Semenjak debut di tahun 2013 lalu sepertinya tahun 2018 bisa dibilang merupakan masa puncak kejayaan dari grup BTS. Apabila album Wings mendorong mereka menjadi grup boyband Korea terbesar dan membuat dunia melirik mereka maka album trilogi Love Yourself melonjakkan nama mereka masuk ke dalam kalangan mainstream yang tak sekedar dikenal oleh kaum pecinta K-Pop semata. Tak main-main grup BTS bahkan diundang oleh United Nations alias PBB! Sulit membayangkan kesibukan dari boyband BTS: tidak hanya mereka harus keliling dunia mengadakan konser di berbagai benua, mereka juga harus syuting iklan, syuting permainan BTS Run, mempromosikan album mereka, sekaligus mempersiapkan album baru untuk mempertahankan momentum popularitas mereka. Gila? Sangat.

Nah, secuil dari kesibukan dalam kehidupan mereka ini ditunjukkan di layar lebar melalui Bring the Soul, sekuel dari film dokumenter Burn the Stage yang dirilis di tahun lalu. Apabila Burn the Soul merupakan dokumenter dari perjalanan BTS selama Wings Tour maka Bring the Soul adalah dokumenter sebagian perjalanan mereka dalam Love Yourself Tour. Apakah para Army akan mendapatkan konten yang apik di dalam film ini?

Satu hal yang saya sadari dalam Bring the Soul adalah bagaimana para anggota BTS sekarang sudah tampak jauh lebih percaya diri. Dalam Wings Tour para anggota BTS baru mulai menapaki kesuksesan dan popularitas mereka dan terlihat bahwa di dalam momen-momen tertentu mereka masih terasa kagok. Pun ada beberapa momen pertentangan di antara para member di grup ini (terutama antara Jin dan V yang sempat menjadi highlight di kalangan para Army). Kali ini chemistry dari setiap member terlihat sudah semakin dekat satu sama lain. Tak hanya itu mereka semua sudah lebih percaya diri dalam menjalani peran mereka sebagai Idol – pas sekali dengan single andalan dari album Love Yourself: Her. Tapi itu tak berarti mereka tak menghadapi kesulitan lain.

Di tengah semakin menanjaknya popularitas BTS mereka sekarang semakin tak bebas menjalani kehidupan mereka dan itu adalah sesuatu yang diakui oleh para anggota-anggotanya. Apabila dulu mereka sudah konser di luar negeri tapi di arena yang lebih kecil sekarang mereka konser di stadium-stadium megah yang bisa menampung puluhan ribu orang… dan semuanya terisi penuh! Walhasil popularitas dari BTS yang sekarang makin menjulang di seantero dunia membuat mereka kesulitan untuk bebas pergi ke sana-sini sendirian. Pada satu momen yang cukup menyentuh di film ini Jin, salah satu anggota BTS, mengakui bahwa sekarang untuk sekedar keluar dan beli makanan saja kini ia harus ditemani oleh petugas sekuritas. Begitu pula ada momen tertentu saat J-Hope berjalan di Berlin dan petugas sekuritas terpaksa menghalangi orang yang berusaha mengambil fotonya. Popularitas rupanya memiliki biaya sendiri yang harus BTS bayarkan.

Tentu saja BTS pun masih digambarkan sebagai manusia dan bukannya dewa idola tak punya cacat cela. Kadang sulit mengingat hal itu dikarenakan kesuksesan yang mereka miliki tetapi pada dasarnya mereka masihlah pemuda-pemuda yang berusia seperempat abad. Ada momen-momen di mana mereka terlihat letih setelah berulang kali menjalani konser di sana-sini. Dengan puluhan konser yang harus mereka lakoni dengan interval setiap beberapa hari sekali (dan mereka harus selalu tampil all out), tak mengherankan ada masa-masa di mana mereka terkapar ketiduran seusai konser. Begitu pula ada momen-momen di mana mereka tidak enak badan atau mengalami cedera sehingga tampil tidak maksimal terpaksa menangis karena memendam kekecewaan tak bisa tampil dengan apik bagi para fans mereka. Ketulusan BTS inilah yang bisa dibilang membuat mereka menjadi idol yang relatable bagi banyak fans Army mereka di seantero dunia.

Di sisi lain Bring the Soul juga hadir sebagai tontonan yang… agak tanggung. Kenapa? Saya bingung untuk siapa film ini ditujukan. Sepanjang yang saya tahu momen-momen yang ditampilkan di dalam film ini (Behind the Scene) hanya akan membuat bingung moviegoers yang bukan pecinta BTS. Pasalnya tak seperti Burn the Stage film ini tak lagi memiliki introduksi member-member BTS. Penonton dianggap sudah tahu dan bisa membedakan siapa itu V dan siapa itu RM. Di sisi lain untuk para Army sejati kemungkinan besar film ini tak menampilkan banyak konten baru. Ambil contoh cederanya Jungkook sehingga membuat dia terpaksa hanya bisa duduk di beberapa konser Eropa yang ia lakoni: informasi itu mungkin baru bagi para fans anyar BTS tetapi para Army loyal tentunya sudah tahu detail-detail cedera itu. Toh pada akhirnya saya merasa bahwa film ini pas bagi moviegoers seperti saya: sosok yang tahu siapa saja anggota-anggota BTS tapi tak kurang kerjaan sampai harus stalking aktivitas mereka sehari-hari.

Mengingat ini merupakan bagian dari konser trilogi Love Yourself maka jelas mayoritas lagu-lagu di dalam konser dan film ini menggunakan soundtrack darinya. Saya pribadi menilai bahwa trilogi Love Yourself memiliki materi lagu-lagu terbaik dalam BTS di mana tak hanya mereka mampu menampilkan lagu yang berbeda-beda tetapi juga memberikan materi untuk setiap anggota bernyanyi solo sendiri. Oleh karena itu saya sih puas-puas saja dengan lagu yang ada di film ini. Pada akhirnya Bring the Soul adalah sebuah film dokumenter ringan yang menyenangkan. Daripada menganggap film ini sebagai film yang berdiri sendiri anggap saja film ini sebagai sekuel dari Burn the Stage. Melihatnya dari kacamata itu membuat film ini terasa lebih bermakna sebab kalian bisa melihat bagaimana BTS semakin berevolusi semenjak hari-hari mereka di Wings Tour. So… show me?

Score: B

Leave a Reply