Sebenarnya saya tak seberapa sering membaca novel romantis ala K-Drama begini. Jadi apa alasanku membaca buku berjudul Fake Love: Aku, Suamiku, dan Gunpla-nya ini? Rangkuman cerita yang mengatakan bahwa kedua protagonis dalam buku ini adalah sosok yang semi-semi wibu membuatku penasaran.

Arlin selama hampir 30 tahun hidupnya tidak pernah bisa mendapatkan suami dikarenakan ia seorang wibu sekaligus seorang gadis yang suka membuat Bento. Konon semua cowo yang pernah menjadi pacarnya meninggalkan dia begitu saja begitu tahu dia suka membuat Bento. Di saat Arlin frustasi dengan hidupnya dan merasa pasrah dengan masa depannya, ia diharuskan oleh Mamanya untuk menikah dan terpaksalah ia mencari kekasih dari situs Biro Jodoh. Dari sana Arlin mendapatkan Delan, seorang pria yang gagah dan tampan – tetapi sukanya mengoleksi figur Gunpla (Gundam Plastik). Wibu ketemu Wibu, seharusnya cocok bukan? Rupanya tidak. Delan dan Arlin memutuskan untuk mereka sekedar menikah saja demi ‘mendiamkan’ orang tua mereka masing-masing. Bisakah keduanya saling jatuh cinta… karena memiliki hobi yang sama saja sepertinya tidak cukup.

Membaca novel ini membuat saya bingung karena ada banyak masalah terasa terlalu dibuat-buat.

Saya tidak pernah kenal satupun teman pria saya yang malu apabila pasangan / kekasihnya membuatkan santapan Bento yang lucu. Yang ada malahan mereka akan bangga dan tambah sayang dengan kekasihnya itu. Oke, mungkin kalau anak SMP ABG akan malu kalau pacarnya membuatkan dia Bento lucu, tetapi kalau sudah dewasa? Sepertinya tidak. Akui saja, kalau pacar kalian (baik cowo maupun cewe) bisa memasak dengan enak, selalu menyiapkan makanan yang enak buat kalian bahkan mendesignnya dengan manis – bukankah kalian bakalan kagum dan bukannya malah cepat-cepat menjauhi dia?

Saya juga bingung kenapa Arlin seperti kesulitan memahami hobi dari Delan mengenai Gunpla. Bukan apa-apa, Arlin sendiri menonton beberapa jenis anime dan anime-anime tersebut bahkan lebih tidak mainstream dibandingkan Gundam. Gundam, bagaimanapun juga, adalah salah satu franchise animasi yang memiliki fandom terbesar. Seperti dibuat-buat kalau Arlin seakan tidak paham apa-apa mengenainya. Arlin juga digambarkan bagaikan wanita bodoh yang sulit memahami cerita Gundam. Seorang wanita berusia 30 tahun yang kesulitan memahami cerita Gundam padahal dia sendiri juga seorang semi-otaku? Ma… mana mungkin?

Terlepas dari dua masalah mendasar itu saya juga bingung dengan kenapa sifat dari Delan dan Arlin ini sama-sama terasa ‘menyebalkan’. Di satu sisi Delan kerap berkata-kata kasar dan ketus (di beberapa bagian kata-katanya sudah seperti seorang yang kasar dan abusif – bukan sekedar tsundere saja) sehingga membuat Arlin sakit hati mendengarnya. Di sisi lain, Arlin begitu cengeng setiap kali menangis dan bahkan berpikir untuk bisa selingkuh saja dengan pria lain begitu ada sedikit masalah dengan Delan. Ini membuat saya membaca sebuah novel yang kedua protagonisnya sama sekali tidak likable.

Hal itu sebenarnya saya sayangkan karena novel ini sebenarnya menyimpan beberapa hal yang pantas untuk diangkat secara lebih serius dan dalam dunia nyata bakalan lebih banyak menimbulkan polemik. Ada satu kalanya orang tua kedua belah pihak meminta Arlin dan Delan cepat-cepat bersenggama supaya bisa menghasilkan keturunan. Campur tangan dari orang tua dan menantu kerap menjadi hal yang memperparah dan membuat sebuah pernikahan menjadi tegang, sayangnya di dalam novel ini masalah serius tersebut dituturkan sekedar sambil lalu dan bahkan kerap dijadikan sekedar guyonan semata. Satu lagi masalah serius sempat timbul ketika Delan meminta Arlin berhenti ngeblog (blogging adalah mata pencaharian Arlin) dan ia menggantikan gaji Arlin dengan uangnya saja. Meminta pasangan berhenti bekerja adalah sesuatu yang serius dalam sebuah pernikahan – tetapi fokus Arlin justru pada Delan yang melarang hobinya blogging (padahal Arlin juga blogging karena ingin dekat dengan pria lain yang suka berkomentar di blognya).

Ah, rasanya malahan menjadi kecewa. Sebuah kisah cinta antara seorang geek dengan seorang normies (orang normal) bisa menjadi sebuah kisah yang apik dan bahkan sudah sering sekali diangkat dalam anime Jepang. Ambil contoh: Danna ga Nani wo Itteiru Ka Wakaranai Ken (I Cannot Understand What My Husband Is Saying) maupun Wotaku ni Koi wa Muzukashii (Wotkoi: Love is Hard for an Otaku) menunjukkan bahwa tema seperti ini memiliki kedalaman dan banyak aspek cerita yang bisa digali. Tapi sosok husband yang abusif seperti Delan dan tukang selingkuh seperti Arlin is not the way to tell this type of story. Yang ada malahan setelah saya selesai membaca buku ini saya merasa malu bilamana Otaku / Geek / Nerd kemudian distereotipekan dengan dua protagonis dalam kisah ini. Ini bukan sebuah novel yang saya rekomendasikan bagi kalian yang ingin mencari tahu lebih dalam mengenai kehidupan para Otaku.

Score: 5.0

Leave a Reply