That Time I Got Reincarnated As a Slime adalah satu lagi kisah Isekai, sebuah genre yang sepertinya masih saja menarik perhatian banyak orang. Setelah meledaknya Sword Art Online beberapa tahun lampau, hampir setiap tahun selalu muncul satu dua serial anime bergenre Isekai dan memiliki pakem yang sama dengan Sword Art Online: diangkat dari light novel. Hal yang sama berlaku bagi That Time I Got Reincarnated As a Slime. Apa yang bisa membedakan kisah ini dari kisah-kisah Isekai lainnya?

Yang jelas: karakter utama dalam kisah ini – sesuai judulnya – tidak memiliki wujud asli sebagai manusia. Setelah Satoru Mikami meninggal dunia karena menyelamatkan juniornya di dalam dunia nyata, ia menemukan dirinya rupanya bereinkarnasi menjadi seekor monster. Celakanya ia bukan sekedar menjadi monster yang hebat tetapi justru monster tipe rendahan: Slime. Seperti para penggemar game fantasi / RPG tahu, Slime biasanya adalah musuh level-level awal yang akan jadi cannon fodder bagi sang hero untuk meningkatkan level di awal petualangan. Beruntung Satoru Mikami berbeda. Di awal petualangannya ia dibekali dengan banyak skill-skill yang membuat ia menjadi seekor Slime yang kuat dan bisa menyedot kekuatan dari musuh-musuhnya. Dan dari sana dimulailah kehidupan Satoru Mikami di dunia baru dengan nama Rimuru Tempest.

Apa yang menarik dari That Time I Got Reincarnated As a Slime dibandingkan dengan anime Isekai adaptasi Light Novel yang saya tonton lainnya adalah bagaimana ada lebih banyak penekanan dalam hal World Building. Di dalam anime ini kita melihat bagaimana Rimuru pertama-tama menggandeng kawan dalam sosok ras Goblin, seiring dengan berjalannya episode Rimuru mendapatkan kawan-kawan baru: baik dari ras-ras yang ia taklukkan maupun dari mereka yang bergabung ke dalam aliansinya. Seiring dengan berjalannya waktu desa kecil yang Rimuru dirikan tumbuh menjadi sebuah kerajaan yang diakui oleh tetangga-tetangganya. Sedikit banyak aspek World Building di dalam anime ini mengingatkan saya kepada Release That Witch, sebuah Light Novel negeri tirai bambu yang juga sangat saya sukai. Akan tetapi untuk membedakannya dari Light Novel tersebut, perkembangan di sini tak hanya pada desa yang dibangun oleh Rimuru saja tetapi juga sosok Rimuru dan para ajudan-ajudan kepercayaannya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Rimuru pada awal cerita ini hanya berwujud seekor Slime. Slime yang memiliki banyak potensi dan kekuatan memang – tetapi pada akhirnya tetap seekor Slime. Melihat bagaimana Rimuru tumbuh dan menjadi semakin kuat menghadapi musuh-musuh yang berusaha menghadang perkembangan kerajaannya adalah tontonan keasyikan tersendiri. Ada beberapa adegan yang terasa repetitif memang di dalam anime ini, terutama saat musuh hampir selalu meremehkan sosok Rimuru yang adalah seekor Slime sebelum akhirnya terperanjat menyadari betapa kuatnya Rimuru. Di sisi lain kelemahan pada banyak anime Isekai lain juga mewujud di dalam kisah ini. Sampai pada akhir season pertamanya saya tak pernah melihat Rimuru mendapatkan lawan yang berarti. Tak peduli seberapa kuatnya lawan yang menghadapinya, Rimuru selalu memiliki strategi yang lebih brilian untuk mengalahkannya. Saya hanya berharap bahwa sosok-sosok lawan yang sudah mulai muncul di bayang-bayang akan menjadi karakter antagonis yang lebih kuat bagi Rimuru nantinya di season kedua.

Saya juga sedikit heran dengan pemecahan storyline di season ini. Sementara episode 1 – 19 adalah sebuah cerita mengenai bagaimana Rimuru mendirikan kerajaan-nya maka episode 20 – 23 seakan merupakan sebuah sidequest yang memberi teaser untuk cerita-cerita yang bisa digali ke depannya. Saya sendiri masih penasaran mengenai beberapa sosok anak-anak didik Rimuru dalam keempat episode tersebut. Pun begitu saya merasa bahwa daripada menghentikan season pertama di situ lebih baik lagi sebenarnya keempat episode terakhir itu disimpan untuk season berikutnya saja sehingga pacing cerita akan terasa lebih nyambung. Studio 8Bit yang menciptakan anime ini adalah studio dengan sejarah yang cukup panjang dan itu terlihat dari hasil kerja mereka menghidupkan anime ini. Efek-efek pertarungan terasa megah dan kolosal, terutama saat Rimuru dan rekan-rekan kerajaannya harus menghentikan sebuah tank yang tanpa henti merangsek maju dengan niatan menghancurkan kerajaan mereka. Kalian yang berharap beberapa efek ecchi di dalam serial ini pun tak usah khawatir karena 8Bit sudah berpengalaman dalam hal-hal fan service seperti itu. Tidakkah mereka studio yang sama yang mengadaptasi kisah Grisaia yang adalah salah satu adult Visual Novel yang paling terkenal?

Secara keseluruhan, saya merekomendasikan That Time I Got Reincarnated As a Slime hanya apabila kamu penggemar dari kisah bergenre Isekai. Sebagai kisah Isekai ia memiliki keunikan sendiri yang membuatnya berbeda dari kisah Isekai lainnya, tetapi tidak cukup berbeda untuk membuatnya sebuah tontonan layak tonton bagi mereka yang sudah bosan dengan genre ini.

Score: 7.5

Leave a Reply