Gundala

Negeri ini butuh patriot.

Begitulah tagline Gundala, film pertama dari sebuah cinematic universe yang ambisius mempersatukan para superhero Indonesia di dalam jagad raya Bumi Langit. Tentu saja inspirasinya datang dari Marvel Cinematic Universe yang sukses besar di seantero dunia.

Sebelum menonton Gundala saya sudah terlebih dahulu memasang ekspektasi. Oke, ini adalah film Indonesia. Tak peduli walaupun ia digelontor dana sebanyak apapun juga, ia takkan bisa bersaing dengan film-film Hollywood dari Marvel atau DC… atau bahkan studio-studio indie karena budgetnya jelas berbeda. Saya tak berharap muluk-muluk, karena toh yang terpenting dalam sebuah film adalah kekuatan plotnya. Jangan lupa – saya sangat mencintai serial Daredevil yang praktis tak memakai efek CG apapun dan sekedar mengandalkan koreografi pertarungannya yang brutal.

Gundala diawali dengan kebrutalan. Sancaka, anak dari pegawai pabrik, harus menyaksikan ayahnya meninggal terbunuh saat sedang memperjuangkan kenaikan gaji bagi buruh-buruh yang ada. Sial bagi Sancaka tubuhnya tersambar petir. Sial kuadrat sang Ibu pergi ke kota sebelah untuk wawancara pekerjaan lantas meninggalkannya sendiri. Setelah berhari-hari menanti Ibu yang tak kunjung pulang, Sancaka pun berangkat mencoba mengadu nasib di ibu kota, bertahan hidup seorang diri. Sancaka sempat berteman dengan seorang bocah laki bernama Awang yang menolongnya tetapi lantas ia kembali terpisah dan belajar untuk hidup mandiri – tak ingin mencampuri urusan orang.

Akan tetapi nasib berbicara lain, kota Jakarta yang makin lama makin hancur membutuhkan seorang Patriot untuk menyelamatkannya. Pengkor, seorang mafia yang kebal dari hukum, sanggup mengatur hampir semua anggota legislatif negara untuk tunduk dengannya. Sancaka yang awalnya tak ingin turut akhirnya memutuskan untuk menegakkan keadilan. Bisakah ia menghentikan rencana jahat Pengkor?

Hal pertama yang mengangguku saat menonton film Gundala adalah betapa buruknya plot cerita dari film ini. Beberapa orang menilai bagian pertama dari film ini adalah bagian yang terbaik. Saya tidak menilainya demikian. Saya tidak tahu kenapa Joko Anwar sampai harus merasa menciptakan kota Jakarta yang begitu kacau dan penuh dengan violence berlebih di film ini. Masa kecil Sancaka yang digambarkan penuh penderitaan itu sangat lebai sekali. Bayangkan dalam kurun waktu 30 menit film Sancaka dikenai cobaan begini: kehilangan ayahnya, disambar petir, ditinggal ibunya (karena alasan absurd yang nantinya bakalan dijelaskan dengan seenak jidat oleh film), dihajar kumpulan preman bocah, disobek daun telinganya, sampai ketinggalan kereta. Eat your heart out, Bruce Wayne!

Memasuki bagian kedua film, saya dibawa untuk mengenali tokoh Pengkor yang saya anggap sebagai karakter terbaik di film ini, diperankan oleh Bront Palarae secara meyakinkan. Sama dengan Sancaka, Pengkor juga mengalami masa lalu yang tak kalah tragisnya, dan ia tumbuh menjadi orang yang kejam dan tak segan menghabisi orang-orang yang tak sependapat dengannya. Pengkor memiliki ide brilian untuk menghancurkan generasi anak-anak Indonesia melalui racun beras amoral. Umm… wait, what? Beras yang kalau dimakan akan membuat bayi yang lahir dari Ibu hamil yang memakannya jadi amoral – alias tak bisa membedakan baik dan buruk lagi. Umm… again, what? Sekali lagi aplaus bagi Bront Palarae sebagai aktor watak luar biasa yang bisa mengucapkan dialog-dialognya di film ini tanpa tertawa atau nyengir miris.

