif di buku ini. Selain menjelaskan mengenai para orang dewasa di dunia ini, kita juga diajak lebih memahami faksi-faksi mana saja yang tengah bertikai dalam perebutan kuasa di Amerika sana. Pennjelasan Bracken ini memudahkan usaha saya untuk memvisualisasikan dunia yang ia ciptakan. Bagaimanapun jangan salah Bracken masih ingat bahwa kwartet Ruby, Chubbs, Liam, dan Zu adalah jiwa dari buku pertama. Walaupun ia tak lagi menjadi fokus di buku kedua, hal tersebut tak kemudian dilupakan begitu saja olehnya. Saya tak ingin spoiler apapun tetapi beberapa cliffhanger yang menggantung dari buku pertama dijawab oleh Bracken supaya tak menggantung lagi di sini.

Pada akhirnya Never Fade adalah chapter kedua dari trilogi yang sukses membangun dasar di buku pertamanya. Ia tak mencapai kesuksesan ala The Hunger Games: Catching Fire yang bagiku masih merupakan chapter kedua terbaik dari trilogi Young Adult yang saya baca. But it is a very good and solid read yang membuatku penasaran bagaimana Bracken menutup trilogi ini di buku ketiga: In the Afterlight.

Score: B+

Leave a Reply