Apa yang diharapkan oleh seorang pengantin pada malam pertamanya? Pastinya waktu yang mesra bersama sang suami. Tetapi itu bukan sesuatu yang akan didapatkan oleh Grace ketika ia menikahi Alex, anak dari keluarga Le Domas. Mengapa? Karena keluarga Le Domas memiliki sebuah ritual tradisi yang aneh: ritual tradisi yang mengajak sang pengantin baru bermain sebuah permainan yang terpilih secara acak. Terkadang permainan itu sangat sederhana seperti bermain catur atau bermain Board Game. Akan tetapi di lain waktu permainan yang dimainkan bisa jadi sangat… berbahaya. Dan itulah permainan yang didapatkan oleh Grace. Namanya Hide and Seek.

Ritual keluarga Le Domas mengharuskan anggota keluarga ini memburu Grace dan membunuhnya sebelum subuh tiba. Grace pada awalnya menyangka ini adalah sebuah lelucon – tetapi segera menyadari keseriusan anggota keluarga itu dalam menghabisinya begitu melihat senjata-senjata sungguhan yang dipakai (ditambah dengan terbunuhnya beberapa pelayan di keluarga tersebut secara tidak sengaja). Terlepas dari suami barunya, Alex, sepertinya semua orang di keluarga Le Domas memang siap membunuhnya! Bisakah Grace meloloskan diri dan memulai kehidupan barunya dengan damai bersama Alex? Ataukah ia akan terbunuh sebelum pagi tiba? Dan apa tradisi keluarga Le Domas ini sungguhan atau sekedar omong kosong belaka?

Sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett menjadi duo sutradara yang didapuk menggarap Ready or Not. Pilihan keduanya cukup baik karena duet ini sudah berpengalaman membuat film-film horror berbau indie. Saya pertama kali kenal dengan duo ini melalui segmen film mereka di film horor antologi V/H/S, kesuksesan keduanya di film itu berlanjut dengan film Devil’s Due dan Southbound – film horor antologi lain, dan akhirnya Ready or Not. Gaya khas mereka sebagai sutradara film horor indie dan found footage masih tersisa di sini, di mana kerap mereka menggunakan gaya shakey cam saat mengambil gambar, terutama saat adegan berlari ataupun pengejaran.

Ready or Not sebenarnya tidak cocok disebut sebagai film horor / thriller murni karena skenario film ini memiliki banyak elemen komedik di dalamnya. Menyebutnya sebagai campuran antara black comedy dan thriller lebih tepat karena beberapa kali penonton dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh kelakuan-kelakuan karakter di film ini. Skenario film ini cukup self-aware di mana para karakter di dalam film ini pun mempertanyakan keabsurdan yang terjadi di malam tersebut. Kristian Bruun, yang saya kenal dari serial Orphan Black jelas menjadi scene stealer di film ini, kerap membuatku tertawa karena celetukan dan tingkah konyolnya selama film.

Walaupun skrip Ready or Not ini lumayan kuat, saya tetap merasa bahwa secara keseluruhan ia tidak mampu memikatku. Film ini memiliki satu dua plot twist di dalamnya tetapi mereka yang kerap menonton film horor / thriller rasanya sudah pasti bisa menebak twist-twist itu. Yang lebih mengecewakan lagi adalah beberapa momen yang paling mengiris hati (dengan gore dan darah yang bertebaran) sudah pernah muncul di film-film lain. Menonton film ini bagi saya terasa seperti ingat dengan film Cabin in the Woods dan Hereditary. Ada juga satu adegan yang mengingatkan saya dengan The Quiet Place – tetapi dengan efek mengejutkan yang masih selevel di bawah film tersebut. Ini sebuah film thriller yang seru-seru saja buat ditonton tapi langsung terlupakan begitu usai menontonnya. Fun, but forgettable.

Score: C+

Leave a Reply