Salah satu tambang emas Disney adalah mengubah kartun-kartun klasik mereka ke bentuk live-action. Bila sebelumnya dalam setahun Disney hanya merilis satu atau dua saja kartun klasik mereka dalam bentuk live-action, di tahun 2019 ini Disney tidak tanggung-tanggung merilis sampai empat kartun klasik mereka dalam bentuk live-action: tiga di bioskop dan satu nanti di layanan streaming Disney+. Sebagai pembuka deretan live-action itu adalah Dumbo yang disutradarai oleh Tim Burton yang dirilis di bulan Maret 2019. Tim Burton tentu saja adalah pionir dalam membuat film live-action seperti ini bagi Disney karena di tahun 2010 lalu ia menciptakan Alice in Wonderland yang pada saat itu menjadi satu dari sedikit film yang mampu menembus angka 1 Milyar USD di box office global (saat itu tidak lebih dari 5 film yang bisa menembus angka 1 MIlyar USD untuk box office global).

Holt Farrier pulang dari Perang Dunia I dan mendapati sirkus di mana ia biasa bekerja: Medici Brothers Circus sudah berubah total. Istri Holt sudah meninggal dunia dan dua anaknya (yang ia tinggal saat ia masih kecil) kini jauh dan asing dari dirinya. Holt juga harus menghadapi realita hidup yang baru sebab sekarang tangannya buntung sebelah akibat perang. Walhasil sosok Holt yang dulu adalah salah satu bintang sirkus sekarang harus terpinggirkan menjadi pengasuh binatang. Ditambah dengan keadaan sirkus yang masih tak menentu pasca perang, semua orang hatinya menjadi masgyul. Salah satu harapan cerah datang dari kehadiran bayi gajah baru di sirkus ini… walaupun hasilnya ternyata zonk.

Ya, bayi gajah yang baru itu adalah Dumbo. Pada awalnya semua orang berharap banyak akan keimutan Dumbo tetapi hasilnya zonk dikarenakan bentuk telinga Dumbo yang aneh – ia sangat besar dan merupakan anomali dibandingkan gajah biasanya! Hasil ini membuat Dumbo bukannya menjadi bintang sirkus tetapi malahan ditertawakan. Hanya kedua anak Holt saja yang mau menjadi teman Dumbo dan tetap menghibur si gajah ini dalam kesulitannya. Dari pengamatan mereka berdua jugalah mereka mampu menemukan bahwa telinga Dumbo juga memiliki fungsi yang ajaib, ketika dikepakkan maka Dumbo bisa terbang! Dengan atraksi si gajah terbang Dumbo, bisakah sirkus Medici Brothers Circus mencapai kejayaan mereka lagi?

Kisah dalam Dumbo live-action ini merupakan cara yang benar untuk mengadaptasi film live-action Disney. Selama ini live-action Disney saya kategorikan menjadi dua: merupakan sekuel / prekuel dari film animasinya seperti film Alice in Wonderland atau merupakan retelling yang (terlalu) faithful dari materi orisinilnya dan ini termasuk: Cinderella, Aladdin, dan The Lion King. Dumbo berani memecahkan diri dari pakem itu dan ia menjadi sebuah karya yang berbeda – kurang lebih mengingatkanku kepada The Jungle Book. Walaupun inti cerita dari Dumbo masih sama dan homage-homage lagunya pun tetap ada di film ini, Dumbo dari Tim Burton ini mengambil caranya berkisah sendiri. Bila film animasinya mengambil point-of-view dari Dumbo si gajah terbang, film live-action ini lebih berfokus kepada karakter manusia terutama pada keluarga Holt dan relasi mereka dengan anggota-anggota sirkus Medici Brothers yang lain.

Gaya khas Tim Burton dalam menyutradarai film masih terlihat di sini terutama dengan casting-casting sosok unik yang menghidupkan sirkus Medici. Set design dan latar yang menghidupkan kehidupan sirkus pun seakan-akan menjadi sesuatu yang sudah jarang bisa kita dapati di dalam dunia persinemaan jaman sekarang – terakhir setting seperti ini saya ingat diperankan oleh Robert Pattinson dalam Water for Elephants. Tim Burton pun jago menggabungkan elemen CG dan riil di dalam filmnya, menghasilkan sebuah film fantasi keluarga yang menyeluruh. Hanya satu hal yang saya sayangkan: kisah dalam Dumbo ini masih jatuh sebagai kisah yang terlalu sederhana narasinya untuk dunia perfilman modern jaman ini. Sebenarnya ini bisa saya maklumi sebab pada awalnya memang Dumbo berasal dari film animasi Disney di era 1950an dan dibandingkan film-film animasi Disney sebelumnya ia dibuat dengan budget terbatas.

Untuk deretan casting aktornya para aktor senior di film ini menghadirkan performa yang baik. Saya terutama senang sekali dengan Danny DeVito, sang aktor watak yang menghidupkan sosok Medici dengan baik. Di sisi lain saya sedikit kecewa dengan bagaimana Michael Keaton yang tampil sebagai antagonis utama film ini kok sepertinya tampil bak villain generik tanpa karisma. Mengingat Keaton bisa tampil jauh lebih mengerikan dan mengancam di Spider-man: Homecoming maka penampilannya di sini seperti kesempatan yang terbuang. Beberapa karakter dewasa lain macam Colin Farrell dan Eva Green juga tampil solid – terutama Green yang kali ini tak tampil sebagai villain psikopat yang merupakan peran pakem dia biasanya.

Secara keseluruhan Dumbo mungkin bukan film yang sesukses Aladdin maupun The Lion King, dua film live-action Disney yang lebih ‘tenar’. Tetapi untuk sebuah film remake dari versi animasi, saya jauh lebih mengapresiasi usaha Burton menghidupkan si gajah bertelinga besar ketimbang keduanya. This is a solid family movie, give it a watch.

Score: B

Leave a Reply