Setelah kesuksesan dari Wonder Woman dan Aquaman, DC tampaknya sadar bahwa strategi mereka untuk meraih kesuksesan berbeda dengan Marvel. Sementara Marvel bisa sukses dengan MCU, kebanyakan film-film DC yang mengusung konsep connected universe malah gagal. Tidak heran pada akhirnya Wonder Woman dan Aquaman yang berfokus pada petualangan solo para pahlawannya jauh lebih sukses ketimbang Batman v Superman dan Justice League yang mengedepankan konsep connected universe.

Hal lain yang membedakan kedua film itu dengan film-film DC sebelumnya adalah temanya. Wonder Woman dan Aquaman tidak dark dan brooding melainkan cerah, fun, dan penuh harapan. Tema ini diteruskan dalam Shazam yang disutradarai oleh David Sandberg. Sedikit mengejutkan melihat sutradara yang tadinya tenar lewat karya-karya horor (dengan kata lain berbudget rendah) diangkat untuk film superhero blockbuster macam ini. Apakah Sanders mau mengikuti jejak dari sang senior: James Wan? Bisa jadi, bukankah karya-karya Sandberg sebelumnya adalah Lights Out dan Annabelle: Creation? Tebak siapa yang memproduseri kedua karya ini? James Wan.

Dance

Dan sekarang sedikit sejarah soal karakter bernama Shazam ini…

Di tahun 1940an dulu karakter Superman yang diciptakan DC sangat populer sehingga banyak perusahaan komik lain membuat karakter yang serupa dengannya. Toh menjadi peniru berarti mayoritas karakter tiruan tidak bisa terkenal… selain satu. Ada satu karakter yang diciptakan Fawcett Comics menjadi sangat terkenal. Namanya Captain Marvel. Captain Marvel berbeda dengan superhero lain yang ada di masa itu karena alter-egonya sebagai seorang bocah: Billy Batson. Billy Batson bisa berubah menjadi seorang superhero dewasa bernama Captain Marvel cukup dengan meneriakkan satu kata saja: SHAZAM!

Hero

Nah, karakter Captain Marvel ini menjadi begitu terkenalnya sampai-sampai popularitas dari Superman terancam karenanya. DC pun memutuskan bergerak dan menuntut Fawcett Comics. Tak bisa menghadapi tuntutan DC di pengadilan Fawcett Comics pun jatuh bangkrut. Tragisnya lagi, karakter Captain Marvel yang mereka ciptakan lantas jatuh dibeli ke tangan DC beberapa dekade kemudian. Di tengah masalah dan sengketa hukum ini terjadi, nama trademark Captain Marvel di Amerika kemudian vakum. Stan Lee, yang saat itu adalah kepala dari Marvel Comic, memutuskan menggunakan kesempatan ini untuk meregistrasikan merk tersebut dan lahirlah Captain Marvel dari Marvel Comic – karakter yang kemudian sudah difilmkan bulan lalu dengan Brie Larson sebagai artis utamanya.

Bagaimana nasib Captain Marvel yang pertama? Oleh karena nama Captain Marvel sudah keburu diklaim oleh Marvel terpaksa DC mengubah nama sang superhero menjadi Shazam. Kisah bocah Billy Batson ini telah mengalami reboot beberapa kali dan terakhir kalinya ditulis oleh arsitek dunia komik DC di masa reboot The New 52: Geoff Johns.

Champion

Saya pernah bilang kalau kunci kesuksesan DC sebenarnya sangat mudah: ikuti saja karya-karyanya Geoff Johns karena kisah yang ia tulis rata-rata sangat aksesibel bagi pembaca awam. Ambil contoh film Aquaman yang skenarionya memakai dua kisah yang ditulis Geoff Johns dan dilebur menjadi satu. Begitu juga dengan Shazam, ia memakai kisah origin dari komik yang ditulis oleh Geoff Johns yang kemudian sedikit disederhanakan.

Dalam versi ini Billy Batson adalah seorang yatim piatu yang terpisah dari ibunya. Dia berusaha mengeraskan hatinya untuk tidak peduli orang-orang di sekelilingnya… sampai ia bertemu dengan keluarga angkat baik hati yang memperhatikan dia. Billy berusaha membuka hatinya kepada keluarga ini dengan membantu Freddy – salah satu anak asuh di keluarga tersebut – saat ia dibully. Kebaikan hati Billy ini membuat ia terpilih menjadi Champion of Magic yang bertugas menjaga Rock of Eternity.

