Board Game Azul yang dirilis di tahun 2017 telah menjadi salah satu Board Game paling terkenal di dunia di dua tahun terakhir. Ia menyabet banyak penghargaan termasuk Spiel des Jahres (Board Game of the Year) pada tahun 2018 lalu dan bisa dibilang merupakan satu dari sedikit Board Game yang dikenal oleh masyarakat luas – tak hanya kalangan pecinta hobi ini saja. Tidak heran kalau publisher Plan B Games beserta sang Designer: Michael Kiesling sudah menciptakan sekuelnya. Masih memakai mekanisme utama yang sama dengan pendahulunya, apakah Azul: Stained Glass of Sintra bisa tampil berbeda dengan pendahulunya?

Apabila dalam Azul kamu adalah tukang pasang keramik di lantai maka dalam sekuelnya kamu adalah tukang pasang jendela.

No, I’m not joking there.

Baik Azul dan Sintra semuanya adalah elemen-elemen budaya dari negara Portugal yang adalah tempat di mana Michael Kiesling mengambil inspirasi dari Board Game-nya ini. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Board Game ini juga memiliki mekanisme gameplay yang sama dengan pendahulunya. Masing-masing pemain memiliki Player Board mereka sendiri-sendiri untuk menaruh kaca jendela (dalam prekuelnya kalian memiliki Player Board sendiri yang berfungsi sebagai lantai).

Mekanisme utama game ini adalah untuk mengambil kaca-kaca dari tempat dari tengah meja dan kemudian meletakkannya sestrategis mungkin ke Player Board-mu. Meletakkan kaca-kaca ini pada awal mungkin merupakan hal yang mudah tetapi ketika semakin banyak kaca sudah penuh, di sanalah game ini menjadi lebih intens dan menegangkan. Kenapa? Karena apabila ada sisa kaca yang banyak terambil olehmu… dan kamu tidak bisa memasangnya ke Player Board-mu, maka yang terjadi adalah kamu akan menaruhnya di tempat Broken Glass (Kaca Pecah) dan poinmu akan dipenalti.

Di sisi lain, ada saat-saat tertentu di mana kamu akan nekat membiarkan poinmu dipenalti untuk memenuhi kaca di jendela yang sedang kamu garap. Itu karena memenuhi kaca di jendela menghadiahkan kamu Victory Point… dan mampu menyelesaikan jendela sebanyak-banyaknya akan menciptakan kombo poin yang bisa menutupi penalti yang kamu dapatkan – baik di tengah maupun di akhir permainan. Dengan kata lain Azul: Stained Glass of Sintra adalah sebuah game yang menghadiahi pemain yang berani mengambil calculated risk dalam permainannya dan menghukum pemain yang serampangan mengambil resiko. It’s a great risk and reward balance type of game.

Komponen dari game ini terbuat dengan baik. Saya suka dengan komponen kaca-kaca Sintra-nya. Akan tetapi kalau harus jujur saya masih lebih suka komponen dari sang prekuel. Beberapa warna dari kaca di game ini sedikit mirip (terutama merah dan oranye) dan saya bisa melihat beberapa pemain yang memiliki buta warna akan kesulitan untuk memainkan game ini (beruntung game ini memiliki sistem untuk mengakali hal tersebut). Kelemahan terbesar dari komponen Azul: Stained Glass of Sintra terletak pada Player Board dan Score Board yang agak ketipisan. Andaikata 1-2 milimeter lebih tebal saja tentu akan lebih baik.

Jadi bagaimana penilaianku tentang game ini? Ia ditujukan untuk dua kalangan. Kalangan pertama adalah mereka yang sangat – sangat menyukai Azul dan ingin mencoba versi berbeda (dan sedikit lebih kompleks) dari Azul tetapi masih mempertahankan mekanisme utama yang sama. Kalangan kedua adalah mereka yang tidak pernah memainkan Azul tetapi ingin mencoba game ini. Bagi kalian yang merasa biasa-biasa saja dengan game Azul dan sudah memiliki game tersebut, saya rasa tak perlu mencoba game ini karena ia tak cukup menawarkan mekanisme baru yang membedakannya dari sang prekuel. This is definitely a solid and engaging game, but it’s missing the x factor that made its predecessor legendary.

Score: 7.5

Leave a Reply