Ketika season pertamanya dirilis dulu Stranger Things menjadi salah satu original series paling ngehit bagi Netflix. Popularitas Stranger Things yang luar biasa ini membuat banyak orang jadi kesengsem demam throwback era 1980an… termasuk mendorong kesuksesan film IT yang rilis tahun 2017 lalu. Di tahun 2017 lalu juga season kedua Stranger Things dirilis. Sayangnya season kedua tersebut – walaupun solid – dianggap mengalami banyak penurunan kualitas dari season pertamanya. The Duffers Brother sepertinya mengetahui keluhan tersebut dan mengambil waktu lebih lama untuk membuat season ketiganya. Jumlah episode untuk season ini pun dimampatkan menjadi delapan episode. Dengan proses pembuatan selama hampir dua tahun lamanya, akhirnya Stranger Things season ketiga hadir bulan Juli 2019… bagaimana dengan hasilnya?

Para anak-anak di Hawkins, Indiana sudah bisa menikmati masa damainya setelah di akhir season kedua Eleven sukses mengunci The Mind Flayer di dimensi Upside Down. Sekarang para anak-anak itu bisa tumbuh layaknya remaja-remaja lain: Mike sekarang pacaran dengan Eleven, Lucas dan Max masih putus sambung, Dustin baru saja pulang dari trip camping dan bahkan dia pun punya pacar! Satu-satunya anak yang masih single dan mengharapkan para sahabat-sahabatnya mau bermain Dungeon & Dragons dengan mereka seperti dulu hanyalah Will. Tanpa disadari oleh anak-anak ini, sebenarnya The Mind Flayer masih memiliki rencana jahat menguasai dunia – dibantu oleh para tentara-tentara Russia.

Season ketiga dari Stranger Things ini bisa dibilang terbagi menjadi empat sub-plot utama… dan itu merupakan ide cemerlang dari para kreator serial ini. Pasalnya season ketiga ini memperkenalkan cukup banyak elemen serta karakter-karakter baru di dalam cerita sehingga apabila semuanya hanya digambarkan dalam satu cerita saja takkan bisa. Ini membuat gaya penceritaan dalam Stranger Things season ketiga berbeda jauh dari season pertama dan keduanya.

Di season ini Mike, Eleven, Lucas, Max, dan Will menyelidiki misteri keanehan dari kakak Max: Billy, yang pada awal season ini dijadikan agen oleh The Mind Flayer. Penyelidikan ini juga diselingi dengan bagaimana hubungan dari Mike dan Eleven yang awalnya sederhana menjadi kompleks karena pengaruh dari teman-teman sekitar mereka dan bahkan orang-orang tua di sekeliling mereka.

Bicara soal orang tua; magnet di rumah dan toko Joyce terus kehilangan daya tempelnya sehingga membuat Joyce – yang pada dasarnya paranoid – takut bahwa The Mind Flayer kembali ke dunia ini dan mungkin saja mengincar anaknya kembali. Ia memohon bantuan dari Sherif Hopper yang terpaksa membantu Joyce – setengahnya dikarenakan dia masih menyimpan rasa suka kepada wanita tersebut.

Nancy dan Jonathan yang sekarang sudah lulus dari sekolah pun mulai bekerja di surat kabar setempat. Sementara Jonathan sudah cukup puas dengan kehidupannya di sana sebagai intern fotografi – tak begitu dengan Nancy yang merasa bahwa sebagai seorang wanita ia selalu diremehkan oleh kolega prianya. Ini membuat Nancy merasa bahwa dia harus bisa mendapatkan sebuah cerita dengan caranya sendiri. Penyelidikan yang dilakukan keduanya membuat mereka sadar akan keanehan-keanehan yang terjadi di Hawkins… lagi.

Sub-plot terakhir adalah bagaimana Dustin menangkap sinyal broadcasting Uni Soviet yang tersembunyi. Bersama dengan Steve dan rekan kerja Steve yang baru Robin, ketiganya berusaha untuk mencari tahu apa gerangan isi pesan tersebut. Apakah Uni Soviet diam-diam merencanakan untuk menginvasi Amerika (ini masih jaman perang dingin bung!)… dan bisakah Dustin, Steve, dan Robin menghentikan mereka?

Season ketiga ini menjadi menarik karena kita sebagai penonton tahu bagaimana empat sub-plot ini saling terkoneksi memasuki episode kedua atau ketiga. Ada rasa gemas dan cemas saat menonton menanti karakter-karakter di serial ini sadar bagaimana penyelidikan mereka – yang seakan-akan berdiri sendiri – sebenarnya saling terkoneksi. Hubungan persahabatan mereka pun diuji di sini. Ada momen-momen yang mengena di hati saat Mike dan Lucas seperti menelantarkan Will begitu keduanya sibuk dengan kehidupan pacaran mereka sendiri. Ada juga pembicaraan heart to heart antara Steve dan Robin yang menjadi highlight dialog emosional dalam season ini; saya kagum dengan Maya Hawke (anak dari Ethan Hawke dan Uma Thurman) yang berperan sangat – sangat apik di sini. Jujur di antara para newcomer Stranger Things sosoknyalah yang paling mencuri perhatianku. Omong-omong dia mirip ya dengan Uma Thurman saat sang ibu itu masih muda?

Hal yang membuat saya takjub melihat season ketiga ini adalah bagaimana efek visual serial ini benar-benar banyak meningkat dibandingkan dua season sebelumnya. Walaupun episode pertama hingga ketiga dari season ini alurnya cenderung pelan (tetapi tidak membosankan) tensi meningkat dengan cepat memasuki episode keempat dan terus meningkat pada paruh kedua season ini. Juga tidak seperti season kedua yang memiliki satu episode yang sia-sia, semua episode di dalam season ini terasa fokus dan berarti. Tak hanya ia membuka misteri-misteri baru seputar Upside Down, ia juga menutup beberapa misteri lama dan story arc beberapa karakter yang ada.

Tentu saja yang namanya Stranger Things itu tidak bisa lari dari referensi dan nostalgia era 1980an. Kalian yang gemar dengan film-film 1980an akan senang sekali melihat begitu banyaknya pop culture dekade tersebut direferensikan di sini, baik secara langsung maupun tak langsung. Nama Phoebe Cates (the goddess of 1980s), film Back to the Future muncul secara langsung di film ini, dan bahkan ada throwback yang sangat kentara untuk franchise Terminator. Bahkan, salah satu momen klimaks yang paling mengejutkan di film ini juga mereferensikan sesuatu dari era 1980an – saya tak mau menyebut apa sebab sifatnya yang spoiler.

Pada akhirnya, Stranger Things Season ketiga adalah return to form bagi serial ini setelah sempat goyah di season keduanya. Tak perlu ragu, langsung saja saksikan sepak terjang selanjutnya dari para bocah-bocah Hawkins di serial ini and watch them grow to teenager!

Score: 8.5

Leave a Reply