Saat Warner Bros membuat Godzilla di tahun 2014 mereka bersiap menciptakan apa yang disebut dengan MonsterVerse. Rencana ini dilanjutkan dengan Kong: Skull Island di tahun 2017 dan setelah setengah dekade Godzilla: King of the Monsters, sekuel dari Godzilla, dirilis.

Hal pertama yang membuat aku terperangah adalah: Wow, sudah lima tahun ya sejak film Godzilla yang terakhir? Waktu belakangan terasa begitu cepat berlalu di dunia pop culture! Tampuk penyutradaraan Godzilla berpindah dari sutradara muda Gareth Edwards pada sutradara muda lainnya: Michael Dougherty. Sama halnya dengan Edwards yang naik daun lewat film berbudget kecil yang menawarkan ide orisinil (Monsters), Dougherty juga menarik perhatian melalui film yang serupa (Krampus). Mengingat Dougherty juga merupakan fans besar Godzilla, bisakah ia membuat sebuah film yang mumpuni? Trailer yang dirilis Warner Bros dipaket sedemikian rupa dengan alunan musik Clair de Lune yang membuatku berharap banyak akannya.

Godzilla: King of the Monsters menetapkan dengan jelas setelah even di Godzilla dan Kong bahwa monster di dalam MonsterVerse ini tak hanya mereka berdua saja: ada banyak – banyak sekali monster di dunia ini yang disebut Titan dan Monarch (sang perusahaan misterius penyambung film-film ini) berusaha mengumpulkan semuanya. Alasannya selama ini tidak pernah jelas dan kalau kalian berharap film ini akan memberikan penjelasan mengenainya di film ini… well, kalian tidak akan mendapatkannya. Keberadaan Monarch dan karakter-karakter manusia di dalam film ini sekedar muncul untuk memberikan alasan monster-monster bertarung.

Salah satu komplain terbesar dalam Godzilla di tahun 2014 adalah bagaimana film tersebut terlalu banyak berfokus pada karakter manusia sehingga karakter Godzilla-nya menjadi terpinggirkan. Praktis Godzilla bertarung tak lebih dari 10 menit di film tersebut! Itu benar-benar berbeda di dalam film ini. Pecinta genre kaijuu Jepang dijamin benar-benar terpuaskan menonton film ini. Kenapa? Itu dikarenakan Godzilla tidak lagi berhadapan dengan monster tak jelas ala film pertamanya (MUTO / Muto). Kali ini Godzilla akan berhadapan dengan lawan-lawan ikoniknya dari Toho. Mothra, Rodan, dan tentu saja King Ghidorah yang adalah lawan paling ikonik Godzilla (selain MechaGodzilla) semuanya muncul di film ini untuk bertemu dan berhadapan dengan sang Raja Monster.

Saya tidak heran kalau budget film ini kemudian jauh di atas sang prekuel – mengingat efek CGI yang dicurahkan dalam film ini memang tidak main-main. Nah, apabila yang kalian inginkan adalah para kaijuu raksasa saling berhantam-hantaman dan berseteru dengan budget ratusan juta USD yang takkan pernah bisa dilakukan industri perfilman Jepang, saya percaya kalian akan sangat puas menonton film ini. This movie totally delivers on that front. Yang menjadi masalah sekali lagi adalah pada cerita karakter-karakter manusianya… yang sangat kurang. Oke, saya tahu kalian akan bilang “Hey, ini film monster. Dan tipe film seperti ini tak perlu berfokus pada karakter manusianya“. Tetapi itu tidak seratus persen tepat. Apabila dengan logika begitu mengapa film monster yang paling terkenal: Jurassic Park sangat mengutamakan hubungan antara karakter manusia dan dinosaurus di dalamnya? Atau kenapa entri dari franchise Transformers yang paling disukai adalah entri pertama dan Bumblebee yang mengedepankan hubungan manusia dan bots di dalamnya? Tak peduli alasan apapun, cerita manusia dalam film semacam ini bisa menjadi penolong atau perusak dalam narasi – dan di film ini cerita para manusia benar-benar merusak film ini.

Dan itu sangat saya sayangkan. Film ini mungkin tak punya kekuatan bintang para MCU seperti dua entri MonsterVerse sebelumnya (Quicksilver dan Scarlet Witch bermain di film Godzilla pertama sementara Nick Fury, Loki, dan Captain Marvel membintangi Kong: Skull Island). Toh itu tak berarti film ini kekurangan nama bintang di dalamya. Vera Farmiga dan Millie Bobby Brown adalah dua bintang yang tengah naik daun belakangan ini melalui franchise The Conjuring dan serial Stranger Things… dan saya menyukai mereka di sana. Di sini saya sakit kepala setiap keduanya buka mulut dan mengutarakan hal-hal tolol yang tidak masuk akal. Charles Dance adalah sosok yang sangat berwibawa sebagai Tywin Lannister dalam Game of Thrones tetapi di sini ia juga muncul sebagai sosok antagonis yang tak punya kedalaman karakter sama sekali. Bahkan Kyle Chandler yang dulu pernah bermain dalam film King Kong-nya Peter Jackson di sini tampil datar sesuai dengan permintaan skrip dan skenario. Satu-satunya momen yang menggugah emosi di film ini dibawakan oleh Ken Watanabe yang berperan sebagai Dokter Serizawa.

Saya benci harus memberikan skor rendah kepada film ini karena sebenarnya di atas kertas dan secara teori Godzilla: King of Monsters SHOULD be good. Sungguh disayangkan jalan cerita karakter-karakter manusia di dalamnya terlalu menganggu film ini sehingga membuat film ini jatuh membosankan. Mengingat franchise MonsterVerse terus mengalami penurunan pendapatan dan kualitas, saya tidak akan heran apabila universe ini tidak akan dilanjutkan lagi setelah klimaks Kong vs Godzilla yang tayang 2020 nanti. Harapan saya, semoga pamungkasnya itu tak lagi mengulangi kesalahan yang sama dengan film ini.

Score: C-

Leave a Reply