Film dengan tema revenge sepertinya masih menjadi tema menarik di Hollywood yang tak habis-habisnya digali. Peppermint mengangkat tema yang sama tapi dengan karakter utama wanita: Jennifer Garner. Hal ini sebenarnya bukan hal baru baik di genre ini (Kill Bill, Atomic Blonde dan Colombiana masing-masing memiliki jagoan wanita yang badass) dan bahkan Jennifer Garner pun pertama kali dikenal sebagai jagoan wanita yang tough, baik di dalam serial TV Alias dan film dwilogi superhero Daredevil dan Elektra. Tambahan lagi Pierre Morel sudah entah berapa kali menyutradarai film semacam ini. Ingat bahwa genre ini mengalami perkembangan pesat karena Morel menggarap film Taken di tahun 2008 dulu.

Pertanyaannya adalah: apakah dengan semua komponen ini film Peppermint bisa menjadi film aksi yang seru dan berbeda dari biasanya? Atau justru komponen-komponen ini malahan menghasilkan tontonan yang familiar dan repetitif?

Lima tahun yang lalu Riley North kehilangan segalanya. Suaminya: Chris, diajak oleh temannya untuk merampok Diego Garcia, seorang kingpin obat bius yang sangat berkuasa di Los Angeles. Chris menolak dan melanjutkan kehidupannya. Yang tidak ia sangka adalah Diego menangkap temannya dan menginterogasinya. Diego tidak ingin ada satupun orang yang hidup – bahkan mereka yang sekedar ‘diajak’. Ia mengutus bawahannya untuk menghabisi Chris dan keluarganya. Saat Riley dan keluarganya sedang jalan-jalan di theme park mereka ditembak, Riley selamat tetapi suami dan anaknya tidak. Perjuangan Riley mencari keadilan di ruang pengadilan pun kandas karena semua hakim, jaksa, pengacara, dan juri telah korup dan bekerja di bawah Diego Garcia. Riley menghilang dan memutuskan untuk main hakim sendiri. Lima tahun kemudian, berbekal dengan pengetahuan yang ia pelajari dari berkeliling dunia mengubah Riley menjadi seorang assassin yang brutal dan efisien, perjalanan Riley untuk balas dendam pun dimulai.

Saya merasa Garner adalah seorang artis yang terlalu sering dipandang remeh oleh kebanyakan orang. Padahal dia merupakan seorang artis yang multi-talenta dan bisa tampil di berbagai peranan. Orang mungkin pertama mengenal dirinya sebagai artis serius dan kick-ass di TV, tetapi di tahun-tahun berikutnya Garner membuktikan diri kalau dia bisa tampil di berbagai genre mulai dari rom-com, drama serius, sampai drama keluarga. Di dalam film ini Garner sekali lagi membuktikan dirinya bisa tampil believable sebagai seorang ibu yang meratapi keluarganya yang hilang. Akting Garner yang putus asa saat keadilan diambil darinya membuat film ini menjadi believable – bahkan ketika skenario yang ditulis oleh Chad St. John tidak masuk akal. Hey, hanya seorang Bruce Wayne yang bisa menghilang lima tahun lantas mengubah diri dari seorang biasa menjadi seorang badass bernama Batman… itupun ia dilatih oleh para assassin terbaik dunia di dalam The League of Assassins.

Kembali pada film Peppermint, penampilan Jennifer Garner yang meyakinkan ini sayangnya tidak didukung oleh aktor lainnya. Mulai dari John Gallagher Jr. yang berperan sebagai Detektif simpatik Carmichael sampai Juan Pablo Raba sebagai sang villain Diego Garcia, mereka semua sepertinya sekedar tampil untuk mendapatkan gaji saja. Saya tidak pernah bisa bersimpati dengan sosok John Gallagher Jr. yang posisinya di film tak pernah jelas bagaimana. Di sisi lain Raba berperan over sebagai seorang villain Diego Garcia sehingga membuatnya tidak realistis. Setelah menonton serial Narcos dan melihat Wagner Moura berperan sebagai sosok Pablo Escobar, penampilan Raba menjadi bak karikatur saja.

Saya juga kecewa dengan adegan-adegan aksi di dalam film ini. Garner adalah seorang artis yang terampil dan saya tidak ragu ia bisa melakukan stunt martial arts maupun baku tembak secara meyakinkan. Dan andaikata Peppermint dirilis satu dekade yang lalu mungkin ia bisa jadi tontonan yang cukupan. Toh setelah kelahiran film dwilogi The Raid, ekspektasi saya (dan penonton secara umum) sudah jauh meningkat. Ketika kita bisa menonton adegan brutal ala Atomic Blonde dan John Wick yang dieksekusi dengan koreografi sangat meyakinkan dan inventif – Peppermint jatuh sebagai tontonan yang hambar. Tidak ada satupun setpiece aksi di dalam film ini yang membuat saya terkesan. Bahkan serial TV semacam Arrow dan Daredevil bisa mengeksekusi koreografi pertarungan yang lebih seru. What a bore.

Peppermint adalah sebuah kesempatan yang terlewatkan. Menilik ini merupakan kali pertama Jennifer Garner kembali di genre aksi setelah sekian lama, ia seharusnya bisa menjadi sebuah tontonan yang seru. Sayangnya, ia malah menjadi sebuah film revenge generik yang sudah tak punya tempat di dunia perfilman modern sekarang.

Score: C-

Leave a Reply