Apa itu Champion of Magic dan apa lagi itu Rock of Eternity? Tidak perlu pusing sebab film ini tidak mau repot-repot menjelaskannya. Anggap saja itu adalah jabatan penting untuk menjaga artifak sakti. Yang lebih penting adalah Tujuh Dosa Sakral manusia (Seven Deadly Sins) telah lepas dan dikuasai seorang pria yang haus kekuasaan: Dokter Sivana. Pada masa muda Sivana juga pernah terpilih menjadi calon Champion of Magic – sayangnya ia gagal di tes terakhir. Bukannya menyerah, Sivana muda justru menjadi kesetanan ingin tahu apa sebenarnya Champion of Magic itu dan berubah menjadi penguasa dari Tujuh Dosa Sakral manusia.

Di sisi lain Billy sekarang bisa berubah menjadi seorang superhero setelah mengatakan “Shazam!” . Sebagai superhero (yang namanya tak pernah disebut jelas di dalam film) Billy bersama Freddy menjajal kekuatan super dan bersenang-senang. Waktu bersenang-senang itu bagaimanapun akan segera berakhir ketika Sivana datang mengincar Billy. Bisakah Billy yang masih mempelajari kekuatannya melawan Sivana yang jahat?

Film Shazam melanjutkan tren DC yang tidak lagi mau menjadi berkiblat dark. Strategi itu berhasil karena Shazam menjadi film yang menghangatkan hati dan fun. Bukan berarti tidak dark sama sekali tentunya. Masih ada beberapa bagian dalam film ini yang dark – mengingatkanku dengan film-film anak-anak di tahun 1980an yang tak kelewat disanitasi dalam proses produksinya. Adegan opening film ini terutama terasa cukup brutal dan traumatis bagi penonton awam yang mungkin tak bakalan menyangka adegan semacam itu bisa ada di dalam sebuah film keluarga DC. Toh terlepas dari satu dua adegan yang sedikit sadis dan dark, film Shazam ini bisa dibilang merupakan film DC yang paling light dan fun. Sedikit menarik bagaimanapun melihat tren di dua tahun belakangan di mana dua film terakhir Avengers terasa dark sementara dua film terakhir dari DC justru malahan ceria dan santai-santai.

Film ini digawangi oleh tiga aktor: Asher Angel sebagai Billy Batson muda, Zachary Levi sebagai Billy Batson tua alias Shazam, dan terakhir adalah Jack Dylan Grazer sebagai Freddy. Chemistry antara ketiganya dilakukan dengan sangat baik sehingga membuat flow film ini enak diikuti. Saya mengacungi jempol untuk akting dari Asher Angel dan Zachary Levi yang saling mengisi satu sama lain sehingga perubahan sosok Shazam tak pernah terasa aneh. Bagi penggemar serial TV Chuck tentunya akan sangat senang melihat karir Zachary Levi akhirnya mendapatkan breakthrough melalui film ini. Di lain itu saya juga tak boleh lupa memuji Jack Dylan Grazer. Sosoknya sebagai Freddy yang harus beradu akting dengan Asher Angel dan Zachary Levi juga ia jalani dengan apik. Sebagai sang villain? Tidak salah bagi DC membawa Mark Strong. Sosok ini sudah veteran dalam film yang diangkat dari komik. Tak hanya sekali dua kali saja ia berperan sebagai sosok villain… ingat dengan bagaimana ia menyebalkan sekali sebagai villain utama di film Kick-Ass dan sebagai Sinestro di Green Lantern? Penampilan Strong di sini sebagai Sivana pun meyakinkan sebagai seorang villain yang mengancam.

Shazam tentunya bukan tanpa kelemahan. Saya tidak mempermasalahkan scope film yang terbilang ‘kecil’ untuk ukuran superhero: yang saya permasalahkan adalah waktu durasi tayang film yang saya rasa agak kepanjangan. Bagian pertengahan film ini terutama terasa sedikit dragging dan lambat, membuat saya sempat kebosanan. Untung saja film ini mampu cepat mengkoreksi diri dengan pertarungan akhir yang seru dan sedikit tak terduga (bagi mereka yang tak membaca komiknya). Satu hal lain yang juga agak mengecewakan adalah post-credit scene yang menampilkan musuh yang… tak saya harapkan. Saya bukannya tidak tahu musuh yang diperkenalkan di post-credit scene tersebut tetapi saya merasa antipasi penonton akan film sekuelnya akan lebih meledak apabila lawan yang dihadapkan adalah lawan ikonik Shazam lainnya (Spoiler Alert: Black Adam yang diperankan oleh The Rock)

Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa perombakan DC yang memutuskan untuk tak lagi berfokus pada dunia universe yang terkoneksi sudah merupakan strategi benar. Melihat film-film berikutnya dari DC akan lebih bersifat sebagai stand-alone, DC sudah mantap melangkah ke arah yang baru. Selamat!

Score: B

Leave a Reply