Setelah Disney mengakuisi Star Wars mereka dengan gencar mulai membuat proyek-proyek Star Wars baru. Proyek utama mereka tentu saja adalah trilogi baru yang diawali dengan The Force Awakens (atau Episode VII). Hype yang luar biasa untuk film itu tentu membuat studio Disney semakin pede dalam merilis film-film Star Wars yang baru. Rancangan LucasFilm saat itu tampak seperti ide yang brilian. Mereka akan merilis film Star Wars utama bergantian dengan spin-off yang ada. Setelah The Force Awakens di tahun 2015 mereka merilis Rogue One di tahun 2016 lantas disambung The Last Jedi di tahun 2017. Semuanya meraup untung yang luar biasa di box office… dan Disney dengan gagah berani menyiapkan proyek prekuel Solo di tahun 2018.

Sesuatu yang tidak disangka oleh Disney terjadi di tahun 2017. The Last Jedi happened. Kendati Star Wars adalah properti intelektual yang selalu mendapatkan backlash dari para fans, The Last Jedi dan Solo adalah kasus yang berbeda. Saat Star Wars Episode I: The Phantom Menace dirilis, film tersebut dicaci maki oleh para kritikus dan para fans Star Wars karena dianggap sebagai sesuatu yang merusak trilogi Episode IV – VI. Tetapi ada waktu jeda tiga tahun dari 1999 dan 2002 yang membuat para fans bisa lupa dengan kebencian mereka dan membiarkan antisipasi film baru muncul lagi. Tidak begitu dengan film Star Wars-nya Disney. Jeda antara The Last Jedi dan Solo hanya sekitar 5 bulan saja dan itu membuat amarah publik akan The Last Jedi semua ditumpahkan pada film itu. Apakah memang Solo film yang buruk atau ia hanya korban backlash dari The Last Jedi?

Bisa ditebak dari judulnya: Solo adalah cerita Star Wars yang berfokus kepada karakter Han Solo. Walaupun Han Solo yang diperankan oleh Harrison Ford sudah meninggal dalam The Force Awakens – dihabisi oleh anaknya Kylo Ren, ia masih satu dari karakter paling populer di Star Wars. Masa lalunya yang misterius sebelum bertemu Luke dan Leia membuatnya sebagai karakter yang sangat berpotensi untuk digali dalam film prekuel. Dan itulah yang dilakukan oleh film ini.

Sebagai anak muda Han Solo belajar kerasnya kehidupan di planet Corellia, planet yang berisi para sampah galaksi. Han dan Qi’ra, teman masa kecilnya, memutuskan untuk meloloskan diri dari tempat tersebut. Sayangnya sebelum hal tersebut berhasil Qi’ra lebih dulu tertangkap – menyisakan Han lolos tetapi bersumpah akan kembali ke Corellia untuk membebaskan Qi’ra. Flash forward tiga tahun kemudian Han masih saja belum berhasil kembali ke Corellia. Akan tetapi ia bertemu dengan sekelompok penyelundup yang menjanjikan Han bisa mendapatkan keuntungan melimpah bila berhasil melakukannya… dan dimulailah petualangan dari Han Solo menjadi sang pilot handal yang dikenal oleh Luke dan Obi-Wan di masa depan.

Saya tahu bahwa mayoritas orang tidak akan bisa melupakan penampilan Harrison Ford sebagai Han Solo… tetapi Alden Ehrenreich sebenarnya tidak buruk sebagai Han di sini. Melihat Han di sini saya nyaris tak mengenalinya. Maklum saja, Alden memerankan Han sebagai sosok yang sedikit angkuh dan sombong seperti halnya Han di era trilogi pertama Star Wars dulu. Bedanya Han yang ditemui oleh Luke sudah banyak makan asam garam kehidupan sedangkan Han yang ini… belum. Ia masih sosok naif yang sedikit banyak percaya dengan cinta dan melarikan diri dari kewajiban guna hidup damai di luar jangkauan Empire. Menariknya Alden juga memerankan sosok Han yang sedari muda sudah memiliki hati dan jangkar moral yang benar.

Alden bukan satu-satunya aktor yang memiliki beban berat memerankan tokoh legendaris. Satu lagi aktor yang harus memerankan tokoh legendaris lainnya adalah Donald Glover sebagai Lando muda. Kalau penampilan Alden apik maka Donald Glover secara sempurna menghidupkan Lando di layar. Melihat betapa meyakinkannya Glover membawakan Lando membuat saya kangen Billy Dee Williams cepat-cepat menghidupkan Lando kembali di Episode IX nanti!

Ada beberapa sosok lain yang muncul untuk pertama kalinya di dunia Star Wars tetapi tiga yang paling penting di antaranya adalah Qi’ra, Tobias, dan Dryden. Di antara ketiganya saya menilai bahwa Tobias Beckett yang menjadi partner dan teman dari Han adalah yang terbaik karena pembawaan dari Woody Harrelson yang begitu sempurna. Ia memerankan sosok Tobias sebagai orang yang realistis dengan kehidupannya tetapi juga sosok yang tidak bisa tidak menyukai Han muda. Qi’ra di sisi lain diperankan dengan cukup baik oleh Emilia Clarke. Saya melihat sosok Qi’ra di sini lebih dekat dengan sosok Emilia di dunia nyata ketimbang sosoknya sebagai Daenerys… and I like it. Lagipula Emilia is always a beautiful presence setiap ia muncul di layar. Satu-satunya yang kurang bagus di sini adalah Dryden dan itu bisa saya pahami. Paul Bettany tak hanya masuk di saat-saat terakhir, ia juga tampil sebagai sosok antagonis yang datar sepanjang film tanpa karisma apapun. Ironis mengingat orang mungkin akan lebih ingat antagonis cameo yang muncul di film ini ketimbang Dryden.

Saya rasa siapapun yang mengikuti berita dunia perfilman akan tahu betapa berantakannya proses produksi film ini. Solo seharusnya menjadi film yang disutradarai oleh duet Lord dan Miller tetapi karena perbedaan kreatifitas dengan Disney maka keduanya pun dipecat. Sebagai pengganti adalah sutradara old-school Ron Howard yang memiliki gaya yang sangat berbeda dengan Lord dan Miller. Perbedaan gaya keduanya ini untungnya tak muncul di film disebabkan karena Howard praktis meresyuting 70 persen dari film Lord dan Miller. Itu jugalah sebabnya kenapa tampuk kursi kesutradaraan di dalam film ini disebut menjadi milik Howard. Itu juga sebabnya budget film ini menggelembung gila-gilaan mendekati angka 300 Juta USD!

Pada akhirnya Solo: A Star Wars Story jelas bukan film Star Wars yang sedivisif The Last Jedi. Lantas kenapa film ini bisa dianggap flop di Box Office? Jawabannya sederhana: pasar sudah terlalu banyak dibanjiri oleh film Star Wars dan penonton mulai merasa jemu dengannya. Tak seperti MCU, Star Wars adalah sebuah film even yang biasa hadir tiap beberapa tahun sekali. Itulah yang membuat nilai magisnya masih ada. Dengan merilis film Star Wars setiap tahun sekali, LucasFilm terancam mengencerkan nilai magis Star Wars. Solo pun menjadi korbannya. This is still a good movie, tapi kalau kalian sudah bosan dengan Star Wars – silahkan skip saja. Tak ada yang penting menggali masa lalu dari karakter Star Wars yang sudah mati anyway.

Score: B

Leave a Reply