Tanyakan kualitas dari serial Game of Thrones dan opini populer dari banyak orang akan mengatakan bahwa kualitas serial ini mulai menurun memasuki season keenamnya. Hal ini bukannya tanpa alasan. Season pertama sampai kelima dari Game of Thrones bisa dibilang mengikuti buku novel yang ditulis oleh George R.R. Martin dengan detail, dengan sedikit tambahan-tambahan dari duet kreator serial ini D & D. Masalah mulai timbul memasuki season keenam dikarenakan penulisan George R.R. Martin yang super lambat mengakibatkan serial TVnya keburu melewati jalan cerita yang ditulis oleh Martin di novelnya. Lantas bagaimana?

Berulang kali D.B. Weiss dan David Benioff meyakinkan penonton bahwa apapun ending dari serial Game of Thrones ini, itu adalah ending yang divisikan oleh George R.R. Martin, sebab ending itulah yang sudah dibahas oleh sang penulis kepada mereka. Season keenam dan ketujuh mengalami penurunan kualitas – betul. Tapi pada akhirnya masih banyak sekali poin positif yang dipetik fans dari serial ini. Beberapa revelations seperti dari mana nama Hodor berasal sampai pertempuran habis-habisan antara dua Bastards mendapatkan tepuk tangan dan apresiasi riuh dari para penonton TV. Penonton bahkan ‘mengampuni’ Weiss dan Benioff ketika mereka vakum dengan Game of Thrones season kedelapan di tahun 2018 lalu walau durasi dua season terakhir hanya 7 dan 6 episode saja. Mereka percaya dengan janji Weiss dan Benioff yang menyatakan kurun waktu dua tahun dari season ketujuh dan kedelapan akan terbayar lunas dengan kualitas teknis yang spektakuler.

Dan hasilnya?

Saat kalian membaca artikel ini Game of Thrones seakan baru melakukan tragedi ala How I Met Your Mother. Jutaan fans mencaci maki season terakhir ini dan bahkan sejuta lebih mempetisi supaya season terakhir ini diremake kembali. Sebenarnya bagaimana kisah dari season terakhir ini? Saya tidak akan masuk ke dalam teritori spoiler yang berlebih – tetapi bagi kalian yang tidak ingin tahu sama sekali kisah penutup A Song of Ice and Fire sebaiknya tidak membaca review ini dulu.

Season terakhir ditutup dengan pengkhianatan Cercei kepada aliansi manusia di utara. Alih-alih menyiapkan tentara untuk membantu Dany dan Jon menghadang para White Walker, Cercei malahan menyiapkan pasukan untuk melawan siapapun yang tersisa dari pertempuran the living and the dead. Karena itu season terakhir yang terdiri dari enam episode ini fokusnya dibagi pada dua bagian: pertarungan melawan Night King dengan para White Walker dan Cercei untuk menentukan siapa yang pada akhirnya akan menjadi irang yang pada akhirnya akan duduk di Iron Throne.

Season 8 ini melanjutkan masalah yang sudah muncul sejak season 7: pacing yang tidak teratur. Pacing dalam episode 1 dan 2 di serial ini terasa lebih lambat untuk mempersiapkan pertarungan habis-habisan di episode-episode berikutnya. Dan ironisnya bisa dibilang dua episode awal ini – terutama episode kedua – adalah highlight utama bagi season ini. Para penonton mulai kecewa memasuki episode ketiga sementara episode keempat dan kelima menjadi episode yang sangat divisif, di mana banyak penonton menganggap dua episode tersebut merusak semua momentum yang sudah dibangun oleh serial Game of Thrones selama tujuh season terakhir. Ironisnya karena episode 5 yang sudah kadung sangat mengecewakan, tanggapan orang terhadap episode terakhir (series finale) terasa biasa dan datar bagi para penonton kebanyakan.

Bagi saya sendiri, saya merasa serial Game of Thrones harus dibagi dalam dua aspek: teknis dan ceritanya. Untuk aspek teknis Game of Thrones masih merupakan serial terbaik di TV baik dari lokasi, sinematografi, sampai armor. Ya, ada beberapa keliruan terjadi di season ini termasuk pada gelas kopi Starbucks yang tertinggal di lokasi perfilman, tetapi kalau dilihat secara adil, enam episode terakhir dalam Game of Thrones terutama dalam episode 3, 4, 5 menyajikan perang dalam skala masif yang lima tahun yang lalu sekalipun sulit dipercaya bisa terjadi di hadapan layar kaca. Bahwa Game of Thrones bisa terus meningkatkan kualitas perang mereka mulai dari Battle of Blackwater di season kedua, Battle of Hardhome di season kelima, sampai Battle of Winterfell di episode ketiga di season ini adalah testimoni betapa besar budget yang telah dikucurkan untuk Game of Thrones. Saya pribadi merasa bahwa alasan kenapa dua season terakhir hanya berjumlah 13 episode saja adalah karena para bintang dalam serial ini banyak dan masing-masing dari mereka bergaji sangat besar (Lena Headey, Peter Dinklage, Nikolaj Coster-Waldau, Emilia Clarke, dan Kit Harrington yang notabene adalah enam aktor utama di season ini digaji 1 hingga 1.2 juta USD masing-masing per episode).

Bicara soal cerita dalam Game of Thrones merupakan cerita lain. Season terakhir ini melanjutkan tren buruk dari season keenam di mana episode yang terlalu pendek berarti banyak jalan pintas terpaksa dilakukan oleh karakter-karakter. Memang pacing dari Game of Thrones terasa makin dipercepat setelah season keenam tetapi hal tersebut terasa benar-benar kentara di season terakhir ini. Teori-teori fans seperti RLJ terbukti tetapi pada akhirnya tidak memainkan peran banyak… karakter-karakter cerdas seperti Tyrion dan Varys berulang kali melakukan kesalahan bodoh… dan yang paling mengecewakan kebanyakan penonton adalah bagaimana sosok Daenerys diperlakukan di season ini. Tanpa ingin spoiler apapun, saya tidak kecewa dengan nasib Daenerys di penghujung serial ini, yang mengecewakan adalah bagaimana cara mereka menempuh jalan sampai pada titik itu. Sejujurnya sudah banyak hint yang diberikan mengenai nasib Dany tetapi hint yang sudah ada tidak cukup kuat untuk menjadi fondasi logika bagaimana Dany melakukan tindakan ekstrim yang memecah belah fans Game of Thrones.

Suka tidak sukanya kamu akan season terakhir Game of Thrones (dan mungkin bahkan serial ini secara keseluruhan) tergantung dari suka tidaknya kamu akan endingnya. Bagi saya pribadi, season terakhir ini memang yang paling lemah dibandingkan keseluruhan season-season sebelumnya… tetapi masih merupakan penutup yang cukup baik untuk saga terbesar dunia TV. Terima kasih untuk 8 tahun terakhir, Game of Thrones.

Score: C+

Leave a Reply