Klimaks dalam film ini pun semakin hancur berantakan ketika Sancaka memutuskan untuk memakai kostumnya dan mulai bergerak menghentikan rencana jahat Pengkor. Hampir sepanjang film bergulir saya masih tidak jelas dengan apa saja kekuatan Gundala… dan ini bagiku adalah miss terbesar bagi film ini. Gundala dalam komik adalah sosok yang memiliki kekuatan petir di dalam tubuhnya dan bisa lari secepat angin. Dengan kata lain gabungan dari sosok Storm dan The Flash – ditambah kemampuan bela diri ala Batman. Masalahnya di film ini saya tak pernah melihat ia menggunakan kemampuan petirnya kecuali di satu dua kesempatan dan ia tak pernah sekalipun digambarkan mampu berlari atau bergerak cepat. Walhasil setiap pertarungan yang saya lihat di film ini memakai koreografi yang sama: Sancaka (berkostum ataupun tidak berkostum) bertarung dengan pencak silat menghadapi ragam musuh yang berbeda. Sekali waktu dia harus menghadapi gerombolan preman, di lain waktu gerombolan grup pembunuh Pengkor, dan seterusnya. Sayangnya koreografi pertarungan yang begitu-begitu saja membuatku kebosanan – apalagi karena kompleksitas dan kecepatan tarung tangan kosong di film ini masih setingkat dua tingkat di bawah dwilogi The Raid.

Dan ini juga yang menjadi masalah terbesarku dengan film Gundala. Ia krisis identitas. Di satu sisi film ini berusaha tampil dark dan gritty tetapi karena digambarkan secara terlalu berlebihan hasilnya malah membuatnya ala komik. Saya tahu Jakarta itu keras tapi tidak setiap tempat ada orang dirampok juga kali bung! Dan apabila Gundala ini diperuntukkan untuk anak-anak menonton kenapa banyak sekali adegan kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak, bahkan membuat saya berjengit tak nyaman menontonnya. Plot sang villain yang begitu tolol ditambah reaksi anggota legislatif yang hebatnya bisa lebih tolol lagi sehingga menciptakan plot twist – yang sudah terbaca tapi saya tak percaya akan terjadi karena begitu tolol tapi toh akhirnya terjadi juga – membuat saya akhirnya putus asa dan menyadari bahwa secara plot tak ada apapun yang bisa diselamatkan dari film Gundala. It’s just a giant mess from start to finish.

Jadi dengan begitu banyaknya kelemahan di film Gundala, apakah ia memiliki kelebihan? Ya. Ada. Walaupun film ini tergabung dalam Jagat Sinema Bumilangit, saya menghargai Joko Anwar membuat film ini sepenuhnya stand-alone dengan hanya sedikit menampilkan cameo sosok Sri Asih-nya Pevita Pearce. Sinematografi film ini pun dilakukan dengan baik oleh Joko Anwar di mana pertarungan tangan kosong di film ini mengambil berbagai sudut pandang yang berbeda dan cukup kreatif (termasuk satu pertarungan antara Awang dan Sancaka di dalam kereta kosong). Terakhir adalah kualitas kostum dan set di film ini yang terlihat mewah. Kentara sekali film ini memang digelontori dana beberapa Milyar untuk membuatnya terlihat cukup meyakinkan dan berkelas – setidaknya untuk level film Indonesia.

Sebagai reviewer film saya pantang menjudge sebuah film buruk atau tidak sebelum menontonnya. Gundala punya potensi untuk menjadi film yang lebih dari begini. Sungguh sayang dengan plot cerita yang kacau sekacau rencana jahat Mister Blek dari Saras 008 membuat saya sadar bahwa jalan Indonesia mendapatkan kisah superhero berkualitas masih jauh. Saya belum putus asa dengan Bumi Langit… tetapi saya akan menurunkan ekspektasi serendah mungkin menonton entri berikutnya.

Score: C-

Leave a Reply