Adakah di antara kalian yang tak mengenal nama Agatha Christie? Rasanya mustahil ya?

Agatha Christie bisa dibilang adalah salah satu penulis novel wanita yang paling terkenal di dunia selain J.K. Rowling. Apabila Rowling terkenal dengan karya fantasinya maka Christie adalah Ratu Kisah Misteri. Sir Arthur Conan Doyle memang melahirkan karakter detektif paling terkenal di dunia dalam diri Sherlock Holmes tetapi Agatha Christie memiliki dua karakter detektif terkenal berikutnya: Hercule Poirot dan Miss Marple. Anehnya, salah satu karya paling terkenal dari Agatha Christie tak memiliki karakter utama Poirot dan Marple. Judulnya: And Then There Were None.

Sebuah catatan menarik mengenai judul buku ini; aslinya novel ini sebenarnya berjudul Ten Little Niggers. Ketika novel ini dirilis di tahun 1939 tentu saja judul ini tidak terlalu bermasalah di Eropa di mana istilah ‘Nigger’ tidak menyinggung pihak manapun. Toh di Amerika ungkapan ‘Nigger’ sudah mulai dianggap rasis sehingga ada pihak yang berusaha mengganti namanya. Salah satu judul penggantinya: “Ten Little Indians sekarang juga dianggap menyinggung bagi para Native American (maklum, dulu Amerika disangka India) dan akhirnya judul yang terpilih adalah And Then There Were None.

And Then There Were None menjadi judul yang terpilih di kemudian hari sampai hari ini di mana karya ini dikenal sebagai sebuah misteri klasik yang terkenal… kenapa? Karena berbeda dengan banyak novel misteri lainnya And Then There Were None tidak memiliki sosok Detektif yang harus memecahkan perkara ala protagonis di kisah Detektif biasanya.

Novel ini dimulai ketika sepuluh orang asing yang sepertinya tak saling kenal satu sama lainnya dipanggil ke Pulau misterius. Dengan alasan dan motivasi yang berbeda-beda kesepuluh orang itu datang dan dibawa ke Pulau tersebut.

Apa yang kemudian terjadi adalah hal yang mengerikan. Satu demi satu kesepuluh orang yang datang ke pulau terbunuh secara misterius. Para survivor yang tersisa harus bersatu dan memeras otak mereka masing-masing. Apakah ada orang kesebelas di luar mereka bersepuluh di pulau ini? Apakah kematian-kematian yang terjadi hanya kebetulan belaka? Atau yang lebih mengerikan; apakah ada pembunuh di antara mereka bersepuluh? Di saat paranoid satu orang dan yang lainnya semakin meningkat, semakin menegangkan jugalah And Then There Were None… dan semakin terbuka pulalah alasan sesungguhnya kenapa mereka bersepuluh diundang ke pulau ini.

Tidak heran And Then There Were None dianggap sebagai salah satu masterpiece terbaik dari Agatha Christie. Kisah ini ditulis dalam jumlah halaman yang terbilang singkat (bandingkan dengan novel-novel misteri jaman sekarang). Akan tetapi Christie menggunakan setiap kata dan setiap halaman dengan efisien. Walaupun novel ini terbilang pendek saya tidak pernah merasa Christie mengorbankan karakteristik ataupun flow cerita. Jalan cerita mengalir dengan lancar tanpa mengalami permasalahan dengan pacing-nya. Dan ajaibnya – dengan sebuah setting di pulau terpencil yang jauh dari peradaban – ini adalah sebuah kisah misteri yang masih tetap relevan di dekade modern seperti sekarang. Luar biasa bukan; mengingat banyak kisah misteri jaman dulu yang tak seru lagi apabila diaplikasikan di masa sekarang dengan kemajuan teknologi.

Kalau saya diminta untuk mencari-cari kelemahan dalam novel ini maka yang bisa saya keluhkan adalah tak semua dari sepuluh orang karakter yang ada di dalam novel ini mendapat porsi yang sama. Ada satu dua karakter yang terbunuh pada awal cerita sehingga kita tak pernah banyak mendapatkan background kisahnya. Toh untuk kelemahan inipun Christie seakan sudah paham pembaca akan mengeluh dan telah menyiapkan ‘alasan’ di balik ketimpangan itu. Sekali lagi: jangan spoiler dirimu saat membaca buku ini, it’s a book that keeps you guessing until the very end.

Tak heran bahwa And Then There Were None kemudian menjadi sebuah kisah misteri yang kerap diadaptasi ke layar lebar maupun layar kaca karena kualitasnya yang tinggi. Apabila kamu adalah penggemar novel misteri maupun hasil karya dari Agatha Christie, pastikan buku klasik ini tidak terlewat dari daftar bacamu.

Score: 9.0

1 Comment

  1. Dulu pernah baca buku ini, waktu SMA saya banyak baca novel Agatha Christie. Saya sudah lupa siapa pembunuh dan motfnya walau masih ingat plot pembunuhannya.
    Waktu baca manga Detective Conan dan Detective Kindaichi, ada story arch meniru isi novel ini, jadinya emang familiar.

Leave a Reply