Our Story: A Memoir of Love and Life in China

Buku yang memiliki judul asli Pingru Meitang ini adalah kisah kehidupan dan cinta dari dua sejoli bernama Rao Pingru dan Mao Meitang. Apa yang membuat kisah cinta keduanya begitu spesial?

Saya pertama membaca buku ini setelah menonton sebuah review secara acak di Youtube. Tertarik setelah membaca review ini, saya pun memutuskan mencari bukunya di Google Play Store. Senang karena bisa menemukannya, saya memutuskan untuk membeli dan kemudian membacanya. Dan… saya sangat tersentuh setelah menyelesaikannya.

Rao Pingru adalah seorang pria China yang lahir di tahun 1922. Ini berarti dia lahir jauh sebelum China terpecah menjadi dua dengan Taiwan dan jauh sebelum Perang Dunia II terjadi. Di jaman itu Rao Pingru tumbuh di kalangan keluarga yang cukup berada dan hidup berkecukupan karena sang ayah adalah seorang pengusaha yang cukup sukses. Ia belum mengenal baik Mao Meitang kendati kedua orang tua Pingru dan Meitang adalah sahabat baik. Di era 1940an perang pun berkecamuk dan sebagaimana kebanyakan orang muda China di masa itu: Rao Pingru pergi berperang melawan Jepang.

Setelah Jepang kalah dan menyerah dalam Perang Dunia II alih-alih mendapatkan kedamaian China justru jatuh dalam perang saudara antara partai Communist Party of China (di bawah Mao Zedong) dan Kuomintang Party / KMT (di bawah Chiang Kai-shek). Lelah dengan Perang Saudara yang tak berkesudahan ini, Pingru memutuskan untuk berhenti saja sebagai tentara dan pulang kampung untuk menikahi Mao Meitang. Setelah menikah keduanya menjalani kehidupan yang bahagia bersama-sama dan memiliki lima orang anak hingga tahun 1958, tahun di mana revolusi sosial terjadi di China.

Di tahun 1958 jutaan orang China dipaksa untuk direedukasi dan bekerja di bawah pemerintahan China (ini juga yang menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran dari China di era tersebut. Banyak orang kemudian melarikan diri ke Asia Tenggara, Amerika, dan seantero dunia lainnya). Begitu juga Rao Pingru yang dulu membela negara China di bawah bendera KMT. Tentu saja sejarah mencatat bahwa KMT dan Chiang Kai-shek kalah dalam perang saudara melawan Mao Zedong dan melarikan diri mendirikan negara Taiwan sehingga Rao Pingru dicurigai sebagai mata-mata Taiwan dan selama 22 tahun lamanya harus bekerja di bawah negara China untuk direedukasi ulang.

Kisah antara Pingru dan Meitang ini dikisahkan oleh Pingru secara sangat intim dan tak menggunakan dramatisasi yang berlebih. Tidak ada aksi heroik Pingru dalam campaign perang melawan Jepang. Tidak ada aksi romantisme berlebih dari Pingru kepada Meitang. Uniknya justru itu membuat buku ini terasa sangat relatable. Kita sebagai pembaca seakan diperkenankan oleh Pingru mengintip ke dalam sebagian dari kehidupan cintanya dengan Meitang yang berlangsung selama 60 tahun – hanya dipisahkan oleh maut semata. Anekdot-anekdot ringan seperti restoran favorit yang ditemukan oleh keduanya saat makan membuat kisah ini tambah berasa down-to-earth.

Hal lain yang membuat buku ini spesial adalah bagaimana dalam setiap beberapa halaman Pingru menyertakan gambar yang ia lukis sendiri di dalamnya. Saya harus salut dengan ingatan Pingru yang fantastis kendati usianya sudah mendekati seabad. Ia mencurahkan perasaan serta memorinya dan mengingat begitu banyak detail dari berbagai era dalam kehidupannya lantas menghidupkannya melalui gambar dan tulisan. Gaya penuturan Pingru yang sederhana ditambah dengan detail gambar yang ia lukis membuat saya begitu mudah untuk masuk ke dalam dunia China yang ia kisahkan. Buku ini tak sekedar membuatku terkesan dengan keabadian cinta dari Pingru dan Meitang saja tetapi juga merupakan kapsul waktu yang membuat kita bisa melihat bagaimana kehidupan di China sebelum era modern yang dikenal kebanyakan orang sekarang ini.

Bagi saya Our Story adalah sebuah buku yang layak masuk ke dalam koleksi perpustakaan setiap pecinta buku. Sulit menahan air mata tidak menetes ketika memasuki penghujung buku ini dan melihat kebersamaan antara Pingru dan Meitang seumur hidupnya. Banyak orang yang mungkin menyamakan kisah ini seperti Habibie dan Ainun tetapi bagi saya – tanpa bermaksud membanding-bandingkan – Pingru dan Meitang memiliki kisah kasih yang jauh lebih kuat dan kompleks dengan begitu banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dalam pernikahan mereka. Pada akhirnya ini adalah sebuah buku dengan tema yang timeless di setting yang tak kerap diangkat dalam format tulisan, a highly recommendable book.

Score: 9.5

Leave a Reply