Hotel Mumbai

Di akhir tahun 2008, pada tepatnya bulan November 2008, dunia terhenyak dengan sebuah aksi terorisme ekstrimis Islam yang sangat terencana dan brutal.

Mumbai, salah satu kota terpadat di India, diserang secara sangat terkoordinasi oleh sepuluh orang pejihad Lashkar e-Taiba yang membawa senjata otomatis. Serangan pertama dilakukan di stasiun kereta Mumbai yang padat orang. Dengan terkoordinasi, serangan-serangan berikutnya dilakukan pada Rumah Sakit, Cafe-Cafe internasional, sampai Hotel-Hotel Bintang 5. Salah satu target berprofil tinggi di sini adalah Hotel Taj Mahal Palace yang diserang oleh empat dari sepuluh teroris yang ada.

images (2)
No escape?

Perlu diingat bahwa walaupun ini terjadi di dunia pasca 9/11, serangan para radikal terorisme Islam belum segencar sekarang. Bahkan ISIS pun pada masa itu masih berada dalam masa ‘kelahiran’nya. Serangan yang dilakukan secara sangat terkoordinasi dan brutal itu membuat pemerintah India – yang dari sananya juga carut marut – panik dan kebingungan bagaimana cara meresponnya. Para polisi setempat sudah dikerahkan tetapi dengan brutal dihabisi oleh para teroris yang memiliki senjata lebih mutakhir. Para tentara special force India masih berada di New Delhi dan perlu waktu belasan jam bagi mereka untuk bisa sampai ke Mumbai untuk mengendalikan situasi. Walhasil hotel tersebut berhasil dikuasai oleh teroris selama beberapa jam lamanya, menjebak ratusan hingga ribuan turis yang tak dapat meloloskan diri dari hotel tersebut.

images
Poster

Saya mengangkat jempol dengan cara sutradara Anthony Maras menyutradarai film ini. Sedari awal Hotel Mumbai meningkatkan tensi film dan tak pernah menurunkannya sampai film ini berakhir. Saya tak pernah menonton film setegang ini semenjak No Escape hampir lima tahun silam. Ini menjadi semakin impresif mengingat Maras bukan seorang sutradara yang memiliki banyak pengalaman sebelumnya. Bagi sang sutradara Australia itu, film ini adalah film layar lebar pertama yang ia sutradarai. Cara Maras menyutradarai film ini tanpa berfokus kepada satupun karakter sudah tepat. Skrip film yang ia tulis dengan bantuan John Collee mengambil jalan cerita yang terjadi di film ini dari sudut pandang berbagai orang. Sekilas mengingatkanku dengan Patriots Day yang disutradarai oleh Peter Berg andaikata sang sutradara berani tak terlalu mengedepankan sosok Mark Wahlberg di sentral film tersebut.

Itu tidak berarti film ini tak memiliki cast yang meyakinkan sama sekali. Apabila harus ditunjuk film ini sosok yang mendapatkan porsi sedikit lebih menonjol ketimbang lainnya adalah Arjun, seorang pria Sikh yang bertugas sebagai waiter di restoran Taj Mahal Palace Hotel di hari terkutuk itu. Ketika serangan terjadi Arjun bersama dengan para pegawai hotel lainnya harus bekerja sama menyelamatkan dan membantu meloloskan tamu-tamu hotel sebanyak mungkin. Sosok Arjun mungkin dikenal banyak moviegoers sebab diperankan oleh Dev Patel yang dulunya pernah menarik atensi melalui perannya di Slumdog Millionaire. Siapa sangka pria muda tersebut kini telah tumbuh begitu dewasa dan meyakinkan dalam aktingnya? Tak hanya Patel yang berakting prima di sini. Jason Isaac, Armie Hammer, Nazanin Boniadi, sampai Anupam Kher turut bermain prima di sini. Melalui akting-akting merekalah kita bisa melihat heroisme dari para korban serangan Mumbai sekaligus betapa tak berperikemanusiaannya para teroris yang idealismenya telah jauh dari akal sehat.

Saya sebenarnya cukup terkejut melihat film ini bisa ditayangkan di Indonesia. Maklum, muatan dalam film ini cukup sensitif dan mungkin menyinggung kalangan tertentu. Saya sendiri merasa bahwa film ini adalah sesuatu yang mencelikkan mata. Negara ini terlalu kerap menyinggung komunis merupakan bahaya laten negara ini sampai saya rasa negara ini telah lupa bahwa radikalisme Islam juga merupakan bahaya laten lain yang tak kerap disebut hanya karena mayoritas orang di negara ini beragama Islam. Sebelum kalimat tersebut menimbulkan salah paham, ijinkan saya menjelaskan lebih jauh: saya tak mengatakan kalau agama Islam di sini ajarannya salah. Yang salah adalah ketika ajaran dari agama tersebut dipelintir dan kemudian dilaksanakan secara ekstrem dan membabi-buta.

hotel-mumbai-HM_00035_rgb
Survival

Pada akhirnya saya sangat menyarankan Hotel Mumbai untuk ditonton oleh siapapun. Bagi saya ini lebih dari sekedar sebuah film aksi atau thriller berdasar kisah nyata semata, ini adalah sebuah film yang membuka mata mengenai wajah iblis dan teror yang sesungguhnya. The best movie of the year so far.

Score: A

images (1)
A triumph!

Note: Bagi mereka yang tertarik menonton film lain yang mengangkat kejadian yang sama bisa menonton film Taj Mahal dan The Attacks of 26/11

Leave a Reply