Glass

Ending Split adalah sebuah twist ending yang tak disangka-sangka oleh banyak orang.

Ada banyak hal yang mengejutkan penonton dalam film tersebut. Pertama: M. Night Shyamalan membuktikan dirinya masih bisa membuat film thriller / horor yang menegangkan. Memang penampilan James McAvoy yang meyakinkan sebagai The Horde adalah salah satu alasan kenapa film tersebut begitu laris – tetapi di sisi lain cara penyutradaraan Shyamalan dan skripnya yang berlapis turut membuat film tersebut menjadi sesuatu yang mengesankan. Sesuatu yang mengingatkan para penggemar pada tangan emas Shyamalan di masa jayanya dulu.

Akan tetapi twist ending terakhir yang paling tak terduga adalah bagaimana ternyata Split merupakan sekuel dari Unbreakable, salah satu karya kesayangan M. Night Shyamalan yang terlupakan. Bagi mereka yang lupa… saya tidak heran. Unbreakable dirilis di tahun 2000 dulu pada saat Shyamalan ada di puncak popularitasnya setelah smash hit The Sixth Sense. Unbreakable di sisi lain tidak bisa mendapatkan kesuksesan yang sama – hanya memperoleh 95 Juta USD. Bukan hasil yang buruk, tetapi di antara tiga film pertama Shyamalan: The Sixth Sense dan Signs adalah dua lainnya, Unbreakable merupakan yang terburuk. Pun begitu seiring dengan berjalannya usia makin banyak orang menyukai film ini dan ia memperoleh status sebagai cult classic dan mendapatkan banyak following dan fans baru setelah rilisnya di home entertainment.

Setelah 16 tahun penonton berharap akan mendapatkan sekuel Unbreakable, M. Night Shyamalan memberikannya melalui Split (dirilis di Januari 2017 untuk umum tetapi di kalangan terbatas sejak 2016). Nah, mengingat film tersebut sukses besar Shyamalan langsung mempersiapkan pamungkas triloginya. Ia menyatukan kembali Bruce Willis dan Samuel L. Jackson dan film Glass pun mulai disyuting. James McAvoy, Bruce Willis dan Samuel L. Jackson. Siapa tak kesengsem melihat ketiganya beradu akting di layar lebar?

Setelah The Beast muncul di penghujung kisah Split, film ini dimulai dengan bagaimana David Dunn (diperankan oleh Bruce Willis) berusaha mengejar dan menangkapnya. Ini tentu tidak mudah sebab The Beast adalah sosok misterius yang berhati-hati menyekap korbannya. Ketika pada akhirnya David menemukannya keduanya malahan tertangkap oleh polisi yang memutuskan untuk memasukkan keduanya ke dalam institut Rumah Sakit Jiwa. Sebuah Rumah Sakit Jiwa yang sama di mana Mister Glass ditempatkan. Pemimpin dari institut RSJ tersebut adalah Dokter Ellie Staple yang menganalisa dan mendiagnosis ketiganya bukan manusia super (superhero / supervillain) seperti yang mereka bayangkan. Sebaliknya: ketiganya hanyalah manusia biasa yang berdelusi memiliki kekuatan-kekuatan super. Sebagai penonton kita pun dibuat bertanya-tanya, apakah benar selama ini kita percaya bahwa David, The Beast, dan Mister Glass adalah sosok super? Atau mereka semua sebenarnya hanya manusia biasa dan kita menipu diri kita sendiri dengan harapan kita?

Saya paham kenapa Glass adalah sebuah film yang mengecewakan para kritikus. Secara tematik film ini memang… absurd. Benar sebagai cerita ia terkoneksi dengan erat dengan Unbreakable maupun Split. Saya bahkan tidak merekomendasikan kalian menonton film ini apabila belum menonton kedua film itu. Tetapi secara tematik Glass adalah sebuah film yang sangat aneh. Alih-alih menghakimi orang dengan sikap The Horde dan Mister Glass yang jelas-jelas adalah psikopat dan pembunuh berantai, penonton diminta untuk… bersimpati karena mereka hanyalah orang-orang yang ‘berbeda’ dari masyarakat pada umumnya. Ini jelas aneh. Saya bisa bersimpati dengan orang-orang yang cacat mental. Beberapa teman saya bahkan memiliki saudara yang mengidap kelainan Down Syndrome dan saya sangat sabar berhadapan dengan mereka. Tetapi bersimpati dengan orang yang cacat mental dan bersimpati dengan pembunuh adalah dua hal yang berbeda. Ya, The Beast adalah hasil dari Kevin yang mendapatkan sikap abusif dari ibunya sejak masa kecil – apakah tapi itu berarti kita harus bersimpati dengan karakter The Beast yang membunuh para wanita-wanita seenak maunya?

Tone dari film ini pun kocar-kacir. Unbreakable merupakan film tentang superhero yang sangat grounded pada realitas. Split adalah sebuah film penyekapan thriller yang klaustrofobik. Keduanya memiliki visi yang jelas dan itu terlihat pada keduanya. Di sisi lain Glass seperti film yang… terombang-ambing antara ketiga karakter utamanya dan berakhir menjadi sebuah film yang tak bisa memuaskan penggemar ketiganya. Sosok David setelah 19 tahun berlalu adalah sosok yang masih tangguh tapi kini sudah mulai renta. Sayang film ini tidak punya banyak waktu untuk menggali lebih dalam kondisi mental David selepas ditinggal oleh istrinya. Kemudian ada The Horde di mana akting McAvoy masih saja mumpuni tetapi tujuan The Horde dengan the Broken… masih saja belum jelas. Terakhir adalah Glass yang selama setengah film diperankan secara membisu oleh Samuel L. Jackson, yang meledak hanya di saat-saat terakhir saja sebagai sang mastermind. Akan tetapi motivasi kenapa Glass melakukan semua itu pun tak pernah dijelaskan. Walhasil Glass seperti film yang – ironisnya – terpecah belah.

Tapi apabila kita memandangnya dari sudut pandang yang lain maka Glass bisa disebut merupakan sindiran Shyamalan terhadap Hollywood yang tadinya sudah meremehkan dan bahkan melupakan dia.

Coba simak salah satu adegan di awal film saat David Dunn ingin pergi berjalan-jalan dan berusaha dihalangi oleh anaknya. Sosok Shyamalan yang cameo di film itu nyeletuk “Sudah, biarkan saja dia jalan-jalan“. Tidakkah itu merupakan sindiran bagi studio Hollywood yang kerap dirasa mengekang kebebasan visi sang sutradara? Dan kalau kalian cermati dari sudut pandang ini maka Glass adalah sebuah film yang… cukup enjoyable. Sebuah film pemberontakan dari Shyamalan yang menyatakan “Hey, saya ternyata bisa melakukan comeback setelah kalian hancurkan menjadi sosok yang broken selama bertahun-tahun lamanya“.

So how good is Glass really? Sebagai sebuah film penutup trilogi Unbreakable saya menilai film ini sebagai sebuah film yang mengecewakan. Ia terasa tidak fokus dan terbagi-bagi antara ketiga karakter utamanya. Akan tetapi apabila melihat film ini sebagai sebuah giant “fuck you” dari Shyamalan kepada studio Hollywood, maka ya, ia sukses. Sukses besar malah. Bagi penonton, mendapatkan sebuah konklusi trilogi dari sebuah seri yang mulai sejak tahun 2000 dan ditutup dua dekade kemudian juga merupakan kepuasan tersendiri. So, I guess overall this movie is still a win… right?

Score: B-

Leave a Reply