Life in the Skies: Everything You Want to Know About Flying

Saya tidak ingat kapan saya pertama kali terbang. Kalau tidak salah sewaktu saya masih berumur satu tahun saja ayah-ibuku sudah mengajak aku naik pesawat terbang.

Di dunia yang makin menyempit ini, hampir tidak ada orang yang belum naik pesawat terbang. Harga tiket semakin murah dan jarak tempuh yang cepat membuatnya pesawat terbang menjadi primadona banyak orang. Terbukti ketika harga tiket pesawat sempat melambung sebelum Lebaran 2019, banyak orang berteriak kesal kepada pemerintah – memaksa pemerintah mengeluarkan regulasi baru untuk mengatur tarif penerbangan.

Akan tetapi apabila kupikir kembali ternyata pengetahuanku tentang dunia aviasi dan penerbangan rupa-rupanya sangat minim. Ya, saya kurang lebih tahu tata cara imigrasi dan regulasi penerbangan mendasar seperti jangan menyalakan telepon genggam selama penerbangan atau merokok saat penerbangan. Tetapi kenapa aturan-aturan tersebut diadakan? Apa yang terjadi di ruang kokpit pilot? Saya tidak tahu. Salah satu rubrik bacaan majalah yang kerap menjelaskan mengenai hal ini adalah artikel dari Kapten Lim Khoy Hing yang menulis di majalah Travel360. Dikarenakan saya sering mendapatkan informasi dari rubrik tersebut – saya pun memutuskan membeli Life in the Skies, buku yang ditulis oleh penulis yang sama.

Kapten Lim Khoy Hing menghabiskan lebih dari setengah hidupnya di udara. Tidak tanggung-tanggung, selama 45 tahun ia mendedikasikan karirnya untuk terbang sebagai pilot – baik sebagai pilot militer pesawat Malaysia maupun sebagai pilot pesawat komersial; di Malaysia Airlines dan kemudian mengakhiri karirnya di Air Asia. Oleh karena ia sudah makan begitu banyak asam garam kelangitan, sang Kapten pun membuka rubrik untuk menjelaskan hal-hal apa saja yang membuat para penumpang penasaran. Nah, ditambah dengan material-material baru pertanyaan-pertanyaan dan artikel yang ia tulis dikompilasi dalam buku ini. Jangan khawatir, walaupun buku ini disponsori dan dibantu penerbitannya oleh maskapai Air Asia, buku ini tak lantas menjadi ajang promosi bagi maskapai tersebut.

Buku ini berisi banyak anekdot-anekdot ringan yang akan menambah wawasan kamu. Sebagai pembaca awam, saya senang bahwa tulisan Lim Khoy Hing ini ditulis dengan gaya bahasa awam sehingga tidak terlalu membingungkan ataupun dipenuhi istilah teknis. Konon sang penulis meminta anaknya untuk membaca buku ini dan sang anak kerap memberikan feedback kepada ayahnya apabila bahasa yang ditulis terasa terlalu berat. Ada berbagai cerita kecil yang menarik dan membuatku berkata “Oh ternyata begitu…” setelah membacanya. Beberapa di antaranya seperti keterlambatan pesawat yang terjadi. Rupanya keterlambatan pemberangkatan kapal terbang tak selalu terjadi karena ketidakefisienan maskapai penerbangan dalam bekerja melainkan kombinasi dari berbagai faktor. Kadang sang pilot yang tidak yakin dengan kelaikan terbang pesawat akan meminta pesawat itu diperiksa ulang lagi guna memastikan kesiapannya.

Saya juga senang membaca buku ini dan mendapatkan banyak insight mengenai istilah-istilah teknis dasar penerbangan semacam turbulence (turbulensi) dan banking (tidak ada hubungannya dengan kegiatan perbankan). Goncangan dalam pesawat (turbulensi) misalnya tak seberbahaya yang kusangka sebelumnya, karena semua pesawat terbang sudah didesign untuk tahan goncangan berlipat-lipat dari apa yang kita alami selama ini.

Tentu saja karena Lim Khoy Hing adalah seorang pilot pesawat terbang ia kerap mengulangi fakta bahwa “naik pesawat terbang masih merupakan cara transportasi yang paling aman di dunia“. Saya pribadi tidak tahu benar tidaknya hal ini (mengingat orang yang naik pesawat terbang jumlahnya jauh lebih sedikit dan periodenya lebih singkat dibandingkan orang yang tiap harinya naik mobil), tetapi entahlah, bukan posisi saya untuk mendebat pendapat tersebut.

Keluhan saya yang lebih besar mengenai buku ini adalah betapa seringnya Lim Khoy Hing mengulangi salah satu contoh kasus pesawat yang sukses didaratkan di sungai di dalam buku ini. Bagi kalian yang sudah menonton film Sully tentu tahu apa yang saya maksud. Bagi yang tidak familiar, pesawat dari US Airway mengalami gangguan saat take-off di tahun 2009 setelah ditabrak oleh sekelompok burung. Kapten Sully yang merupakan pilot saat bertugas melakukan tugasnya secara gemilang dan mendaratkan pesawat di atas sungai Hudson. Keberhasilan kasus ini disebut sebagai ‘The Miracle of Hudson River‘. Saya suka sekali dengan film dan kasus tersebut tetapi mendengarnya direferensikan hampir sepuluh kali di buku ini membuatku merasa terganggu olehnya. Bukankah ada penyelamatan-penyelamatan dan kasus lain yang tak kalah gemilangnya?

Terlepas dari satu dua kekurangan minor di buku ini, saya merasa bahwa Life in the Skies adalah sebuah buku ringan untuk menambah wawasanmu mengenai dunia aviasi. Apakah kamu akan bisa menerbangkan pesawat setelah membaca buku ini? Jelas tidak. Apakah kamu akan bisa merakit pesawat setelah membaca ini? Jelas tidak juga. Tetapi apakah buku ini akan bisa menenangkan pikiranmu (dan mungkin penumpang panik di sebelahmu) ketika ada turbulensi berikutnya mendera penerbanganmu? Ya, tentu saja.

Score: 7.5

Leave a Reply