Nama Mamoru Hosada pertama kali mencuri perhatianku di tahun 2006 melalui animasi The Girl Who Leapt Through Time. Bagi mereka yang suka dengan Kimi no Na Wa alias Your Name film The Girl Who Leapt Through Time harusnya juga akan mereka sukai. Pengarahan Mamoru Hosada di film itu dia lakukan dengan bagus dan hasilnya adalah sebuah film animasi yang timeless dan klasik. Nah, satu film lainnya dari Mamoru Hosada yang menyita perhatianku adalah Wolf Children dengan judul Jepang Okami Kodomo no Ame to Yuki.

Saya tadinya tak ingin menonton film ini membaca premisenya: seorang gadis mahasiswi jatuh cinta pada seorang pria yang ternyata adalah werewolf. Patut diingat bahwa di tahun 2012 ketika film ini dirilis dunia masih tengah kesengsem film romance supernatural ala Twilight dan teman-temannya. Saya jadi malas menonton film ini karena sudah merasa bosan dengan tema tersebut. Baru beberapa tahun kemudian saya memutuskan menonton film ini ketika senggang dan terkejut betapa ia sama sekali bertutur di luar dugaanku.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, protagonis utama dari kisah ini adalah Hana yang jatuh cinta pada seorang pria misterius yang rupa-rupanya seekor / seorang werewolf. Cinta yang tak mengenal spesies ini kemudian melahirkan dua orang anak: Yuki dan Ame. Tragedi terjadi, sang pria meninggal dunia saat tengah berburu makanan bagi kedua anaknya. Hana ditinggal menjadi seorang single parent yang harus berpikir keras bagaimana caranya mendidik dan membesarkan dua orang anak yang adalah hybrid dari manusia / serigala. Bukan perkara yang mudah. Tidak lama kemudian Hana tidak tahan lagi untuk tetap hidup di tengah kota karena terus menerus dicerca dan diselidiki oleh tetangganya. Ia pun pindah ke daerah (di luar Tokyo) dan tinggal di pedalaman desa. Di sini Yuki dan Ame bisa tumbuh dengan lebih bebas dan lebih dekat dengan alam di mana mereka bisa berubah wujud menjadi serigala tanpa takut.

Tentu saja pindah ke pedesaan tidak lantas menyelesaikan semua permasalahan mereka begitu saja. Hana setiap harinya harus berhadapan dengan masalah yang baru yang mengancam menghancurkan status quo yang berusaha ia ciptakan setiap harinya.

… dan itulah yang membuat film Wolf Children ini begitu relatable bagiku. Ini bukan sebuah romance supernatural tetapi sebuah film tentang parenthood (lebih tepatnya mungkin motherhood). Betapa besar pengorbanan seorang ibu (Hana) di dalam film ini untuk bisa tetap menghidupi Yuki dan Ame. Betapa ia berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk kedua anak-anaknya, kendati keduanya memiliki kesukaan dan bahkan jalan hidup yang berbeda. Setiap momen di dalam film ini mampu membuat kita teringat akan pengorbanan ibu kita sendiri dalam menghidupi kita. Apabila kalian dibesarkan oleh ibu seorang diri alias single parent? Film ini bahkan bakalan lebih mengena lagi. Saya juga baru menyadari saat menonton film ini bahwa tidak ada gunanya berusaha menciptakan status quo untuk anak-anak kita, setiap kali mereka tumbuh mereka akan berubah dan status quo itu akan hancur dengan sendirinya. Dinamika kehidupan dan memiliki anak-anak… what a beauty that is.

Film ini diproduksi oleh Studio Chizu dan Madhouse dan kualitasnya benar-benar terlihat apik. Setiap adegan baik di perkotaan maupun di pedesaan tergambar dengan indah. Pergerakan hewan-hewan seperti rubah, beruang, dan tentu saja serigala diciptakan dengan gemulai. Keharmonian dengan alam yang menjadi basis dalam masyarakat Jepang direpresentasikan dengan kuat di dalam film ini. Saya salut melihat preparasi Hosoda selama tiga tahun menciptakan film ini berbuah salah satu karya terbaiknya… tidak kalah, bahkan mungkin sedikit lebih apik dibandingkan The Girl Who Leapt Through Time.

Apabila ada sedikit kelemahan di film ini itu terletak pada first actnya di mana hubungan romantisme Hana dan sang pria werewolf tergambar terlalu cepat. Juga saya sedikit heran akan peranan dari orang tua / keluarga besar Hana yang tak pernah disebut-sebut sepanjang film. Terlepas dari beberapa keluhan minor yang menganggu itu, saya tetap merasa bahwa Wolf Children patut ditonton oleh siapapun yang ingin menonton film yang apik tentang motherhood / parenthood.

Score: A-

Leave a Reply