The Sanatorium – The Pandora Experience

Yang namanya Escape Room sudah menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi warga-warga di kota besar. Hampir di semua kota besar dunia kalian akan bisa menemukan permainan bertipe ini. Premisenya semua sama: kalian akan ditempatkan di dalam sebuah ruangan khusus dan dikunci di sana. Dalam waktu kurang lebih 60 – 120 menit, kalian harus memutar otak untuk meloloskan diri dari sana – dengan menanyakan petunjuk kepada para Game Master bila diperlukan.

Nah, salah satu Escape Room yang terkenal di Jakarta adalah Pandora Experience yang memiliki beberapa cabang di Jakarta. Setiap cabang memiliki skenario yang berbeda-beda (beberapa cabang bahkan memiliki skenario eksklusif untuk cabang mereka sendiri) dan saya berkesempatan untuk mencoba menjajal skenario The Sanatorium yang terletak di Baywalk Mall, Pluit, Jakarta Utara. Pandora Experience menawarkan berbagai genre Escape Room mulai dari eksplorasi sampai horor. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak bukan termasuk dalam kategori / genre apakah The Sanatorium ini?

Sensasi berbeda memainkan The Sanatorium dimulai saat memasuki ruangannya. Alih-alih kamu sekedar berjalan masuk melalui pintu, kamu dipaksa merangkak melalui lorong guna memasuki ruangan pertamanya. Di dalam ruangan itu sebuah video dimulai. Rupa-rupanya di sini kamu adalah suster baru yang pindah ke Rumah Sakit Changi (disebut juga Old Changi Hospital) di Singapura. Saat pindah ke sana kamu sudah mendengar rumor santer mengenai adanya seorang pasien yang mengidap gangguan jiwa: Mary Ahn Go. Mary konon sudah banyak menyakiti dokter dan suster sebelum kamu datang sehingga kerap dirawat secara terpisah.

Suatu malam, kamu sedang melakukan keliling di Rumah Sakit ketika kamu melihat sosok Mary yang tengah berjalan di lorong. Ketika kamu menyapanya, Mary melihatmu dengan mata yang beringas… seakan ia kesurupan. Kini permainan kucing tikus dimulai. Bisakah kamu meloloskan diri dari Rumah Sakit dan mencari Dokter / Suster lain membantumu sebelum Mary yang menemukanmu?

Salah satu hal yang benar-benar saya apresiasi dari permainan The Sanatorium adalah sound effect dari tempat ini. Pada awal permainan musiknya terasa sangat tenang dan syahdu di mana speaker memainkan musik klasik Clair de Lune. Akan tetapi semakin ke belakang musik semakin berubah menganggu… dengan suara-suara aneh dan misterius yang makin lama makin membuat orang terasa tidak nyaman. Salut dengan cara Escape Room ini mempermainkan tensi kita sebagai pemain.

Puzzle-puzzle di dalam game ini sebenarnya tidak sulit – hanya saja lighting (pencahayaan) yang kurang membuat kita kerap sulit membaca petunjuk-petunjuk yang ada. Toh pencahayaan yang minim itu jugalah yang membuat bermain di tempat ini menjadi menakutkan dan menegangkan. Kami bermain dalam grup lima orang dan sangat jarang satu dari kami memecahkan diri terlalu jauh dari grup karena ketakutan akan disergap oleh Mary secara diam-diam! Praktis dari semua teka-teki yang harus diselesaikan hanya satu saja yang otak kolektif kami gagal menyelesaikannya. Yang lain bisa diselesaikan – hanya karena petunjuk yang kadang kurang membuat kami harus bertanya bantuan operator. Teka-teki dalam game ini juga cukup variatif dan menggunakan berbagai macam alat di dalam ruangan: mulai dari komunikasi dengan kode di komputer sampai menemukan kunci untuk membuka gembok yang ada.

Pacing dalam permainan ini juga cukup baik. Waktu yang disediakan dalam permainan adalah dua jam dan kami menyelesaikannya secara pas-pasan. Bagi pemain yang cukup cermat mungkin bisa menyelesaikannya dalam waktu sekitar 75 – 90 menit. Tidak ada teka-teki yang menjebak kami terlalu lama di bagian tertentu dan menurut saya ini sangat penting untuk skenario ini karena itu berarti kami tak pernah merasa frustasi di satu bagian tertentu kelamaan. Terjebak di sebuah bagian terlalu lama berpotensi merusak ‘imajinasi’ berada di Old Changi Hospital. Nah karena pacing yang terus bergerak ini, sebagai pemain kami terus dipaksa menemukan ruangan dan koridor baru disertai horor-horor ketegangan yang baru juga.

Sebelum memainkan The Sanatorium, sang penjaga dan Game Master memang telah menanyakan pada kami bilamana ada yang memiliki penyakit jantung atau suka takut. Pertanyaan itu tidak salah karena The Sanatorium memiliki beberapa jump scare yang cukup mengagetkan. Terhitung ada dua momen mengejutkan yang sempat membuatku berteriak histeris sampai-sampai pacar yang sedang bermain bersama harus melindungiku supaya tidak mengalami nervous breakdown! Saran saya: jangan mengajak orang-orang tua memainkan game ini – apalagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung. Ini sebuah permainan yang mendebarkan bagi mereka yang memiliki klaustrophobia. I might have survived this game – but I’m scarred for life.

Mengatakan lebih jauh dari apa yang sudah saya review di atas memiliki potensi untuk memberi spoiler The Sanatorium. Satu hal yang pasti: ini adalah sebuah permainan yang perlu dicoba dan dimainkan kalian para adrenaline seeker. Kendati tak sering memainkan Escape Room, saya rasa ini merupakan skenario terbaik dari semua skenario yang pernah saya coba selama ini. Highly atmospheric, highly scary, super fun! Very recommended!

Score: 9.0

2 comments

Leave a Reply